Selain itu, Indonesia juga perlu memastikan seluruh pasien yang telah terdiagnosis segera mendapatkan terapi ARV dan bertahan dalam pengobatan jangka panjang. Langkah ini menjadi kunci untuk mencapai target global 95-95-95 pada tahun 2030, yaitu 95 persen mengetahui status HIV, 95 persen mendapatkan pengobatan, dan 95 persen mencapai supresi virus.
Budi juga mendorong pemanfaatan metode pencegahan modern seperti Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) bagi kelompok berisiko tinggi. “Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa PrEP mampu menurunkan risiko infeksi HIV secara signifikan ketika digunakan secara konsisten. Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendekatan konvensional jika ingin mengejar target eliminasi AIDS pada 2030,” katanya.
Menurutnya, Indonesia sebenarnya telah memiliki modal yang cukup untuk mengendalikan epidemi HIV, mulai dari ketersediaan obat, tenaga kesehatan, hingga dukungan ilmu pengetahuan. Yang dibutuhkan saat ini adalah kesadaran bersama bahwa HIV merupakan persoalan kesehatan publik yang harus dihadapi secara terbuka.
“Indonesia memiliki obat, tenaga kesehatan, dan pengetahuan ilmiah yang cukup untuk mengendalikan epidemi ini. Yang masih kurang adalah keberanian untuk menghadapi kenyataan bahwa HIV bukan lagi masalah kelompok tertentu. Ia adalah masalah kesehatan publik yang menyangkut masa depan jutaan penduduk usia produktif,” pungkas Budi. (mus/gun)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Selain itu, Indonesia juga perlu memastikan seluruh pasien yang telah terdiagnosis segera mendapatkan terapi ARV dan bertahan dalam pengobatan jangka panjang. Langkah ini menjadi kunci untuk mencapai target global 95-95-95 pada tahun 2030, yaitu 95 persen mengetahui status HIV, 95 persen mendapatkan pengobatan, dan 95 persen mencapai supresi virus.
Budi juga mendorong pemanfaatan metode pencegahan modern seperti Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) bagi kelompok berisiko tinggi. “Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa PrEP mampu menurunkan risiko infeksi HIV secara signifikan ketika digunakan secara konsisten. Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendekatan konvensional jika ingin mengejar target eliminasi AIDS pada 2030,” katanya.
Menurutnya, Indonesia sebenarnya telah memiliki modal yang cukup untuk mengendalikan epidemi HIV, mulai dari ketersediaan obat, tenaga kesehatan, hingga dukungan ilmu pengetahuan. Yang dibutuhkan saat ini adalah kesadaran bersama bahwa HIV merupakan persoalan kesehatan publik yang harus dihadapi secara terbuka.
“Indonesia memiliki obat, tenaga kesehatan, dan pengetahuan ilmiah yang cukup untuk mengendalikan epidemi ini. Yang masih kurang adalah keberanian untuk menghadapi kenyataan bahwa HIV bukan lagi masalah kelompok tertentu. Ia adalah masalah kesehatan publik yang menyangkut masa depan jutaan penduduk usia produktif,” pungkas Budi. (mus/gun)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q