Kalimat itu disampaikan sederhana. Namun di baliknya ada beban seorang kepala keluarga yang setiap hari harus memastikan dapur rumah tetap mengepul dan pendidikan anak-anaknya tetap berjalan.
Dari pekerjaan berat yang dilakoninya selama ini, Ortis menyimpan satu harapan sederhana. Ia tidak ingin anak-anaknya menjalani kehidupan yang sama seperti dirinya. Bukan karena ia malu menjadi TKBM. Justru sebaliknya, ia bersyukur pekerjaan tersebut telah membuat keluarganya bertahan hingga hari ini.
Tetapi ia ingin perjuangannya menjadi jalan bagi anak-anaknya untuk memiliki masa depan yang berbeda. “Saya itu punya harapan anak tetap jadi manusia. Jangan seperti Bapak, cukup Bapak saja. Biar mau jadi polisi, tentara, suster, yang penting jangan seperti saya,” katanya sembari mengusap air mata.
Kalimat itu menjadi salah satu harapan terbesar Ortis. Di balik punggung yang setiap hari memikul puluhan hingga ratusan kilogram barang, ada seorang ayah yang sedang memikul harapan tiga anaknya.
Bekerja sebagai TKBM bukan pekerjaan ringan. Saat masih berusia belasan hingga 20-an tahun, mengangkat beban berat terasa seperti hal biasa bagi Ortis. Namun memasuki usia 30 tahun ke atas, tubuh mulai memberikan tanda.
Rasa nyeri di bagian tulang belakang mulai sering dirasakan. Tidak jarang ia harus mengonsumsi obat agar bisa kembali beraktivitas. Tetapi rasa sakit itu tidak serta-merta membuatnya berhenti. Sebab ada tiga anak yang menunggu di rumah.
“Kalau tidak demikian, anak istri mau makan apa. Saya bekerja hanya untuk menghidupi keluarga saya. Kalau untuk diri saya sendiri mungkin saya akan jadi tukang mabuk, tapi karena ada masa depan yang harus saya usahakan,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Kalimat itu disampaikan sederhana. Namun di baliknya ada beban seorang kepala keluarga yang setiap hari harus memastikan dapur rumah tetap mengepul dan pendidikan anak-anaknya tetap berjalan.
Dari pekerjaan berat yang dilakoninya selama ini, Ortis menyimpan satu harapan sederhana. Ia tidak ingin anak-anaknya menjalani kehidupan yang sama seperti dirinya. Bukan karena ia malu menjadi TKBM. Justru sebaliknya, ia bersyukur pekerjaan tersebut telah membuat keluarganya bertahan hingga hari ini.
Tetapi ia ingin perjuangannya menjadi jalan bagi anak-anaknya untuk memiliki masa depan yang berbeda. “Saya itu punya harapan anak tetap jadi manusia. Jangan seperti Bapak, cukup Bapak saja. Biar mau jadi polisi, tentara, suster, yang penting jangan seperti saya,” katanya sembari mengusap air mata.
Kalimat itu menjadi salah satu harapan terbesar Ortis. Di balik punggung yang setiap hari memikul puluhan hingga ratusan kilogram barang, ada seorang ayah yang sedang memikul harapan tiga anaknya.
Bekerja sebagai TKBM bukan pekerjaan ringan. Saat masih berusia belasan hingga 20-an tahun, mengangkat beban berat terasa seperti hal biasa bagi Ortis. Namun memasuki usia 30 tahun ke atas, tubuh mulai memberikan tanda.
Rasa nyeri di bagian tulang belakang mulai sering dirasakan. Tidak jarang ia harus mengonsumsi obat agar bisa kembali beraktivitas. Tetapi rasa sakit itu tidak serta-merta membuatnya berhenti. Sebab ada tiga anak yang menunggu di rumah.
“Kalau tidak demikian, anak istri mau makan apa. Saya bekerja hanya untuk menghidupi keluarga saya. Kalau untuk diri saya sendiri mungkin saya akan jadi tukang mabuk, tapi karena ada masa depan yang harus saya usahakan,” katanya dengan mata berkaca-kaca.