Tak Ada Waktu Terbuang Sia-sia Tanpa Tujuan, Isi Dengan Berbagai Kegiatan Produktif

Menjaga Harapan Warga Binaan Lewat Pembinaan Berbagai Ketrampilan di Lapas Abepura

Dari benih cabai yang tumbuh  di dalam galon bekas hingga nada-nada optimisme yang terus dipetik dari senar gitar, memberi harapan dan semangat bagi warga binaan di Lapas Abepura. Dengan berbagai bekal ketrampilan yang diberikan, diharapkan mereka siap kembali ke masyarakat dengan penuh percaya diri.

Laporan: Jimianus Karlodi_Jayapura

Jika diperhatikan dari luar, dinding tinggi dengan bentangan kawat duri di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Abepura terkesan menghadirkan jarak yang dingin. Namun, begitu melangkah melewati pintu besi tebal di bagian dalam, lanskap tempat ini menyajikan dinamika yang bertolak belakang.

  Tidak ada keheningan yang mencekam, yang ada justru denyut aktivitas yang riuh, aroma basah tanah perkebunan mini, hingga sayup-sayup denting petikan gitar yang menggema dari selasar.

Baca Juga :  Kerjasama Dengan Yohanes Surya, Ditargetkan Bisa Diserap 35 Ribu Anak

  Di bawah komando Kepala Lapas Kelas IIA Abepura, Edy Susetyo, lembaga pemasyarakatan ini terus berbenah. Masa pemidanaan tak lagi diposisikan sekadar sebagai tempat menjalani hukuman isolasi, melainkan diubah menjadi kawah candradimuka: sebuah ruang pembentukan karakter, pengasahan keterampilan, dan pemulihan rasa percaya diri sebelum para warga binaan kembali melangkah ke tengah masyarakat.

  Satu hal yang langsung menyita perhatian di area dalam Lapas Abepura adalah pemandangan unik di sepanjang sudut lorong dan lahan terbuka. Berbeda dengan lapas-lapas di wilayah luar Papua yang umumnya membentang di atas tanah ribuan hektar, Lapas Abepura berdiri di atas lahan tapak yang terbilang sangat terbatas. Namun, ketiadaan hamparan tanah tak menyurutkan kreativitas.

Baca Juga :  Mulai Resah, Pemalangan RSUD Abepura Diminta Segera Diselesaikan

Menjaga Harapan Warga Binaan Lewat Pembinaan Berbagai Ketrampilan di Lapas Abepura

Dari benih cabai yang tumbuh  di dalam galon bekas hingga nada-nada optimisme yang terus dipetik dari senar gitar, memberi harapan dan semangat bagi warga binaan di Lapas Abepura. Dengan berbagai bekal ketrampilan yang diberikan, diharapkan mereka siap kembali ke masyarakat dengan penuh percaya diri.

Laporan: Jimianus Karlodi_Jayapura

Jika diperhatikan dari luar, dinding tinggi dengan bentangan kawat duri di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Abepura terkesan menghadirkan jarak yang dingin. Namun, begitu melangkah melewati pintu besi tebal di bagian dalam, lanskap tempat ini menyajikan dinamika yang bertolak belakang.

  Tidak ada keheningan yang mencekam, yang ada justru denyut aktivitas yang riuh, aroma basah tanah perkebunan mini, hingga sayup-sayup denting petikan gitar yang menggema dari selasar.

Baca Juga :  4 Pilar Utama Pencegahan Penularan HIV Harus Kembali Digerakkan Secara Masif

  Di bawah komando Kepala Lapas Kelas IIA Abepura, Edy Susetyo, lembaga pemasyarakatan ini terus berbenah. Masa pemidanaan tak lagi diposisikan sekadar sebagai tempat menjalani hukuman isolasi, melainkan diubah menjadi kawah candradimuka: sebuah ruang pembentukan karakter, pengasahan keterampilan, dan pemulihan rasa percaya diri sebelum para warga binaan kembali melangkah ke tengah masyarakat.

  Satu hal yang langsung menyita perhatian di area dalam Lapas Abepura adalah pemandangan unik di sepanjang sudut lorong dan lahan terbuka. Berbeda dengan lapas-lapas di wilayah luar Papua yang umumnya membentang di atas tanah ribuan hektar, Lapas Abepura berdiri di atas lahan tapak yang terbilang sangat terbatas. Namun, ketiadaan hamparan tanah tak menyurutkan kreativitas.

Baca Juga :  Over Kapasitas, Daya Tampung WB Lapas Narkotika Jayapura akan Ditambah

Berita Terbaru

Artikel Lainnya