Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin dan menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi, namun tidak melupakan tanah kelahirannya.
“Pergilah melihat dunia, kuasailah ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi jangan pernah lupa pulang. Kampung ini membutuhkan kalian, tanah ini menunggu kalian, dan budaya ini harus diteruskan oleh kalian,” katanya.
Dalam kesempatan itu, BTM menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak sebatas mengenakan pakaian adat atau menampilkan kesenian tradisional. Lebih dari itu, budaya adalah cara menghormati orang tua, menjaga persaudaraan, melindungi tanah adat, menjaga Danau Sentani, serta merawat hutan dan lingkungan. “Kalau tarian masih ada tetapi persaudaraan hilang, kalau rumah adat masih berdiri tetapi anak-anak saling membenci, maka yang hilang bukan tariannya, melainkan jiwa budayanya,” tuturnya.
Menurut BTM, pembangunan yang berhasil bukan hanya menghadirkan infrastruktur, tetapi juga mampu meningkatkan martabat masyarakat serta menjaga identitas budaya. Ia juga menjelaskan alasan kegiatan tersebut dinamakan Pesta Rakyat, bukan festival budaya. Menurutnya, pesta adalah milik semua orang tanpa memandang perbedaan.
Kepada generasi muda, BTM berpesan agar mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budayanya.
“Kalian boleh menjadi dokter, guru, pengusaha, pendeta, prajurit, polisi, pejabat, bahkan pemimpin bangsa. Tetapi jangan pernah malu mengatakan, saya anak Sentani, saya anak Tabi. Identitas bukan beban, melainkan kehormatan,” pesannya. (rel/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOSĀ https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Ā UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q