Dikatakan kali ini giliran perempuan yang akan bersuara mengingat selama ini perempuan dan anak adalah pihak yang paling dirugikan dari adanya konflik bersenjata.
Parahnya lagi jika sudah membabibuta maka aparat juga tidak lagi bisa membedakan mana masyarakat sipil dan mana masyatakat sipil yang memiliki senjata. “Kami turun karena sudah lama dibungkam dan sebenarnya kami bisa sampaikan ditempat yang layak seperti MRP dan DPR tapi selama ini ruang itu kan tidak dibuka sehingga satu-satunya ya turun di jalan. Kami tak ingin terus menerus ada korban berjatuhan, hati perempuan siapa yang anaknya dibunuh, suaminya ditembak dan ia diam saja,” paparnya.
Jadi Iche menyatakan bahwa aksi ini menjadi akumulasi situasi yang sudah terlalu lama terjadi mulai dari tahun 1961 hinggs 2026 ini militer terus berdatangan secara masive jumlahnya tidak pernah berkurang. Iapun berharap negara memiliki niat baik untuk tidak lagi memasang militer di Tanah Papua yang akhirnya harus ada yang jadi korban. “Sekali lagi kami ingin menyuarakan sebuah ketidakadilan yang selama ini memang dibungkam dan mungkin inilah saatnya,” imbuhnya.
Disinggung jika situasi pecah, Iche menyebut bahwa aksi yang dilakukan adalah demo damai sehingga tidak membayangkan jika akhirnya pecah. Begitu juga jika DPR akhirnya menemui mereka di lapangan. “Semua situasional nanti kita lihat saja seperti apa. Lalu dari kelompok mana saja yang akan terlibat ini kami belum tahu tapi yang jelas komunikasi dan konsolidasi sudah dilakukan, tinggal apakah mau bergabung atau tidak silahkan saja. Apakah mahasiswa atau KNPB jika ingin gabung saya pikir tak masalah,” tutupnya. (*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Dikatakan kali ini giliran perempuan yang akan bersuara mengingat selama ini perempuan dan anak adalah pihak yang paling dirugikan dari adanya konflik bersenjata.
Parahnya lagi jika sudah membabibuta maka aparat juga tidak lagi bisa membedakan mana masyarakat sipil dan mana masyatakat sipil yang memiliki senjata. “Kami turun karena sudah lama dibungkam dan sebenarnya kami bisa sampaikan ditempat yang layak seperti MRP dan DPR tapi selama ini ruang itu kan tidak dibuka sehingga satu-satunya ya turun di jalan. Kami tak ingin terus menerus ada korban berjatuhan, hati perempuan siapa yang anaknya dibunuh, suaminya ditembak dan ia diam saja,” paparnya.
Jadi Iche menyatakan bahwa aksi ini menjadi akumulasi situasi yang sudah terlalu lama terjadi mulai dari tahun 1961 hinggs 2026 ini militer terus berdatangan secara masive jumlahnya tidak pernah berkurang. Iapun berharap negara memiliki niat baik untuk tidak lagi memasang militer di Tanah Papua yang akhirnya harus ada yang jadi korban. “Sekali lagi kami ingin menyuarakan sebuah ketidakadilan yang selama ini memang dibungkam dan mungkin inilah saatnya,” imbuhnya.
Disinggung jika situasi pecah, Iche menyebut bahwa aksi yang dilakukan adalah demo damai sehingga tidak membayangkan jika akhirnya pecah. Begitu juga jika DPR akhirnya menemui mereka di lapangan. “Semua situasional nanti kita lihat saja seperti apa. Lalu dari kelompok mana saja yang akan terlibat ini kami belum tahu tapi yang jelas komunikasi dan konsolidasi sudah dilakukan, tinggal apakah mau bergabung atau tidak silahkan saja. Apakah mahasiswa atau KNPB jika ingin gabung saya pikir tak masalah,” tutupnya. (*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q