Imbi Ternyata Miliki Kepanjangan Irian Membangun Bersama Indonesia

Menyambangi Titik Nol Kota Jayapura yang Alami Perubahan dari Masa ke Masa (Bagian-1)

Lokasi ini sejak jaman dulu dijadikan lokasi nongkrong bagi anak muda. Berbentuk taman dan sering digunakan untuk event. Saat ini Taman Imbi terus mengalami perubahan. Sayangnya sangat sedikit yang mampu bercerita soal heroiknya perjuangan kala itu.

Laporan: Karolus Daot_Jayapura

Tak banyak yang tahu jika titik nol Kota Jayapura adalah Taman Imbi. Taman yang di tahun 80-90 an menjadi titik sentral berkumpulnya kawula muda ketika itu. Dengan gara rambut grondrong berponi, celana cutbray dan kemeja lengan ketat namun berkerah lebar sambil. Anak-anak muda ketika itu banyak yang nongkrong sambil menyelipkan sisir kecil yang menjadi penyelamat saat terjadi kepanikan ketika para gadis mulai melintas.

Tak lupa minyak rambut tancho atau mandom menjadi obat manjur untuk meningkatkan rasa percaya diri. Jangan lupa, saat itu masih ada parfum tisu basah dengan kemasan berwarna coklat tembaga dan jika dibuka bisa langsung digosok ke seluruh tubuh atau pakaian. Lokasi Taman Imbi berada persis di jantung kota yang sudah empat kali mengalami perubahan nama.

Ya, Kota Jayapura dulunya memiliki nama awal adalah Hollandia. Ini berlaku mulai tahun 1910-1963, kemudian berubah menjadi Kota Baru mulai dari 1963-1969, kemudian berubah lagi menjadi Soekarnopura mulai tahun 1969-1975 dan akhirnya menjadi Jayapura sejak 1975 hingga sekarang.

Imbi menjadi satu space santai di Kota Jayapura yang hingga kini tetap eksis. Berada di jantung kota, Imbi sering digunakan sebagai lokasi berbagai kegiatan, mulai dari konser musik, nonton bareng pertandingan sepak bola, hingga beragam acara yang melibatkan ribuan warga. Namun, di balik fungsinya sebagai ruang publik dan pusat rekreasi masyarakat. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa Taman Imbi menyimpan jejak penting sejarah lahirnya Kota Jayapura.

Selasa (7/7) matahari mulai merambat di jantung Kota Jayapura. Di bawah rindangnya pepohonan, sejumlah pegawai tampak melepas lelah setelah seharian bekerja. Sebagian duduk santai di bangku-bangku beton yang mengelilingi taman, sementara beberapa anak-anak tampak menyapu.

Di sisi lain, aroma mie ayam, bakso, hingga minuman dingin dari para pedagang kaki lima menggoda setiap orang yang melintas. Tak jarang kawasan ini juga berubah menjadi lautan manusia ketika konser musik, nonton bareng sepak bola, maupun berbagai kegiatan masyarakat digelar.

Inilah Taman Imbi, ruang publik yang hingga kini masih menjadi satu-satunya taman kota yang tetap hidup di Kota Jayapura. Namun, tidak banyak orang menyadari bahwa taman yang setiap hari dipenuhi aktivitas warga itu sesungguhnya menyimpan sejarah panjang. Jauh sebelum menjadi tempat rekreasi, kawasan ini merupakan titik awal lahirnya Kota Jayapura.

Baca Juga :  Soal WFA, Pemkot Jayapura Kaji Opsi Rabu atau Jumat

Di sudut taman berdiri sebuah monumen bercat biru. Di puncaknya, patung Laksamana Madya Yos Sudarso menatap lurus ke arah Teluk Jayapura. Di bawah monumen itu, terukir nama-nama para prajurit KRI Macan Tutul yang gugur dalam Pertempuran Laut Arafuru pada 15 Januari 1962.

Sayangnya, usia telah meninggalkan jejak. Tulisan nama-nama para pahlawan mulai memudar, sebagian bahkan terkelupas. Meski demikian, monumen itu tetap menjadi saksi bisu perjalanan panjang Papua menuju Indonesia. Di dalam bangunan monumen terdapat beberapa ruangan kecil yang kini dimanfaatkan sebagai ruang pamer oleh Dinas Pariwisata Kota Jayapura.

Berbagai foto lama, buku sejarah, hingga pameran produk ekonomi kreatif dipajang di sana. Tempat ini perlahan diarahkan menjadi museum mini yang memperkenalkan sejarah Kota Jayapura kepada generasi muda. Namun sejarah Taman Imbi jauh lebih tua daripada monumen itu.

Mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Matias B. Mano, menjelaskan bahwa kawasan Imbi merupakan cikal bakal perkembangan Kota Jayapura. Sejarah mencatat, pada 7 Maret 1910, Pemerintah Hindia Belanda resmi memproklamasikan berdirinya kota yang saat itu diberi nama Hollandia. Tanggal tersebut hingga kini diperingati sebagai Hari Jadi Kota Jayapura.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 10 Maret 1910, penyebaran Injil dilanjutkan menuju Pulau Metudebi yang kini ditandai dengan sebuah tugu sejarah. Menurut Matias, sejak masa kolonial Belanda kawasan Imbi memang telah dirancang sebagai taman kota sekaligus pusat orientasi perkembangan Hollandia. “Sejak awal kawasan ini memang menjadi titik sentral perkembangan kota. Dari sinilah tata ruang Jayapura mulai dibangun,” ujarnya.

Sebelum berdiri Monumen Yos Sudarso, kawasan itu terlebih dahulu memiliki Tugu Van Sassel, bahkan pernah menjadi lokasi peringatan Yubileum 50 Tahun pemerintahan Ratu Wilhelmina. Saat itu seluruh wilayah jajahan Belanda diminta menggelar perayaan sebagai penghormatan kepada sang ratu. Kawasan Imbi menjadi pusat berbagai seremoni penting.

Pada awal perencanaan, pusat pemerintahan kolonial sebenarnya hendak dibangun di kawasan Tobati maupun Enggros. Namun setelah melalui berbagai kajian tata ruang, kondisi geografis, serta kemudahan akses laut, pemerintah kolonial akhirnya memilih kawasan yang kini menjadi pusat Kota Jayapura. Pilihan tersebut terbukti menentukan arah perkembangan kota hingga sekarang.

“Lokasinya berada di pesisir Teluk Jayapura, mudah dijangkau dari laut, memiliki bentang wilayah yang relatif datar, serta menjadi simpul penghubung ke berbagai kawasan pesisir utara Papua hingga wilayah yang kini berbatasan dengan Papua Nugini,” kata Matias. Jejak perencanaan kota kolonial itu bahkan masih dapat ditemukan hingga sekarang. Gedung Nieuw Guinea Raad, yang dahulu menjadi pusat pemerintahan Belanda dan kini menjadi bekas gedung DPR Papua, masih berdiri berhadapan dengan kawasan Dewan Kesenian.

Baca Juga :  Aspirasi 4 Kampung Ditindaklanjuti Sesuai Prioritas

Menurut Matias, tata ruang Hollandia dirancang dengan konsep sumbu utama kota, sebagaimana konsep penataan kawasan bersejarah di Yogyakarta maupun kawasan Merdeka di Jakarta. “Belanda waktu itu sebenarnya sudah merancang tata ruang kota dengan sangat baik. Kita tidak sedang mengagungkan kolonialisme, tetapi menghargai sejarah perkembangan kota ini,” katanya.

Nama Imbi sendiri merupakan singkatan dari Irian Membangun Bersama Indonesia atau sering pula disebut Irian Membangun. Nama tersebut menjadi simbol semangat pembangunan Papua setelah integrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.Transformasi kawasan Imbi juga mencerminkan perubahan politik di Papua.

Simbol-simbol kolonial yang dahulu berdiri di kawasan ini kemudian digantikan dengan monumen perjuangan nasional. Pembangunan Monumen Yos Sudarso menjadi bagian dari upaya mengenang perjuangan pembebasan Irian Barat. Monumen itu bukan hanya menggambarkan pertempuran laut, tetapi juga menjadi simbol perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan Papua.

“Monumen ini bukan sekadar bicara tentang perang di laut. Ia mewakili perjuangan darat dan laut dalam proses pembebasan Irian Barat,” kata Matias. Di kawasan pusat kota juga berdiri Tugu Ampera sebagai simbol perjuangan rakyat. Karena Jayapura merupakan ibu kota Provinsi Papua, kota ini dipilih sebagai pusat informasi sejarah perjuangan integrasi Papua ke Indonesia.

“Pada 2005, di masa Wali Kota M.R. Kambu, kawasan Taman Imbi direvitalisasi. Bangunan tugu lama tetap dipertahankan, sementara di sekelilingnya dibangun konstruksi baru berbentuk kapal sebagai simbol perjuangan maritim Yos Sudarso,” jelas Matias. Meski sempat menuai kritik karena dinilai lebih tepat dibangun di kawasan pantai, konsep tersebut akhirnya dipertahankan.
Beberapa tahun kemudian, saat Benhur Tomi Mano menjabat Wali Kota Jayapura, Dinas Pariwisata mulai mengembangkan kawasan ini sebagai destinasi wisata sejarah.Sekitar 2018, gagasan menjadikan kawasan tersebut sebagai museum terbuka mulai diwujudkan. Konsep yang diadopsi mengacu pada pengembangan kawasan Kota Tua Jakarta, Jalan Asia Afrika Bandung, hingga Malioboro Yogyakarta, yakni menghadirkan ruang publik yang memadukan sejarah, budaya, ekonomi kreatif, dan aktivitas masyarakat.

Menurut Matias, nilai utama Taman Imbi justru terletak pada cerita sejarahnya. “Kita tidak sedang menjual sejarah Belanda. Yang kita jual adalah perjalanan lahirnya Kota Jayapura. Kota ini memiliki cerita panjang yang tidak boleh dilupakan,” tegas Staf Ahli Gubernur Bidang Pengembangan Masyarakat dan Budaya tersebut, (Bersambung)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Menyambangi Titik Nol Kota Jayapura yang Alami Perubahan dari Masa ke Masa (Bagian-1)

Lokasi ini sejak jaman dulu dijadikan lokasi nongkrong bagi anak muda. Berbentuk taman dan sering digunakan untuk event. Saat ini Taman Imbi terus mengalami perubahan. Sayangnya sangat sedikit yang mampu bercerita soal heroiknya perjuangan kala itu.

Laporan: Karolus Daot_Jayapura

Tak banyak yang tahu jika titik nol Kota Jayapura adalah Taman Imbi. Taman yang di tahun 80-90 an menjadi titik sentral berkumpulnya kawula muda ketika itu. Dengan gara rambut grondrong berponi, celana cutbray dan kemeja lengan ketat namun berkerah lebar sambil. Anak-anak muda ketika itu banyak yang nongkrong sambil menyelipkan sisir kecil yang menjadi penyelamat saat terjadi kepanikan ketika para gadis mulai melintas.

Tak lupa minyak rambut tancho atau mandom menjadi obat manjur untuk meningkatkan rasa percaya diri. Jangan lupa, saat itu masih ada parfum tisu basah dengan kemasan berwarna coklat tembaga dan jika dibuka bisa langsung digosok ke seluruh tubuh atau pakaian. Lokasi Taman Imbi berada persis di jantung kota yang sudah empat kali mengalami perubahan nama.

Ya, Kota Jayapura dulunya memiliki nama awal adalah Hollandia. Ini berlaku mulai tahun 1910-1963, kemudian berubah menjadi Kota Baru mulai dari 1963-1969, kemudian berubah lagi menjadi Soekarnopura mulai tahun 1969-1975 dan akhirnya menjadi Jayapura sejak 1975 hingga sekarang.

Imbi menjadi satu space santai di Kota Jayapura yang hingga kini tetap eksis. Berada di jantung kota, Imbi sering digunakan sebagai lokasi berbagai kegiatan, mulai dari konser musik, nonton bareng pertandingan sepak bola, hingga beragam acara yang melibatkan ribuan warga. Namun, di balik fungsinya sebagai ruang publik dan pusat rekreasi masyarakat. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa Taman Imbi menyimpan jejak penting sejarah lahirnya Kota Jayapura.

Selasa (7/7) matahari mulai merambat di jantung Kota Jayapura. Di bawah rindangnya pepohonan, sejumlah pegawai tampak melepas lelah setelah seharian bekerja. Sebagian duduk santai di bangku-bangku beton yang mengelilingi taman, sementara beberapa anak-anak tampak menyapu.

Di sisi lain, aroma mie ayam, bakso, hingga minuman dingin dari para pedagang kaki lima menggoda setiap orang yang melintas. Tak jarang kawasan ini juga berubah menjadi lautan manusia ketika konser musik, nonton bareng sepak bola, maupun berbagai kegiatan masyarakat digelar.

Inilah Taman Imbi, ruang publik yang hingga kini masih menjadi satu-satunya taman kota yang tetap hidup di Kota Jayapura. Namun, tidak banyak orang menyadari bahwa taman yang setiap hari dipenuhi aktivitas warga itu sesungguhnya menyimpan sejarah panjang. Jauh sebelum menjadi tempat rekreasi, kawasan ini merupakan titik awal lahirnya Kota Jayapura.

Baca Juga :  Dari Lab Sederhana di Dok II, Lahir Harapan Baru Tenaga Kesehatan Papua

Di sudut taman berdiri sebuah monumen bercat biru. Di puncaknya, patung Laksamana Madya Yos Sudarso menatap lurus ke arah Teluk Jayapura. Di bawah monumen itu, terukir nama-nama para prajurit KRI Macan Tutul yang gugur dalam Pertempuran Laut Arafuru pada 15 Januari 1962.

Sayangnya, usia telah meninggalkan jejak. Tulisan nama-nama para pahlawan mulai memudar, sebagian bahkan terkelupas. Meski demikian, monumen itu tetap menjadi saksi bisu perjalanan panjang Papua menuju Indonesia. Di dalam bangunan monumen terdapat beberapa ruangan kecil yang kini dimanfaatkan sebagai ruang pamer oleh Dinas Pariwisata Kota Jayapura.

Berbagai foto lama, buku sejarah, hingga pameran produk ekonomi kreatif dipajang di sana. Tempat ini perlahan diarahkan menjadi museum mini yang memperkenalkan sejarah Kota Jayapura kepada generasi muda. Namun sejarah Taman Imbi jauh lebih tua daripada monumen itu.

Mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Matias B. Mano, menjelaskan bahwa kawasan Imbi merupakan cikal bakal perkembangan Kota Jayapura. Sejarah mencatat, pada 7 Maret 1910, Pemerintah Hindia Belanda resmi memproklamasikan berdirinya kota yang saat itu diberi nama Hollandia. Tanggal tersebut hingga kini diperingati sebagai Hari Jadi Kota Jayapura.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 10 Maret 1910, penyebaran Injil dilanjutkan menuju Pulau Metudebi yang kini ditandai dengan sebuah tugu sejarah. Menurut Matias, sejak masa kolonial Belanda kawasan Imbi memang telah dirancang sebagai taman kota sekaligus pusat orientasi perkembangan Hollandia. “Sejak awal kawasan ini memang menjadi titik sentral perkembangan kota. Dari sinilah tata ruang Jayapura mulai dibangun,” ujarnya.

Sebelum berdiri Monumen Yos Sudarso, kawasan itu terlebih dahulu memiliki Tugu Van Sassel, bahkan pernah menjadi lokasi peringatan Yubileum 50 Tahun pemerintahan Ratu Wilhelmina. Saat itu seluruh wilayah jajahan Belanda diminta menggelar perayaan sebagai penghormatan kepada sang ratu. Kawasan Imbi menjadi pusat berbagai seremoni penting.

Pada awal perencanaan, pusat pemerintahan kolonial sebenarnya hendak dibangun di kawasan Tobati maupun Enggros. Namun setelah melalui berbagai kajian tata ruang, kondisi geografis, serta kemudahan akses laut, pemerintah kolonial akhirnya memilih kawasan yang kini menjadi pusat Kota Jayapura. Pilihan tersebut terbukti menentukan arah perkembangan kota hingga sekarang.

“Lokasinya berada di pesisir Teluk Jayapura, mudah dijangkau dari laut, memiliki bentang wilayah yang relatif datar, serta menjadi simpul penghubung ke berbagai kawasan pesisir utara Papua hingga wilayah yang kini berbatasan dengan Papua Nugini,” kata Matias. Jejak perencanaan kota kolonial itu bahkan masih dapat ditemukan hingga sekarang. Gedung Nieuw Guinea Raad, yang dahulu menjadi pusat pemerintahan Belanda dan kini menjadi bekas gedung DPR Papua, masih berdiri berhadapan dengan kawasan Dewan Kesenian.

Baca Juga :  Bahas 14 Raperdasi dan 8 Raperdasus, DPRP Fokus Pada Empat Pilar Utama

Menurut Matias, tata ruang Hollandia dirancang dengan konsep sumbu utama kota, sebagaimana konsep penataan kawasan bersejarah di Yogyakarta maupun kawasan Merdeka di Jakarta. “Belanda waktu itu sebenarnya sudah merancang tata ruang kota dengan sangat baik. Kita tidak sedang mengagungkan kolonialisme, tetapi menghargai sejarah perkembangan kota ini,” katanya.

Nama Imbi sendiri merupakan singkatan dari Irian Membangun Bersama Indonesia atau sering pula disebut Irian Membangun. Nama tersebut menjadi simbol semangat pembangunan Papua setelah integrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.Transformasi kawasan Imbi juga mencerminkan perubahan politik di Papua.

Simbol-simbol kolonial yang dahulu berdiri di kawasan ini kemudian digantikan dengan monumen perjuangan nasional. Pembangunan Monumen Yos Sudarso menjadi bagian dari upaya mengenang perjuangan pembebasan Irian Barat. Monumen itu bukan hanya menggambarkan pertempuran laut, tetapi juga menjadi simbol perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan Papua.

“Monumen ini bukan sekadar bicara tentang perang di laut. Ia mewakili perjuangan darat dan laut dalam proses pembebasan Irian Barat,” kata Matias. Di kawasan pusat kota juga berdiri Tugu Ampera sebagai simbol perjuangan rakyat. Karena Jayapura merupakan ibu kota Provinsi Papua, kota ini dipilih sebagai pusat informasi sejarah perjuangan integrasi Papua ke Indonesia.

“Pada 2005, di masa Wali Kota M.R. Kambu, kawasan Taman Imbi direvitalisasi. Bangunan tugu lama tetap dipertahankan, sementara di sekelilingnya dibangun konstruksi baru berbentuk kapal sebagai simbol perjuangan maritim Yos Sudarso,” jelas Matias. Meski sempat menuai kritik karena dinilai lebih tepat dibangun di kawasan pantai, konsep tersebut akhirnya dipertahankan.
Beberapa tahun kemudian, saat Benhur Tomi Mano menjabat Wali Kota Jayapura, Dinas Pariwisata mulai mengembangkan kawasan ini sebagai destinasi wisata sejarah.Sekitar 2018, gagasan menjadikan kawasan tersebut sebagai museum terbuka mulai diwujudkan. Konsep yang diadopsi mengacu pada pengembangan kawasan Kota Tua Jakarta, Jalan Asia Afrika Bandung, hingga Malioboro Yogyakarta, yakni menghadirkan ruang publik yang memadukan sejarah, budaya, ekonomi kreatif, dan aktivitas masyarakat.

Menurut Matias, nilai utama Taman Imbi justru terletak pada cerita sejarahnya. “Kita tidak sedang menjual sejarah Belanda. Yang kita jual adalah perjalanan lahirnya Kota Jayapura. Kota ini memiliki cerita panjang yang tidak boleh dilupakan,” tegas Staf Ahli Gubernur Bidang Pengembangan Masyarakat dan Budaya tersebut, (Bersambung)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya