Kemudian, Lindungi anak-anak, Perempuan dan Lansia. Serta, Buka akses kemanusiaan tanpa syarat kepada lembaga kemanusiaan internasional dan nasional. Selain itu pihaknya juga meminta pemerintah untuk bebaskan tahanan politik dan terakhir, dan Hormati hak asasi manusia di tanah Papua.
“Kami ingin menyampaikan aspirasi kami di DPR (Papua), ini negara demokrasi, tolong jangan halangi kami untuk berorasi. Aparat seharusnya memfasilitasi bukan justru menghalang,” singkatnya kepada Cenderawasih Pos di sela aksi, Senin (27/4).
Pasca aksi demonstrasi yang berlangsung di Abepura-waena, Senin (27/4)), sedikitnya tiga personel Polresta Jayapura Kota mengalami luka dan satu masyarakat sipil. Meskipun luka yang dialami tidak serius, ketiga personel dan satu masyarakat sipil tersebut sempat menerima perawatan medis. Hal ini diungkapkan Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol Fredrickus W. A. Maclarimboen, S.I.K., M.H., CPHR, saat memberikan keterangan kepada wartawan di lokasi.
Akibat kericuhan tersebut, tiga anggota polisi dan satu warga sipil mengalami luka akibat lemparan benda keras. Ketiganya langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk mendapatkan perawatan medis.
“Ada tiga anggota kami yang terkena lemparan batu. Dua orang dirawat di RS Bhayangkara sementara satunya masih aman. Sementara korban warga sipil ada satu orang dan sudah dievakuasi juga ke rumah sakit. Kondisinya sudah mulai membaik,” ungkapnya.
Untuk mencegah kericuhan berlanjut, polisi mengarahkan massa berkumpul di Lingkaran Abepura untuk menyampaikan aspirasi. Polisi juga berkoordinasi dengan anggota DPR Provinsi Papua untuk menemui massa.
“Tadi kita juga bangun komunikasi dengan pimpinan DPR Papua dan akhirnya mereka turun untuk menemui massa pendemo. Artinya kami tidak melarang penyampaian pendapat, namun harus tertib,” ujarnya.