Tak Lagi Sibuk Kejar Target Retribusi, Hanya Atur Angkot Supaya Tertib dan Rapi

Hilangnya fungsi pemungutan uang seolah memangkas separuh dari beban kerja administratif tradisional terminal. Kini, tugas utama barisan pegawai yang melimpah tersebut bertumpu pada satu mandat krusial yang tersisa yakni manajemen arus kendaraan. Setiap hari, para petugas berbaju dinas disebar ke titik-titik strategis untuk mengatur keluar masuknya kendaraan, mencegah taksi mengetem terlalu lama di pintu keluar yang memicu kemacetan di jalan utama Waena, serta memastikan area parkir dalam terminal tetap tertata.

Tugas ini terdengar sederhana, namun menjadi sangat menantang karena mereka harus mengelola psikologi para sopir konvensional yang kerap kali frustrasi akibat sepinya penumpang. Menjaga ritme keluar-masuk kendaraan agar adil bagi semua sopir menjadi seni tersendiri yang kini ditekuni para pegawai.

Meski manajemen lalu lintas berjalan baik, surplus pegawai di tengah minimnya fungsi pemungutan retribusi tetap memunculkan riak ironi yang tak bisa disembunyikan. Kehadiran fisik para ASN yang rutin dipenuhi demi disiplin absen, terkadang terasa timpang dengan volume output kerja harian di lapangan yang kian menyusut.

Baca Juga :  Kaget Tak Tahu Mau Bilang Apa, Hanya Teriakan “Mas Wapres! Mas Gibran!”

Tantangan ke depan bagi Muhammad Tamrin dan jajaran pembuat kebijakan di tingkat dinas adalah bagaimana mendefinisikan ulang peran Terminal Expo Waena agar lebih produktif. Tanpa adanya fungsi retribusi, para pegawai seharusnya melahirkan inovasi pelayanan publik baru untuk menambah penghasilan. Matahari kian meninggi di atas Terminal Expo Waena. Di mejanya, Muhammad Tamrin kembali merapikan berkas-berkas tugasnya. Di luar, peluit petugas lapangan sesekali terdengar, mengarahkan taksi putih untuk bergerak maju. Sebuah rutinitas baru yang terus dijalani demi menjaga gerbang transportasi Waena tetap tertib, meski pundi-pundi rupiahnya tak lagi singgah di sana.

“Dulu kami sibuk, mas. Mengatur jalur, merobek karcis, mencatat rit kendaraan. Sekarang taksi yang masuk bisa dihitung jari. Retribusi juga sudah tidak dipungut lagi. Kami di sini ya menjaga aset saja dan mengatur keluar masuknya kendaraan agar tertata rapi serta memastikan pelayanan administrasi yang sebenarnya sudah sangat minim,” jelasnya sembari mengingat kenangan masa lalu.

Baca Juga :  Pj. Bupati Jayapura Imbau ASN Tetap Tingkatkan Kinerja

Fenomena ini menghadirkan ironi tersendiri. Di satu sisi, pemerintah daerah memiliki jumlah personel ASN dan tenaga kontrak yang sangat mencukupi di UPTD Terminal Waena. Di sisi lain, volume kerja mereka menyusut drastis akibat hilangnya aktivitas pemungutan retribusi dan sepinya angkutan konvensional.

Namun, jika kita melangkah lebih dalam ke area tunggu yang beratap biru panjang itu, ada sesuatu yang terasa berbeda. Terminal ini masih menyimpan denyut kehidupan, tetapi detaknya kian melambat. Riuh rendah klakson dan teriakan kondektur mencari penumpang kini terdengar kian lirih. Puluhan taksi putih tampak berderet, moncongnya menghadap ke arah koridor tunggu yang teduh. Di sana, para sopir berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Ada yang merokok, bercengkerama melepas penat, atau sekadar menatap nanar ke arah pintu masuk terminal.

Hilangnya fungsi pemungutan uang seolah memangkas separuh dari beban kerja administratif tradisional terminal. Kini, tugas utama barisan pegawai yang melimpah tersebut bertumpu pada satu mandat krusial yang tersisa yakni manajemen arus kendaraan. Setiap hari, para petugas berbaju dinas disebar ke titik-titik strategis untuk mengatur keluar masuknya kendaraan, mencegah taksi mengetem terlalu lama di pintu keluar yang memicu kemacetan di jalan utama Waena, serta memastikan area parkir dalam terminal tetap tertata.

Tugas ini terdengar sederhana, namun menjadi sangat menantang karena mereka harus mengelola psikologi para sopir konvensional yang kerap kali frustrasi akibat sepinya penumpang. Menjaga ritme keluar-masuk kendaraan agar adil bagi semua sopir menjadi seni tersendiri yang kini ditekuni para pegawai.

Meski manajemen lalu lintas berjalan baik, surplus pegawai di tengah minimnya fungsi pemungutan retribusi tetap memunculkan riak ironi yang tak bisa disembunyikan. Kehadiran fisik para ASN yang rutin dipenuhi demi disiplin absen, terkadang terasa timpang dengan volume output kerja harian di lapangan yang kian menyusut.

Baca Juga :  Dewan Singgung Potensi Pajak dan Penerimaan Daerah Kurang Optimal

Tantangan ke depan bagi Muhammad Tamrin dan jajaran pembuat kebijakan di tingkat dinas adalah bagaimana mendefinisikan ulang peran Terminal Expo Waena agar lebih produktif. Tanpa adanya fungsi retribusi, para pegawai seharusnya melahirkan inovasi pelayanan publik baru untuk menambah penghasilan. Matahari kian meninggi di atas Terminal Expo Waena. Di mejanya, Muhammad Tamrin kembali merapikan berkas-berkas tugasnya. Di luar, peluit petugas lapangan sesekali terdengar, mengarahkan taksi putih untuk bergerak maju. Sebuah rutinitas baru yang terus dijalani demi menjaga gerbang transportasi Waena tetap tertib, meski pundi-pundi rupiahnya tak lagi singgah di sana.

“Dulu kami sibuk, mas. Mengatur jalur, merobek karcis, mencatat rit kendaraan. Sekarang taksi yang masuk bisa dihitung jari. Retribusi juga sudah tidak dipungut lagi. Kami di sini ya menjaga aset saja dan mengatur keluar masuknya kendaraan agar tertata rapi serta memastikan pelayanan administrasi yang sebenarnya sudah sangat minim,” jelasnya sembari mengingat kenangan masa lalu.

Baca Juga :  Papua Butuh Keadilan, Dialog Atau Penegakan Hukum

Fenomena ini menghadirkan ironi tersendiri. Di satu sisi, pemerintah daerah memiliki jumlah personel ASN dan tenaga kontrak yang sangat mencukupi di UPTD Terminal Waena. Di sisi lain, volume kerja mereka menyusut drastis akibat hilangnya aktivitas pemungutan retribusi dan sepinya angkutan konvensional.

Namun, jika kita melangkah lebih dalam ke area tunggu yang beratap biru panjang itu, ada sesuatu yang terasa berbeda. Terminal ini masih menyimpan denyut kehidupan, tetapi detaknya kian melambat. Riuh rendah klakson dan teriakan kondektur mencari penumpang kini terdengar kian lirih. Puluhan taksi putih tampak berderet, moncongnya menghadap ke arah koridor tunggu yang teduh. Di sana, para sopir berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Ada yang merokok, bercengkerama melepas penat, atau sekadar menatap nanar ke arah pintu masuk terminal.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya