Sementara untuk kapal perintis, tarifnya jauh lebih kecil. Sekali angkat, seorang porter bisa menerima sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, tergantung jumlah barang dan kemampuan penumpang.
Di antara para porter yang sibuk menawarkan jasa pagi itu, ada Ortis Asinggau. Usianya 39 tahun. Hampir 25 tahun hidupnya dihabiskan di lingkungan pelabuhan.
Ortis mengenal kerasnya pekerjaan TKBM sejak berusia 14 tahun. Saat anak-anak seusianya mungkin masih menikmati masa sekolah dan bermain, Ortis sudah mulai belajar bagaimana mengangkat barang dan membawa pulang uang untuk kebutuhan hidup.
Kini, setelah hampir seperempat abad, pelabuhan sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Dari belum menikah hingga kini memiliki tiga orang anak, pekerjaan sebagai TKBM menjadi sumber penghidupannya.
Anak pertamanya kini duduk di kelas III SMA. Anak keduanya duduk di kelas IV SD. Sementara anak ketiganya baru berusia tiga bulan. Setiap kapal dijadwalkan masuk, Ortis dan rekan-rekannya sudah bersiap. Tidak peduli pagi masih gelap, tubuh lelah atau kapal mengalami keterlambatan. Mereka tetap menunggu.
Sebab bagi Ortis, tidak bekerja berarti tidak ada uang yang dibawa pulang, berarti tidak ada dapur yang menyala, tidak ada ekonomi yang berjalan, bahkan biaya hidup pun sulit. “Tidak ada istirahat. Kalau tidak kerja, anak istri makan apa. Saya punya anak tiga. Yang pertama SMA kelas 3, yang kedua SD kelas 4, yang ketiga baru tiga bulan,” tuturnya.
Sementara untuk kapal perintis, tarifnya jauh lebih kecil. Sekali angkat, seorang porter bisa menerima sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, tergantung jumlah barang dan kemampuan penumpang.
Di antara para porter yang sibuk menawarkan jasa pagi itu, ada Ortis Asinggau. Usianya 39 tahun. Hampir 25 tahun hidupnya dihabiskan di lingkungan pelabuhan.
Ortis mengenal kerasnya pekerjaan TKBM sejak berusia 14 tahun. Saat anak-anak seusianya mungkin masih menikmati masa sekolah dan bermain, Ortis sudah mulai belajar bagaimana mengangkat barang dan membawa pulang uang untuk kebutuhan hidup.
Kini, setelah hampir seperempat abad, pelabuhan sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Dari belum menikah hingga kini memiliki tiga orang anak, pekerjaan sebagai TKBM menjadi sumber penghidupannya.
Anak pertamanya kini duduk di kelas III SMA. Anak keduanya duduk di kelas IV SD. Sementara anak ketiganya baru berusia tiga bulan. Setiap kapal dijadwalkan masuk, Ortis dan rekan-rekannya sudah bersiap. Tidak peduli pagi masih gelap, tubuh lelah atau kapal mengalami keterlambatan. Mereka tetap menunggu.
Sebab bagi Ortis, tidak bekerja berarti tidak ada uang yang dibawa pulang, berarti tidak ada dapur yang menyala, tidak ada ekonomi yang berjalan, bahkan biaya hidup pun sulit. “Tidak ada istirahat. Kalau tidak kerja, anak istri makan apa. Saya punya anak tiga. Yang pertama SMA kelas 3, yang kedua SD kelas 4, yang ketiga baru tiga bulan,” tuturnya.