“Sekarang cari satu rit (tarikan) penuh saja susahnya setengah mati. Kita bisa mengantre berjam-jam di dalam terminal ini hanya untuk menunggu kursi mobil terisi penuh,” ucap Saka (50) salah seorang sopir sambil membersihkan kaca spion mobilnya yang mulai kusam.
Kehadiran transportasi berbasis aplikasi online yang langsung menjemput di depan pagar rumah, ditambah menjamurnya kepemilikan kendaraan pribadi, perlahan tapi pasti menggeser peran Terminal Waena Expo. Terminal yang dulunya menjadi tempat transit wajib yang padat merayap, kini lebih sering beralih fungsi menjadi “tempat parkir massal” bagi para sopir yang kehabisan strategi mencari penumpang di jalanan.
Dari pantauan Cenderawasih Pos, secara infrastruktur, Terminal Waena Expo sebenarnya memiliki fasilitas yang mumpuni. Area parkir yang luas, jalur masuk-keluar yang tertata, serta ruang tunggu panjang yang mampu melindungi penumpang dari terik matahari Jayapura yang menyengat.
Namun kemegahan fisik ini terasa sunyi dari esensinya. Ketika regulasi retribusi mulai melonggar dan tidak lagi dipungut secara ketat demi meringankan beban para sopir, terminal ini praktis hanya menjadi saksi bisu perjuangan bertahan hidup para pelaku transportasi konvensional.
Para sopir tak lagi sekadar berkejaran dengan setoran, melainkan berkejaran dengan waktu agar moda transportasi sejarah kota ini tidak punah digilas zaman. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q