JAYAPURA – Peristiwa bentrokan antar-pelajar yang melibatkan siswa SMKN 3 Jayapura dan SMA YPPK Taruna Dharma di kawasan Kotaraja, Kamis (20/8), memantik perhatian publik. Selain melumpuhkan arus kendaraan di jalur utama, insiden ini menjadi sinyal bahaya bagi pola pembinaan karakter remaja di Kota Jayapura.
Menanggapi insiden tersebut, Ketua Komisi D DPR Kota Jayapura, Deli Lusyana Watak, menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi atensi yang sangat serius bagi pihak legislatif. Menurutnya, dampak negatif tawuran tidak hanya sebatas fisik, tetapi juga merusak masa depan generasi muda.
“Tawuran antar-pelajar kemarin itu menjadi atensi serius. Korban bukan cuma mereka yang mengalami luka fisik, tetapi juga masa depan anak-anak kita dan nama baik sekolah yang tercoreng,” ujar Deli Lusyana Watak saat memberikan keterangannya, Jumat (21/8).
Sebagai komisi yang membidangi sektor pendidikan di Kota Jayapura, Komisi D DPRK Jayapura mengeluarkan sejumlah poin penekanan utama bagi sekolah, orang tua, hingga para pelajar.
Deli meminta pihak sekolah segera memperketat pengawasan, terutama pada jam-jam rawan pulang sekolah. Guru piket, petugas keamanan (satpam), hingga pengurus OSIS didorong untuk aktif berpatroli di titik-titik yang berpotensi menjadi lokasi bentrokan.
Selain pengawasan fisik, peran Bimbingan Konseling (BK) harus dimaksimalkan kembali untuk mencari akar permasalahan. Pihaknya menemukan bahwa tawuran sering kali dipicu oleh hal-hal sepele seperti saling ejek di media sosial, sentimen geng, hingga dendam lama antar-sekolah.
JAYAPURA – Peristiwa bentrokan antar-pelajar yang melibatkan siswa SMKN 3 Jayapura dan SMA YPPK Taruna Dharma di kawasan Kotaraja, Kamis (20/8), memantik perhatian publik. Selain melumpuhkan arus kendaraan di jalur utama, insiden ini menjadi sinyal bahaya bagi pola pembinaan karakter remaja di Kota Jayapura.
Menanggapi insiden tersebut, Ketua Komisi D DPR Kota Jayapura, Deli Lusyana Watak, menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi atensi yang sangat serius bagi pihak legislatif. Menurutnya, dampak negatif tawuran tidak hanya sebatas fisik, tetapi juga merusak masa depan generasi muda.
“Tawuran antar-pelajar kemarin itu menjadi atensi serius. Korban bukan cuma mereka yang mengalami luka fisik, tetapi juga masa depan anak-anak kita dan nama baik sekolah yang tercoreng,” ujar Deli Lusyana Watak saat memberikan keterangannya, Jumat (21/8).
Sebagai komisi yang membidangi sektor pendidikan di Kota Jayapura, Komisi D DPRK Jayapura mengeluarkan sejumlah poin penekanan utama bagi sekolah, orang tua, hingga para pelajar.
Deli meminta pihak sekolah segera memperketat pengawasan, terutama pada jam-jam rawan pulang sekolah. Guru piket, petugas keamanan (satpam), hingga pengurus OSIS didorong untuk aktif berpatroli di titik-titik yang berpotensi menjadi lokasi bentrokan.
Selain pengawasan fisik, peran Bimbingan Konseling (BK) harus dimaksimalkan kembali untuk mencari akar permasalahan. Pihaknya menemukan bahwa tawuran sering kali dipicu oleh hal-hal sepele seperti saling ejek di media sosial, sentimen geng, hingga dendam lama antar-sekolah.