“Di Kampung Matara, lahannya sudah siap. Tetapi kok belum dibangun? Ini juga menjadi pertanyaan,” atanya. Ia juga menyinggung pembangunan koperasi di wilayah Wanam yang dinilai strategis karena berada di kawasan pengembangan program.
Sementara itu, sejumlah kampung lokal di wilayah Merauke masih belum mendapatkan pembangunan koperasi. Carles menjelaskan, salah satu manfaat pembangunan koperasi kampung adalah tersedianya aset berupa bangunan dan fasilitas yang pada akhirnya dapat memberikan manfaat bagi kampung. Apabila jika nantinya koperasi tidak berjalan karena berbagai kendala, bangunan yang telah dibangun diharapkan tetap dapat dimanfaatkan oleh kampung sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kalau memang koperasi tidak jalan karena ada satu dan lain hal, mungkin bangunan ini dan lain-lain itu bisa dimanfaatkan oleh kampung. Kita tidak berharap koperasi tidak jalan. Kita berharap koperasi berjalan terus,” katanya.
Menurutnya, keberadaan aset tersebut menjadi semakin penting di tengah kemampuan keuangan kampung yang saat ini menghadapi tekanan akibat adanya pengurangan dana kampung.
Karena itu, pembangunan fasilitas melalui program koperasi dinilai dapat menjadi salah satu aset yang tetap memberikan manfaat bagi masyarakat kampung dalam jangka panjang. Carles memperkirakan, apabila sosialisasi dilakukan secara intensif kepada kampung-kampung lokal, cukup banyak kampung yang sebenarnya dapat menerima program tersebut dan menyiapkan diri untuk pembangunan koperasi.
“Kalau kita turun ke lapangan untuk sosialisasi, saya pikir mungkin dari hitung-hitungan, kalau seratus persen kampung lokal, sekitar 60 sampai 70 persen bisa dibangun,” ujarnya. (ulo/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q