Dinkes Lanny Jaya Turun Kirimkan Tim Ke 3 Distrik Yang Terdampak Hujan Es

WAMENA Dampak hujan es yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lanny Jaya mulai menunjukkan persoalan serius di bidang kesehatan dan ketahanan pangan. Hasil pelayanan langsung di lapangan menemukan berbagai keluhan kesehatan masyarakat di tiga distrik terdampak, yakni Kuyawage, Goa Baliem, dan Wano Barat.

Kepala Dinas Kesehatan Lanny Jaya, Niel Yigibalom, SKM., M.Si., menyampaikan kondisi tersebut dalam rapat bersama Bupati Lanny Jaya Aletinus Yigibalom, OPD terkait, serta unsur DPRK Lanny Jaya, dimana sudah ada tim kesehatan yang diterjunkan selama lebih dari dua minggu telah menjangkau kampung-kampung di tiga distrik terdampak. Tim berjumlah sekitar 15 orang, didukung tenaga kesehatan dari puskesmas di wilayah masing-masing.

Baca Juga :  Tiga Hari Jelang Natal, Harga Pangan di Papua Belum Picu Inflasi

“Dari pelayanan dan pemeriksaan langsung, ditemukan sejumlah keluhan kesehatan masyarakat, antara lain diare, ISPA, nyeri otot (mialgia), kecacingan, nyeri punggung bagian bawah, skabies, sakit kepala, hingga hipertensi.”ungkapnya Jumat (25/9) di Wamena

Menurutnya, setelah tim masuk dan melakukan evaluasi setelah kembali maka Dinas kesehatan Lanny Jaya merencanakan untuk kembali mengirimkan tim masuk ke wilayah -wilayah yang terdampak pada Oktober dan Desember mendatang,  sebab sampai dengan saat ini  masih dalam keadaan musim kemarau panjang dan kekeringan hingga menimbulkan ancaman gagal panen.

“Selain persoalan kesehatan, kami juga mengkhawatirkan dampak bencana terhadap kehidupan masyarakat dalam jangka panjang, kemarau panjang yang disertai hujan es telah merusak sejumlah tanaman pertanian dan perkebunan masyarakat,”jelasnya

Baca Juga :  Manajemen RSUD Yowari Siap Benahi IGD dalam Waktu Satu Bulan

Kata Niel Yigibalom, Kondisi tersebut menyebabkan gagal panen dan menurunnya ketersediaan pangan lokal. Jika tidak segera mendapat dukungan, persoalan ini dikhawatirkan masih dirasakan masyarakat hingga awal 2027, dan dari kekeringan bahan makanan ini nantinya akan memicu gangguan kesehatan lagi bagi masyarakat.

“Pangan lokal sudah tidak ada lagi, karena itu kebutuhan pendukung harus terus ditopang pemerintah daerah, jangan sampai ada penyakit lain lagi yang timbul karena kekurangan bahan makanan,” katanya.

WAMENA Dampak hujan es yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lanny Jaya mulai menunjukkan persoalan serius di bidang kesehatan dan ketahanan pangan. Hasil pelayanan langsung di lapangan menemukan berbagai keluhan kesehatan masyarakat di tiga distrik terdampak, yakni Kuyawage, Goa Baliem, dan Wano Barat.

Kepala Dinas Kesehatan Lanny Jaya, Niel Yigibalom, SKM., M.Si., menyampaikan kondisi tersebut dalam rapat bersama Bupati Lanny Jaya Aletinus Yigibalom, OPD terkait, serta unsur DPRK Lanny Jaya, dimana sudah ada tim kesehatan yang diterjunkan selama lebih dari dua minggu telah menjangkau kampung-kampung di tiga distrik terdampak. Tim berjumlah sekitar 15 orang, didukung tenaga kesehatan dari puskesmas di wilayah masing-masing.

Baca Juga :  Merauke Dilanda Cuaca Ekstrim, BMKG Keluarkan Peringatan Dini

“Dari pelayanan dan pemeriksaan langsung, ditemukan sejumlah keluhan kesehatan masyarakat, antara lain diare, ISPA, nyeri otot (mialgia), kecacingan, nyeri punggung bagian bawah, skabies, sakit kepala, hingga hipertensi.”ungkapnya Jumat (25/9) di Wamena

Menurutnya, setelah tim masuk dan melakukan evaluasi setelah kembali maka Dinas kesehatan Lanny Jaya merencanakan untuk kembali mengirimkan tim masuk ke wilayah -wilayah yang terdampak pada Oktober dan Desember mendatang,  sebab sampai dengan saat ini  masih dalam keadaan musim kemarau panjang dan kekeringan hingga menimbulkan ancaman gagal panen.

“Selain persoalan kesehatan, kami juga mengkhawatirkan dampak bencana terhadap kehidupan masyarakat dalam jangka panjang, kemarau panjang yang disertai hujan es telah merusak sejumlah tanaman pertanian dan perkebunan masyarakat,”jelasnya

Baca Juga :  Komis IV DPRP Minta Gubernur Tegur Kadis PUPR

Kata Niel Yigibalom, Kondisi tersebut menyebabkan gagal panen dan menurunnya ketersediaan pangan lokal. Jika tidak segera mendapat dukungan, persoalan ini dikhawatirkan masih dirasakan masyarakat hingga awal 2027, dan dari kekeringan bahan makanan ini nantinya akan memicu gangguan kesehatan lagi bagi masyarakat.

“Pangan lokal sudah tidak ada lagi, karena itu kebutuhan pendukung harus terus ditopang pemerintah daerah, jangan sampai ada penyakit lain lagi yang timbul karena kekurangan bahan makanan,” katanya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya