BEM UI, ULM dan Masyarakat Sipil Kritisi Kebakaran Hutan Kalimantan

JAKARTA – Aliansi mahasiswa yang terdiri dari BEM UI, BEM ULM, GMNI, KHMDI, Aksi Kamisan Kalsel, dan elemen masyarakat sipil menggelar Aksi Mimbar Bebas Rakyat Kalimantan di Bundaran Kayu Tangi, Banjarmasin pada Jumat (16/10) pukul 07.30 WITA. Aksi ini dilakukan guna menuntut penanganan darurat atas bencana kebakaran hutan dan lahan serta krisis energi yang melumpuhkan aktivitas warga. Aksi bersama ini dilatarbelakangi oleh kondisi darurat yang makin memburuk di Kalimantan Selatan.

Di mana kobaran api kian meluas hingga mendekati pemukiman warga dan memicu kelumpuhan aktivitas harian. Kebakaran hutan tidak hanya merusak ekosistem hutan, tetapi juga merambat mendekati kawasan pemukiman. Penderitaan warga makin meluas akibat pemadaman listrik yang terjadi berulang kali tanpa kepastian jadwal pemulihan. Tak berhenti di situ, krisis air bersih melanda wilayah-wilayah terdampak kekeringan.

Baca Juga :  Harga Minyak Tanah Bersubsidi di Pengecer Semakin Tak Masuk Akal

Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) pun memicu antrean panjang kendaraan yang berujung pada kelumpuhan aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan menegaskan situasi darurat yang dialami warga Kalimantan saat ini bukanlah sekadar bencana alam biasa. Melainkan cerminan dari kegagalan sistematis dalam pemenuhan hak-hak dasar warga negara.

“Setiap malam, langit di atas Kalimantan memerah. Bukan karena senja, melainkan karena kobaran kebakaran hutan dan lahan yang tak kunjung padam, bahkan kini merambat hingga ke tepi pemukiman warga,” ujar Yatalathof dalam keterangannya pada Kamis (15/10). Ia menambahkan, jalur-jalur diplomasi dan komunikasi resmi yang selama ini ditempuh tidak membuah hasil signifikan di lapangan.

Baca Juga :  Warga Yahukimo Pertanyakan Kuota BBM Subsidi

“Kami telah menunggu. Telah menyampaikan lewat jalur-jalur resmi. Hasilnya nihil. Karhutla masih terjadi tiap malam. Listrik masih mati. Air masih langka. BBM masih tak ada. Maka hari ini tidak ada kata untuk diam karena diam hanya melanggengkan penindasan,” tegasnya.

JAKARTA – Aliansi mahasiswa yang terdiri dari BEM UI, BEM ULM, GMNI, KHMDI, Aksi Kamisan Kalsel, dan elemen masyarakat sipil menggelar Aksi Mimbar Bebas Rakyat Kalimantan di Bundaran Kayu Tangi, Banjarmasin pada Jumat (16/10) pukul 07.30 WITA. Aksi ini dilakukan guna menuntut penanganan darurat atas bencana kebakaran hutan dan lahan serta krisis energi yang melumpuhkan aktivitas warga. Aksi bersama ini dilatarbelakangi oleh kondisi darurat yang makin memburuk di Kalimantan Selatan.

Di mana kobaran api kian meluas hingga mendekati pemukiman warga dan memicu kelumpuhan aktivitas harian. Kebakaran hutan tidak hanya merusak ekosistem hutan, tetapi juga merambat mendekati kawasan pemukiman. Penderitaan warga makin meluas akibat pemadaman listrik yang terjadi berulang kali tanpa kepastian jadwal pemulihan. Tak berhenti di situ, krisis air bersih melanda wilayah-wilayah terdampak kekeringan.

Baca Juga :  Harga Pertamax Dikabarkan Naik Mulai Besok

Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) pun memicu antrean panjang kendaraan yang berujung pada kelumpuhan aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan menegaskan situasi darurat yang dialami warga Kalimantan saat ini bukanlah sekadar bencana alam biasa. Melainkan cerminan dari kegagalan sistematis dalam pemenuhan hak-hak dasar warga negara.

“Setiap malam, langit di atas Kalimantan memerah. Bukan karena senja, melainkan karena kobaran kebakaran hutan dan lahan yang tak kunjung padam, bahkan kini merambat hingga ke tepi pemukiman warga,” ujar Yatalathof dalam keterangannya pada Kamis (15/10). Ia menambahkan, jalur-jalur diplomasi dan komunikasi resmi yang selama ini ditempuh tidak membuah hasil signifikan di lapangan.

Baca Juga :  446.359 Pasangan Bercerai, Menag Nasaruddin Umar Usulkan Revisi UU Perkawinan

“Kami telah menunggu. Telah menyampaikan lewat jalur-jalur resmi. Hasilnya nihil. Karhutla masih terjadi tiap malam. Listrik masih mati. Air masih langka. BBM masih tak ada. Maka hari ini tidak ada kata untuk diam karena diam hanya melanggengkan penindasan,” tegasnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya