BOVEN DIGOEL – Aksi mogok pelayanan yang dilakukan tujuh dokter Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Boven Digoel mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Boven Digoel. Aksi tersebut dilakukan para dokter untuk menyampaikan kondisi keterbatasan tenaga medis yang selama ini melayani pasien di UGD.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel Adolof Andatu, Amd, Kep, SKM. ketika dikonfirmasi media ini melalui telepon selulernya menjelaskan bahwa tujuh dokter yang melakukan aksi tersebut bukan merupakan keseluruhan dokter yang bertugas di RSUD Boven Digoel.
“Jadi tujuh dokter itu bukan jumlah dokter yang ada di satu rumah sakit di RSUD Boven Digoel. Tapi tujuh dokter itu khusus memberikan pelayanan di Unit Gawat Darurat,” kata Kadis Kesehatan Adolof Andatu, Jumat (2/10).
Menurut Adolof, jumlah tersebut masih sangat terbatas apabila dibandingkan dengan beban pelayanan dan jumlah pasien yang harus ditangani. Kondisi itu menyebabkan dokter yang bertugas di UGD mengalami kelelahan karena waktu istirahat yang terbatas, terutama ketika jumlah pasien meningkat.
Ia menjelaskan, pelayanan di UGD berlangsung dalam tiga shift. Dalam kondisi pasien cukup banyak, idealnya setiap shift ditangani dua hingga tiga dokter. Dengan demikian, dibutuhkan sedikitnya sembilan dokter untuk mendukung pelayanan UGD secara optimal.
“Karena di bagian UGD itu tiga shift. Kalau pasien banyak, maka baiknya dilayani dua sampai tiga dokter untuk satu shift, sehingga dibutuhkan minimal sembilan dokter,” jelasnya.
BOVEN DIGOEL – Aksi mogok pelayanan yang dilakukan tujuh dokter Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Boven Digoel mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Boven Digoel. Aksi tersebut dilakukan para dokter untuk menyampaikan kondisi keterbatasan tenaga medis yang selama ini melayani pasien di UGD.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel Adolof Andatu, Amd, Kep, SKM. ketika dikonfirmasi media ini melalui telepon selulernya menjelaskan bahwa tujuh dokter yang melakukan aksi tersebut bukan merupakan keseluruhan dokter yang bertugas di RSUD Boven Digoel.
“Jadi tujuh dokter itu bukan jumlah dokter yang ada di satu rumah sakit di RSUD Boven Digoel. Tapi tujuh dokter itu khusus memberikan pelayanan di Unit Gawat Darurat,” kata Kadis Kesehatan Adolof Andatu, Jumat (2/10).
Menurut Adolof, jumlah tersebut masih sangat terbatas apabila dibandingkan dengan beban pelayanan dan jumlah pasien yang harus ditangani. Kondisi itu menyebabkan dokter yang bertugas di UGD mengalami kelelahan karena waktu istirahat yang terbatas, terutama ketika jumlah pasien meningkat.
Ia menjelaskan, pelayanan di UGD berlangsung dalam tiga shift. Dalam kondisi pasien cukup banyak, idealnya setiap shift ditangani dua hingga tiga dokter. Dengan demikian, dibutuhkan sedikitnya sembilan dokter untuk mendukung pelayanan UGD secara optimal.
“Karena di bagian UGD itu tiga shift. Kalau pasien banyak, maka baiknya dilayani dua sampai tiga dokter untuk satu shift, sehingga dibutuhkan minimal sembilan dokter,” jelasnya.