Wagub: Ketahanan Pangan Tetap Kami Perjuangkan
MERAUKE – Stok beras di Merauke, Papua Selatan, mulai mengalami penurunan sejak Agustus 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi kemarau panjang yang membuat sebagian besar petani kesulitan mengolah lahan sawah akibat keterbatasan air. Bahkan, Perum Bulog Merauke harus mendatangkan beras dari luar Merauke sebanyak 5.000 ton untuk memenuhi kebutuhan ASN dan TNI Polri dalam beberapa bulan kedepan.
Wakil Gubernur Papua Selatan Paskalis Imadawa mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan, khususnya untuk komoditas beras.
“Pada dasarnya memang ketahanan pangan, khususnya beras, itu cadangannya berkurang. Mulai masuk bulan Agustus kemarin memang sudah mengalami kekurangan,” kata Paskalis Imadawa kepada wartawan di Merauke, Rabu (23/9).
Menurutnya, penurunan stok beras tersebut tidak terlepas dari dampak kemarau yang berlangsung cukup panjang. Kondisi semakin sulit karena sebagian besar lahan persawahan di Merauke, masih mengandalkan sawah tadah hujan.
“Rata-rata sawah di sini adalah sawah tadahan hujan. Jadi tidak ada jaringan irigasi, tidak ada bendungan,” ujarnya.
Ketiadaan jaringan irigasi membuat petani sangat bergantung pada curah hujan. Ketika kemarau berlangsung panjang dan sumber air mulai mengering, petani tidak dapat mengolah lahan secara optimal. Sebaliknya, saat musim hujan, air melimpah bahkan bisa menjadi bencana bagi petani. Â
Wagub: Ketahanan Pangan Tetap Kami Perjuangkan
MERAUKE – Stok beras di Merauke, Papua Selatan, mulai mengalami penurunan sejak Agustus 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi kemarau panjang yang membuat sebagian besar petani kesulitan mengolah lahan sawah akibat keterbatasan air. Bahkan, Perum Bulog Merauke harus mendatangkan beras dari luar Merauke sebanyak 5.000 ton untuk memenuhi kebutuhan ASN dan TNI Polri dalam beberapa bulan kedepan.
Wakil Gubernur Papua Selatan Paskalis Imadawa mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan, khususnya untuk komoditas beras.
“Pada dasarnya memang ketahanan pangan, khususnya beras, itu cadangannya berkurang. Mulai masuk bulan Agustus kemarin memang sudah mengalami kekurangan,” kata Paskalis Imadawa kepada wartawan di Merauke, Rabu (23/9).
Menurutnya, penurunan stok beras tersebut tidak terlepas dari dampak kemarau yang berlangsung cukup panjang. Kondisi semakin sulit karena sebagian besar lahan persawahan di Merauke, masih mengandalkan sawah tadah hujan.
“Rata-rata sawah di sini adalah sawah tadahan hujan. Jadi tidak ada jaringan irigasi, tidak ada bendungan,” ujarnya.
Ketiadaan jaringan irigasi membuat petani sangat bergantung pada curah hujan. Ketika kemarau berlangsung panjang dan sumber air mulai mengering, petani tidak dapat mengolah lahan secara optimal. Sebaliknya, saat musim hujan, air melimpah bahkan bisa menjadi bencana bagi petani. Â