Awalnya Kerap Berkelahi, Kini Kebiasaan Lama Mulai Luruh Seiring Waktu

Melihat Perubahan Perilaku Pelajar Setelah Empat Bulan Sekolah di SRT 75 Jayapura

Tak terasa sudah empat bulan 100 anak asli Papua menjalani pendidikan di lingkungan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 75 Jayapura. Banyak perubahan yang dialami peserta didik yang mempunya berbagai latar belakang ini.

Laporan: Elfira_Jayapura

Pagi belum sepenuhnya hangat ketika empat ruangan kelas di Kantor Balai Latihan Kerja dan Vokasi Provinsi Papua dipenuhi suara anak-anak. Senin (19/1) itu, papan tulis pintar menyala, buku terbuka, dan kanvas terbentang.

Ketika Cenderawasih Pos memasuki salah satu ruangan kelas, seorang anak dengan pendampingan guru sedang menggambar menggunakan kanvas di layar laptop. Sedang di dinding ruangan sekolah, hasil gambar menempel rapih.

Baca Juga :  Frans Pekey: Penghargaan Diraih karena Kinerja

Di ruangan yang dindingnya bercat putih ini, proses belajar mengajar berlangsung. Matematika, cerpen, hingga menggambar menjadi awal perubahan bagi 100 anak Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 75 Jayapura.

Setiap ruangan diisi 25 siswa tingkat SD dan SMP. Mereka datang dari latar belakang keluarga menengah ke bawah, terseleksi melalui data Dinas Sosial. Ada yang dari Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Biak, Keerom, hingga Sarmi.

Anak-anak ini berkumpul dalam satu atap, membawa cerita masing-masing. Tentang putus sekolah, tentang kebiasaan lama, dan tentang harapan yang nyaris padam.

Melki Sawinay adalah satu di antaranya. Dulu, bangun pagi bukanlah kebiasaan bagi anak 11 tahun ini. Sekolah pun sempat ia tinggalkan. Namun empat bulan terakhir di SRT 75 Jayapura mengubah ritmenya.

Baca Juga :  Restoratif Justice Justru Sering Tidak Memberikan Keadilan Bagi Korban

Melihat Perubahan Perilaku Pelajar Setelah Empat Bulan Sekolah di SRT 75 Jayapura

Tak terasa sudah empat bulan 100 anak asli Papua menjalani pendidikan di lingkungan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 75 Jayapura. Banyak perubahan yang dialami peserta didik yang mempunya berbagai latar belakang ini.

Laporan: Elfira_Jayapura

Pagi belum sepenuhnya hangat ketika empat ruangan kelas di Kantor Balai Latihan Kerja dan Vokasi Provinsi Papua dipenuhi suara anak-anak. Senin (19/1) itu, papan tulis pintar menyala, buku terbuka, dan kanvas terbentang.

Ketika Cenderawasih Pos memasuki salah satu ruangan kelas, seorang anak dengan pendampingan guru sedang menggambar menggunakan kanvas di layar laptop. Sedang di dinding ruangan sekolah, hasil gambar menempel rapih.

Baca Juga :  Bosda Diharapkan Langsung Dikelola Sekolah

Di ruangan yang dindingnya bercat putih ini, proses belajar mengajar berlangsung. Matematika, cerpen, hingga menggambar menjadi awal perubahan bagi 100 anak Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 75 Jayapura.

Setiap ruangan diisi 25 siswa tingkat SD dan SMP. Mereka datang dari latar belakang keluarga menengah ke bawah, terseleksi melalui data Dinas Sosial. Ada yang dari Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Biak, Keerom, hingga Sarmi.

Anak-anak ini berkumpul dalam satu atap, membawa cerita masing-masing. Tentang putus sekolah, tentang kebiasaan lama, dan tentang harapan yang nyaris padam.

Melki Sawinay adalah satu di antaranya. Dulu, bangun pagi bukanlah kebiasaan bagi anak 11 tahun ini. Sekolah pun sempat ia tinggalkan. Namun empat bulan terakhir di SRT 75 Jayapura mengubah ritmenya.

Baca Juga :  Awali Masa Tugas, Pj . Gubernur Temui Tokoh Agama dan Adat

Berita Terbaru

Artikel Lainnya