Mulai dari Krisis Air Hingga Risiko Tanah Longsor
JAYAPURA – Saat ini mungkin tak banyak yang memahami soal ancaman iklim yang sedang terjadi, El Nino. Bagi masyarakat awam hal ini hanya berbicara cuaca. Nantinya ada musim kemarau dan ada juga musim penghujan. Namun sejatinya berbicara El Nino tak sesederhana ini. Bahkan di negara luar kondisi ini benar-benar menyita perhatian dan ditangani serius oleh pemerintah.
Pasalnya jika terjadi dan minim kesiapan maka dampak kerusakan dan mitigasi bencananya bakal menyerap anggaran yang sangat besar. Bisa menyaingi anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) jika parah.
Bayangkan saja jika satu kota dilanda cuaca ekstrim seperti hujan es selama berbulan-bulan dan tak ada langkah antisipatif yang diambil. Sementara di kawasan lain terjadi kebakaran hebat yang membuat satu tarikan nafas terasa sangat mahal. Bagaimana dengan Kota Jayapura?. Ternyata Kota Jayapura menyimpan kerentanan geologis yang tak kalah mengerikan, salah satu diantaranya adalah ancaman tanah longsor sewaktu-hujan deras tiba-tiba mengguyur.
Perubahan cuaca ekstrem ini menuntut komitmen tegas pemerintah dan warga untuk membenahi tata ruang kota sebelum bencana ganda menghantam kawasan perbukitan hingga pemukiman. Merespon terkait dengan itu, Dosen Teknik Geologi sekaligus Sekretaris Ikatan Ahli Geologi Pengda Papua (IAGI Papua), Dandy Waromi, S.T., M.T., menegaskan bahwa fenomena cuaca ini memicu dampak berantai yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan fisik semata.
Keseimbangan antara daya dukung lingkungan dan ruang hidup masyarakat harus segera dipulihkan secara menyeluruh.
“El Nino di Jayapura sudah pasti membawa risiko seperti kekeringan air saat kemarau dan longsor saat hujan deras. Kuncinya bukan hanya pada infrastruktur, tapi penataan ruang yang disiplin melindungi hulu air, tidak membangun di lereng terjal, dan memulihkan fungsi drainase alami,” ujar Dandy Waromi saat memaparkan analisis geologi dan lingkungannya, kepada Cenderawasih Pos, Rabu (2/9).
Mulai dari Krisis Air Hingga Risiko Tanah Longsor
JAYAPURA – Saat ini mungkin tak banyak yang memahami soal ancaman iklim yang sedang terjadi, El Nino. Bagi masyarakat awam hal ini hanya berbicara cuaca. Nantinya ada musim kemarau dan ada juga musim penghujan. Namun sejatinya berbicara El Nino tak sesederhana ini. Bahkan di negara luar kondisi ini benar-benar menyita perhatian dan ditangani serius oleh pemerintah.
Pasalnya jika terjadi dan minim kesiapan maka dampak kerusakan dan mitigasi bencananya bakal menyerap anggaran yang sangat besar. Bisa menyaingi anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) jika parah.
Bayangkan saja jika satu kota dilanda cuaca ekstrim seperti hujan es selama berbulan-bulan dan tak ada langkah antisipatif yang diambil. Sementara di kawasan lain terjadi kebakaran hebat yang membuat satu tarikan nafas terasa sangat mahal. Bagaimana dengan Kota Jayapura?. Ternyata Kota Jayapura menyimpan kerentanan geologis yang tak kalah mengerikan, salah satu diantaranya adalah ancaman tanah longsor sewaktu-hujan deras tiba-tiba mengguyur.
Perubahan cuaca ekstrem ini menuntut komitmen tegas pemerintah dan warga untuk membenahi tata ruang kota sebelum bencana ganda menghantam kawasan perbukitan hingga pemukiman. Merespon terkait dengan itu, Dosen Teknik Geologi sekaligus Sekretaris Ikatan Ahli Geologi Pengda Papua (IAGI Papua), Dandy Waromi, S.T., M.T., menegaskan bahwa fenomena cuaca ini memicu dampak berantai yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan fisik semata.
Keseimbangan antara daya dukung lingkungan dan ruang hidup masyarakat harus segera dipulihkan secara menyeluruh.
“El Nino di Jayapura sudah pasti membawa risiko seperti kekeringan air saat kemarau dan longsor saat hujan deras. Kuncinya bukan hanya pada infrastruktur, tapi penataan ruang yang disiplin melindungi hulu air, tidak membangun di lereng terjal, dan memulihkan fungsi drainase alami,” ujar Dandy Waromi saat memaparkan analisis geologi dan lingkungannya, kepada Cenderawasih Pos, Rabu (2/9).