Tak Ada Waktu Terbuang Sia-sia Tanpa Tujuan, Isi Dengan Berbagai Kegiatan Produktif

  Bagi pihak manajemen lapas, penyediaan wadah beraktivitas ini mempunyai fungsi psikologis yang amat krusial: memastikan hari-hari yang dilalui di dalam lapas terisi dengan kegiatan yang produktif dan membakar kejenuhan. “Prinsip dasar kami sederhana namun tegas: kami berusaha semaksimal mungkin agar tidak ada waktu luang yang terbuang sia-sia untuk bersantai tanpa tujuan,” kata Edy.

  Lebih lanjut, Kepala Lapas itu menyampaikan bahwa sasaran akhirnya dari program yang di jalankan lapas Abepura saat ini adalah untuk memberdayakan warga binaan agar memiliki bekal keterampilan konkret. Saat masa pidana selesai dan warga binaan menghirup udara bebas, keterampilan itulah yang diharapkan akan menjadi modal untuk menolong diri mereka sendiri, menopang ekonomi keluarga, dan diterima kembali oleh lingkungan masyarakat.

Baca Juga :  Siapkan Satu Bangsal, Khusus Untuk Para Caleg yang Depresi Berat

  Meski demikian, pendekatan pembinaan di Lapas Abepura tetap dibarengi dengan sikap realistis. Terkait dengan wacana unit usaha pembuatan batu tela (bata press) yang sempat dirancang, Edy secara terbuka menjelaskan hambatan di lapangan.

  Ia menambahkan, walaupun program pembinaan tidak berorientasi pada pencarian laba (profit-oriented), pertimbangan efisiensi dan beban operasional tetap harus diperhitungkan secara rasional.

   Di samping pengembangan keterampilan fisik dan pembinaan spiritual kerohanian, aspek kesehatan mental dan ruang ekspresi seni tak luput dari perhatian. Fasilitas olahraga terus diperbaiki, seperti pembenahan lapangan futsal dan voli yang kini aktif digunakan setiap sore, serta rencana pembangunan lapangan basket.

  Namun, magnet paling kuat dari ruang ekspresi di Lapas Abepura tidak lain adalah dinamika panggung seni musiknya. Publik luas sempat dibuat kagum oleh talenta para warga binaan melalui kelompok vokal dan musik Prison Acoustic sebuah grup musik lapas yang aksi panggungnya kerap diunggah dan sempat tular (viral) di platform YouTube.

Baca Juga :  Kalapas Akan Laporkan Mantan Napi ke Aparat, Dinsos Akui Keterbatasan Bantuan

   Sampai hari ini, petikan gitar dan harmonisasi suara dari Prison Acoustic masih bergaung merdu dari dalam ruang latihan lapas. Kendati demikian, grup ini tengah melintasi fase transisi yang unik: dinamika regenerasi personel.

  Bagi pihak manajemen lapas, penyediaan wadah beraktivitas ini mempunyai fungsi psikologis yang amat krusial: memastikan hari-hari yang dilalui di dalam lapas terisi dengan kegiatan yang produktif dan membakar kejenuhan. “Prinsip dasar kami sederhana namun tegas: kami berusaha semaksimal mungkin agar tidak ada waktu luang yang terbuang sia-sia untuk bersantai tanpa tujuan,” kata Edy.

  Lebih lanjut, Kepala Lapas itu menyampaikan bahwa sasaran akhirnya dari program yang di jalankan lapas Abepura saat ini adalah untuk memberdayakan warga binaan agar memiliki bekal keterampilan konkret. Saat masa pidana selesai dan warga binaan menghirup udara bebas, keterampilan itulah yang diharapkan akan menjadi modal untuk menolong diri mereka sendiri, menopang ekonomi keluarga, dan diterima kembali oleh lingkungan masyarakat.

Baca Juga :  Tarif Per Malam Naik, Keterisian Kamar Penuh Sebelum 17 Agustus

  Meski demikian, pendekatan pembinaan di Lapas Abepura tetap dibarengi dengan sikap realistis. Terkait dengan wacana unit usaha pembuatan batu tela (bata press) yang sempat dirancang, Edy secara terbuka menjelaskan hambatan di lapangan.

  Ia menambahkan, walaupun program pembinaan tidak berorientasi pada pencarian laba (profit-oriented), pertimbangan efisiensi dan beban operasional tetap harus diperhitungkan secara rasional.

   Di samping pengembangan keterampilan fisik dan pembinaan spiritual kerohanian, aspek kesehatan mental dan ruang ekspresi seni tak luput dari perhatian. Fasilitas olahraga terus diperbaiki, seperti pembenahan lapangan futsal dan voli yang kini aktif digunakan setiap sore, serta rencana pembangunan lapangan basket.

  Namun, magnet paling kuat dari ruang ekspresi di Lapas Abepura tidak lain adalah dinamika panggung seni musiknya. Publik luas sempat dibuat kagum oleh talenta para warga binaan melalui kelompok vokal dan musik Prison Acoustic sebuah grup musik lapas yang aksi panggungnya kerap diunggah dan sempat tular (viral) di platform YouTube.

Baca Juga :  50 Persen Taman Imbi Justru Tak Terpakai, Tugu Pepera Tenggelam Karena Mal

   Sampai hari ini, petikan gitar dan harmonisasi suara dari Prison Acoustic masih bergaung merdu dari dalam ruang latihan lapas. Kendati demikian, grup ini tengah melintasi fase transisi yang unik: dinamika regenerasi personel.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya