Giliran Perempuan Hari Ini Turun ke Jalan
JAYAPURA – Eskalasi aksi demo di Kota Jayapura beberapa hari ke depan nampaknya belum reda. Meski Senin (27/4) kemarin sempat chaos namun tak menyurutkan niat warga sipil untuk kembali turun menyuarakan hal yang menurut mereka harus diperjuangkan dan diluruskan.
Jika sebelumnya di Solidaritas Mahasiswa Papua (Somap) maka kini cukup unik karena dilakukan oleh kaum perempuan dari kelompok Suara Perempuan Papua. Dan jika tak berhalangan untuk tanggal 1 Mei (besok) juga kembali digelar aksi dengan “tuan pesta” dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Menariknya semua isu yang diusung adalah berkaitan dengan operasi militer termasuk dengan sumber daya alam.
“Untuk besok kami akan tetap turun. Semua surat pemberitahuan telah kami masukkan dan kami serahkan kepada pihak kepolisian jadi kami pikir rak tak ada masalah,” kata Iche Murib, Koordinator Suara Perempuan Papua melalui ponselnya, Rabu (29/4). Ia menjelaskan bahwa untuk aksi ini pihaknya tidak berkumpul di banyak titik seperti para pendemo sebelumnya. Para kelompok wanita ini nantinya akan langsung berkumpul di Lingkaran Abepura dan melakukan mimbar bebas.
“Lokasinya hanya di Lingkaran Abepura dan siapa saja boleh bergabung sebab yang kami suarakan bukan hanya berbicara untuk kepentingan sendiri melainkan kepentingan semua,” beber Iche. Ia menjelaskan maksudnya bahwa isu kondisi Papua saat ini sedang tidak baik-baik saja dimana aparat terus berdatangan masuk ke daerah-daerah, terjadi pengambilanpaksa lahan, kekerasan bersenjata hingga pelanggaran HAM bahkan kematian.
Kondisi ini bukan hanya dirasakan oleh penduduk asli Papua tetapi semua kalangan. “Lihat saja jika seorang suami tewas tertembak otomatis seorang ibu akan menjadi janda dan anak-anaknya menjadi yatim. Ini belum lagi jika terjadi perampasan lahan tanah adat seperti di lokasi Proyek Strategis Nasional (PSN) yang sama artinya membunuh masyarakat adat secara perlahan,” bebernya.
Jadi kata Iche dua isu sentral yang disuarakan yakni pertama soal tolak militerisme dan menolak PSN di Tanah Papua. “Kami siapkan ruang dimana rakyat yang merasa tanahnya dirampas, keluarganya dibunuh silahkan datang bererita dan sampaikan pendapat,” tambahnya.
Giliran Perempuan Hari Ini Turun ke Jalan
JAYAPURA – Eskalasi aksi demo di Kota Jayapura beberapa hari ke depan nampaknya belum reda. Meski Senin (27/4) kemarin sempat chaos namun tak menyurutkan niat warga sipil untuk kembali turun menyuarakan hal yang menurut mereka harus diperjuangkan dan diluruskan.
Jika sebelumnya di Solidaritas Mahasiswa Papua (Somap) maka kini cukup unik karena dilakukan oleh kaum perempuan dari kelompok Suara Perempuan Papua. Dan jika tak berhalangan untuk tanggal 1 Mei (besok) juga kembali digelar aksi dengan “tuan pesta” dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Menariknya semua isu yang diusung adalah berkaitan dengan operasi militer termasuk dengan sumber daya alam.
“Untuk besok kami akan tetap turun. Semua surat pemberitahuan telah kami masukkan dan kami serahkan kepada pihak kepolisian jadi kami pikir rak tak ada masalah,” kata Iche Murib, Koordinator Suara Perempuan Papua melalui ponselnya, Rabu (29/4). Ia menjelaskan bahwa untuk aksi ini pihaknya tidak berkumpul di banyak titik seperti para pendemo sebelumnya. Para kelompok wanita ini nantinya akan langsung berkumpul di Lingkaran Abepura dan melakukan mimbar bebas.
“Lokasinya hanya di Lingkaran Abepura dan siapa saja boleh bergabung sebab yang kami suarakan bukan hanya berbicara untuk kepentingan sendiri melainkan kepentingan semua,” beber Iche. Ia menjelaskan maksudnya bahwa isu kondisi Papua saat ini sedang tidak baik-baik saja dimana aparat terus berdatangan masuk ke daerah-daerah, terjadi pengambilanpaksa lahan, kekerasan bersenjata hingga pelanggaran HAM bahkan kematian.
Kondisi ini bukan hanya dirasakan oleh penduduk asli Papua tetapi semua kalangan. “Lihat saja jika seorang suami tewas tertembak otomatis seorang ibu akan menjadi janda dan anak-anaknya menjadi yatim. Ini belum lagi jika terjadi perampasan lahan tanah adat seperti di lokasi Proyek Strategis Nasional (PSN) yang sama artinya membunuh masyarakat adat secara perlahan,” bebernya.
Jadi kata Iche dua isu sentral yang disuarakan yakni pertama soal tolak militerisme dan menolak PSN di Tanah Papua. “Kami siapkan ruang dimana rakyat yang merasa tanahnya dirampas, keluarganya dibunuh silahkan datang bererita dan sampaikan pendapat,” tambahnya.