Waspadai Ancaman Ganda El Nino

​Keretakan pada tanah yang terbentuk selama periode kemarau menjadi celah masuknya air dalam jumlah besar saat hujan deras tiba. Akibatnya, daya ikat tanah merosot drastis dan memicu pergerakan tanah secara mendadak di kawasan-kawasan lereng yang sudah padat oleh bangunan pemukiman.

​”Bahaya longsor ini terjadi karena tanah kering dan retak saat kemarau cepat jenuh air saat hujan turun, sehingga kekuatan tanah anjlok. Kondisi ini makin rawan karena topografi terjal, lereng curam, banyak bangunan tanpa perkuatan, dan drainase yang buruk,” kata Akademisi Teknik Geologi tersebut.

​Guna memutus rantai potensi bencana tersebut, Dandy memaparkan sejumlah langkah strategis yang harus segera dieksekusi oleh pemangku kebijakan. Langkah pertama difokuskan pada penyelamatan kawasan hulu dan sumber air utama yang menjadi nadir kehidupan Kota Jayapura.

Baca Juga :  Polisi Duga Ada Unsur Perencanaan dari Pembunuhan Bocah di Merauke

​Perlindungan mutlak terhadap Pegunungan Cycloop harus disertai dengan gerakan reboisasi yang masif di area catchment area (daerah tangkapan air). Di sisi lain, tata ruang kota harus ditertibkan secara ketat dengan melarang aktivitas pembangunan di wilayah lereng dengan kemiringan ekstrem di atas 25 persen serta mewajibkan adanya dokumen analisis geoteknik pada setiap izin konstruksi.

​”Hal yang harus ditata mulai dari jaga mutlak Pegunungan Cycloop, reboisasi hulu, dan batasi kawasan tangkapan air. Lalu atur tata ruang dengan melarang bangun di lereng terjal lebih dari 25 persen, arahkan pembangunan ke wilayah datar, serta wajibkan kajian geoteknik,” tuturnya.

​Selain penataan ruang dan perlindungan alam, rekayasa teknis pada infrastruktur perkotaan juga memegang peranan krusial. Sistem drainase terpadu, pembuatan sumur resapan, hingga penyiapan cadangan air bersih dan alat pemantau pergerakan tanah harus segera dipasang di titik-titik rawan.

Baca Juga :  Faktor Cuaca, Pedagang Pasar Youtefa Sepi Pembeli

​Keretakan pada tanah yang terbentuk selama periode kemarau menjadi celah masuknya air dalam jumlah besar saat hujan deras tiba. Akibatnya, daya ikat tanah merosot drastis dan memicu pergerakan tanah secara mendadak di kawasan-kawasan lereng yang sudah padat oleh bangunan pemukiman.

​”Bahaya longsor ini terjadi karena tanah kering dan retak saat kemarau cepat jenuh air saat hujan turun, sehingga kekuatan tanah anjlok. Kondisi ini makin rawan karena topografi terjal, lereng curam, banyak bangunan tanpa perkuatan, dan drainase yang buruk,” kata Akademisi Teknik Geologi tersebut.

​Guna memutus rantai potensi bencana tersebut, Dandy memaparkan sejumlah langkah strategis yang harus segera dieksekusi oleh pemangku kebijakan. Langkah pertama difokuskan pada penyelamatan kawasan hulu dan sumber air utama yang menjadi nadir kehidupan Kota Jayapura.

Baca Juga :  Diduga Krosleting, Kerugian Ditaksir Rp 2 M

​Perlindungan mutlak terhadap Pegunungan Cycloop harus disertai dengan gerakan reboisasi yang masif di area catchment area (daerah tangkapan air). Di sisi lain, tata ruang kota harus ditertibkan secara ketat dengan melarang aktivitas pembangunan di wilayah lereng dengan kemiringan ekstrem di atas 25 persen serta mewajibkan adanya dokumen analisis geoteknik pada setiap izin konstruksi.

​”Hal yang harus ditata mulai dari jaga mutlak Pegunungan Cycloop, reboisasi hulu, dan batasi kawasan tangkapan air. Lalu atur tata ruang dengan melarang bangun di lereng terjal lebih dari 25 persen, arahkan pembangunan ke wilayah datar, serta wajibkan kajian geoteknik,” tuturnya.

​Selain penataan ruang dan perlindungan alam, rekayasa teknis pada infrastruktur perkotaan juga memegang peranan krusial. Sistem drainase terpadu, pembuatan sumur resapan, hingga penyiapan cadangan air bersih dan alat pemantau pergerakan tanah harus segera dipasang di titik-titik rawan.

Baca Juga :  BTM Tegaskan Perjuangan Belum Berakhir

Berita Terbaru

Artikel Lainnya