Waspadai Ancaman Ganda El Nino

​Menurut Dandy, keberhasilan mitigasi krisis lingkungan di Jayapura sangat bergantung pada seberapa jauh pemerintah dan masyarakat mampu menyelaraskan kebijakan pembangunan dengan karakter tapak lingkungannya.

Jelasnya, tanpa adanya pemulihan kawasan tangkapan air secara riil, Kota Jayapura akan selalu berada dalam posisi rentan setiap kali perubahan iklim ekstrem terjadi.

​”Keberhasilan mitigasi El Nino di Jayapura bergantung pada integrasi penataan ruang, konservasi ekosistem, dan kesiapan infrastruktur yang berjalan secara berkelanjutan,” ungkapnya menekankan pentingnya sinergi lintas sektor.

Lebih lanjut dosen di Fakultas Teknik Uncen itu menjelaskan bahwa ancaman pertama yang paling terasa bagi warga adalah penurunan ketersediaan air bersih secara drastis. Hari kering yang memanjang menyebabkan debit mata air dan sungai menyusut tajam, dipicu oleh rusaknya benteng ekologis di bagian hulu kota yang selama ini menjadi penopang utama pasokan air tanah.

Baca Juga :  Musim Kemarau Diperkirakan Mulai April

​Kondisi tersebut kian mengkhawatirkan akibat degradasi Hutan Lindung Pegunungan Cycloop. Ketika hujan deras akhirnya turun setelah periode kering, fluktuasi air yang terjadi justru tidak bisa langsung dimanfaatkan karena kualitasnya merosot tajam tergerus material sedimen dan erosi.

​”Ancaman utamanya adalah kesulitan air. Debit mata air atau sungai menurun karena hari kering memanjang. Kemudian Hutan Lindung Pegunungan Cycloop terdegradasi, yang mengakibatkan daya simpan air tanah berkurang. Serta, fluktuasi air besar dan kualitas menurun akibat sedimen,” jelas Dandy secara rinci.

​Ancaman kedua yang tidak kalah berbahaya adalah risiko tanah longsor yang mengintai kawasan pemukiman di area perbukitan. Siklus perubahan cuaca dari kering ekstrem ke hujan lebat menciptakan kondisi geologis yang sangat tidak stabil pada struktur tanah terjal di Jayapura.

Baca Juga :  Kapolresta Jayapura Kota,  Kombes Pol Gustav Urbinas

​Menurut Dandy, keberhasilan mitigasi krisis lingkungan di Jayapura sangat bergantung pada seberapa jauh pemerintah dan masyarakat mampu menyelaraskan kebijakan pembangunan dengan karakter tapak lingkungannya.

Jelasnya, tanpa adanya pemulihan kawasan tangkapan air secara riil, Kota Jayapura akan selalu berada dalam posisi rentan setiap kali perubahan iklim ekstrem terjadi.

​”Keberhasilan mitigasi El Nino di Jayapura bergantung pada integrasi penataan ruang, konservasi ekosistem, dan kesiapan infrastruktur yang berjalan secara berkelanjutan,” ungkapnya menekankan pentingnya sinergi lintas sektor.

Lebih lanjut dosen di Fakultas Teknik Uncen itu menjelaskan bahwa ancaman pertama yang paling terasa bagi warga adalah penurunan ketersediaan air bersih secara drastis. Hari kering yang memanjang menyebabkan debit mata air dan sungai menyusut tajam, dipicu oleh rusaknya benteng ekologis di bagian hulu kota yang selama ini menjadi penopang utama pasokan air tanah.

Baca Juga :  Tanaman Hias Tahan Cuaca Panas Banyak Diminati Pembeli

​Kondisi tersebut kian mengkhawatirkan akibat degradasi Hutan Lindung Pegunungan Cycloop. Ketika hujan deras akhirnya turun setelah periode kering, fluktuasi air yang terjadi justru tidak bisa langsung dimanfaatkan karena kualitasnya merosot tajam tergerus material sedimen dan erosi.

​”Ancaman utamanya adalah kesulitan air. Debit mata air atau sungai menurun karena hari kering memanjang. Kemudian Hutan Lindung Pegunungan Cycloop terdegradasi, yang mengakibatkan daya simpan air tanah berkurang. Serta, fluktuasi air besar dan kualitas menurun akibat sedimen,” jelas Dandy secara rinci.

​Ancaman kedua yang tidak kalah berbahaya adalah risiko tanah longsor yang mengintai kawasan pemukiman di area perbukitan. Siklus perubahan cuaca dari kering ekstrem ke hujan lebat menciptakan kondisi geologis yang sangat tidak stabil pada struktur tanah terjal di Jayapura.

Baca Juga :  Ratusan Massa Demo ke Kantor Pemprov Papua Pegunungan

Berita Terbaru

Artikel Lainnya