“Kurangnya matahari, pertumbuhan tanaman jadi lambat, terus juga ya tidak berbobot,” kata Agil. Ia menggambarkan, satu rumpun sayur dengan lima helai daun yang lazimnya berbobot satu ons, kini bobotnya tak sampai separuhnya.
Bila dalam kondisi normal pakcoy dan selada dapat dipanen cepat dalam rentang 20 hingga 30 hari, kini pada usia lebih dari satu bulan pun ukurannya masih pemalu alias kecil.
”Tambah asap lagi, tambah, aduh. Tambah bikin tanaman itu kayak cungkring-cungkring [tertawa]. Cungkring-cungkring, kayak gimana tuh, kecil-kecil gitu, ya? Kurus-kuruslah, kurus-kurus,” selorohnya.
Musim panas juga membawa teror senyap berupa serangan jamur. Apabila musim hujan identik dengan jamur daun yang mudah dibasmi dengan obat semprot, musim panas justru menghadirkan pembunuh berdarah dingin yang menyerang dari dalam: jamur akar dan batang.
”Kalau di musim panas itu ke akar. Akar atau batang. Dan itu lebih parah daripada jamur yang di daun. Kalau jamur di daun kita bisa atasi, mungkin dengan semprot sesekali pakai obat jamur daun, tapi kalau di akar atau apalagi batang, batang itu yang lebih parah lagi, paling susah diatasi,” ujar Agil. Senjata ampuh jamur akar ini tak pelak berujung pada kematian tanaman dan gagal panen.
Ancaman panceklik ini lantas berdampak langsung pada rantai pasokan. Harif Hidroponik yang biasanya menjual pakcoy seharga Rp25.000 per kilogram dan selada Rp50.000 per kilogram kini terpaksa menolak pesanan karena stok di instalasi meja tanam kosong melompong.
Padahal, hasil panen mereka tak cuma mengenyangkan warga lokal di kawasan Pengansari atau pasar-pasar di Mimika, tetapi juga menjelajah hingga ke daerah pesisir, pegunungan, hingga wilayah pedalaman di Kabupaten Asmat.