Kemarau Panjang Pengaruhi Peningkatan Inflasi di Papua Pegunungan
Beberapa Komoditi pertanian seperti tomat , cabai, bawang merah , bawang putih yang didatangkan dari luar Wamena karena hasil produksi petani lokal berkurang saat musim kemarau panjang, Kamis (1/10) (foto:Denny/ Cepos)
WAMENA – Badan Pusat Statistik(BPS) Kabupaten Jayawijaya memastikan musim kemarau panjang sangat mempengaruhi inflasi di daerah. Kepala Badan Pusat Statisik Kabupaten Jayawijaya Arther Purmiasa menyatakan dapak dari kekeringan panjang akibat adanya elnino ini berpengaruh terhadap inflasi daerah, karena saat ini kebanyakan para pedagang pemasok memasukan beberapa komuditaspertanian dari luar Wamena, karena hasil pertanian dari penati lokal juga kurang.
“Kalau bebicara soal pengaruh bencana kekeringan ini memang berdampak pada inflasi di daerah karena beberapa bahan pertanian lainnya harus didatangkan dari luar Wamena, dan tentunya para pedagang akan memperhitungkan biaya timbangan angkutan sehingga jika sampai di pasar harga akan berubah,” ungkapnya Kepada Cenderawasih Pos di Wamena Kamis (1/10).
Kata Arther, meskipun banyak hal yang mempengaruhi peningkatan inflasi daerah, namun, khusus di Jayawijaya masalahnya ada di pasokan barang untuk memenuhi permintaan pasar itu yang mempengaruhi, ketika BPS melakukan survei didapati bahwa kondisi harga itu selalu berfluktuasi atau berubah.
“Kita tahu bersama kekeringan ini memicu produksi petani di Jayawijaya menurun, sehingga untuk bahan pertanian ini harus didatangkan dari luar, dan banyak sekali hal yang terjadi, seperti mengeluarkan biaya angkutan. contoh kalau barang itu tiba di pelabuhan dan harus diangkut ke bandara, selanjutnya di terbangkan lagi,”kata Kepala BPS Jayawijaya.
WAMENA – Badan Pusat Statistik(BPS) Kabupaten Jayawijaya memastikan musim kemarau panjang sangat mempengaruhi inflasi di daerah. Kepala Badan Pusat Statisik Kabupaten Jayawijaya Arther Purmiasa menyatakan dapak dari kekeringan panjang akibat adanya elnino ini berpengaruh terhadap inflasi daerah, karena saat ini kebanyakan para pedagang pemasok memasukan beberapa komuditaspertanian dari luar Wamena, karena hasil pertanian dari penati lokal juga kurang.
“Kalau bebicara soal pengaruh bencana kekeringan ini memang berdampak pada inflasi di daerah karena beberapa bahan pertanian lainnya harus didatangkan dari luar Wamena, dan tentunya para pedagang akan memperhitungkan biaya timbangan angkutan sehingga jika sampai di pasar harga akan berubah,” ungkapnya Kepada Cenderawasih Pos di Wamena Kamis (1/10).
Kata Arther, meskipun banyak hal yang mempengaruhi peningkatan inflasi daerah, namun, khusus di Jayawijaya masalahnya ada di pasokan barang untuk memenuhi permintaan pasar itu yang mempengaruhi, ketika BPS melakukan survei didapati bahwa kondisi harga itu selalu berfluktuasi atau berubah.
“Kita tahu bersama kekeringan ini memicu produksi petani di Jayawijaya menurun, sehingga untuk bahan pertanian ini harus didatangkan dari luar, dan banyak sekali hal yang terjadi, seperti mengeluarkan biaya angkutan. contoh kalau barang itu tiba di pelabuhan dan harus diangkut ke bandara, selanjutnya di terbangkan lagi,”kata Kepala BPS Jayawijaya.