Sunday, March 30, 2025
24.7 C
Jayapura

Hadapi Masalah  Penyebaran HIV-AIDS dan Penderita Diabetes yang Tinggi

Mencermati Upaya Dinas Kesehatan Papua Untuk Eliminasi TBC Tahun 2030

Penyakit Tubercolusis (TBC) hingga saat ini masih menjadi penyakit menular yang menjadi perhatian serius  pemerintah untuk pemberantasannya. Oleh karena itu, upaya penemuan kasus TBC terus dilakukan, agar bisa segera ditangani dengan komsumi obat dalam jangka waktu tertentu.

Laporan: Robert Mboik_ Jayapura

Dinas Kesehatan Provinsi Papua menargetkan bahwa pada  tahun  2030  penyakit TBC ini benar-benar bisa dieliminasi, artinya tidak ditemukan lagi kasus penderita TBC di tengah masyarakat. Karena itu, saat ini sejumlah program diturunkan untuk menemukan sebanyak-banyaknya kasus TBC dan tentunya membutuhkan kerjasama dengan seluruh masyarakat Papua.

    Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Dr.dr.Arry Pongtiku mengatakan, sepanjang tahun 2024, jumlah kasus baru TBC yang ditemukan sebanyak 6.644 kasus. Kemudian 896 orang diantaranya yang mengalami koinfeksi artinya TBC yang disertai HIV.

  Artinya, pencegahan penularan TBC makin berat, bila penyebaran penyakit HIV-AIDS masih tinggi.  Sebab, penderita AIDS, kekebalannya menurun sehingga mudah terinfeksi penyakit lainnya.

   “Jadi problemnya di situ, kalau HIV-nya tinggi, dia gampang kena TBC, belum lagi kasus TBC itu pasti meningkat karena banyak orang yang kena penyakit diabetes,” kata Dr.dr.Arry Pongtiku, Jumat (21/3).

Baca Juga :  Surat Tilang Dikirim ke Rumah, Body Petugas Juga Bisa Merekam

   Dia menjelaskan, dari jumlah 896 itu yang paling banyak terjadi di wilayah Kota Jayapura sebanyak 390 kasus TBC disertai HIV, Kabupaten Jayapura 275 kasus, di Biak Numfor 107 kasus. “Jadi memang  koinfeksi yang paling sering karena orang HIV imunitasnya menurunkan,” katanya.

   Dalam penanganan penyakit TBC itu ada target yang diberikan dari Kementerian Kesehatan dan dihitung berdasarkan estimasi, di mana estimasi itu ada prevalensi. Estimasi yang diberikan untuk Papua dengan jumlah penduduk yang  ada saat ini, targetnya sebanyak 11.646 kasus dan saat ini baru ditemukan sebanyak 6.444. Artinya baru 55 persen target yang diberikan baru dicapai.

    Angka tertinggi kasus TBC di tahun 2024 itu berasal dari kota Jayapura sebanyak 2.987 kasus, Kabupaten Jayapura 1561, Yapen 722, Biak Numfor 697, Keroom 148, Sarmi 106, Supiori 77 kasus, Mambramo Raya 92 dan waropen 54 kasus.

   “Jadi dari estimasi yang ada dan yang ditemukan itu baru mencapai 55% sedangkan harus dicapai itu paling sedikit dari target nasional diharapkan 85 persen,”jelasnya.

Baca Juga :  Bertemu Wapres, Beberapa Pengusaha Sampaikan Kendala Pemodalan

   Dari kasus yang sudah ditemukan itu, diklasifikasi lagi  ada kasus yang dialami pada anak dibawah 15 tahun jumlahnya sebanyak 951 kasus. Terus yang terjadi pada anak ini ada hubungannya yang disebabkan karena adanya kontak dengan orang tua atau anggota keluarga yang terinfeksi.

  Ditahun 2025 ini, estimasi target kasus yang  harus ditemukan di papua masih sama dengan target secara nasional yang diberikan pada tahun lalu. Kenapa target ini selalu diberikan supaya dapat menemukan sebanyak-banyaknya dan mempercepat proses eliminasi TBC yang ditargetkan pada 2030.

   Lanjut dia, tantangannya saat ini adalah bagaimana menemukan sebanyak-banyaknya. Apalagi penemuan itu masih dibawa target. Karena itu, kepada masyarakat yang sudah menunjukkan gejala batuk, batuk yang lama yang lebih dari dua minggu itu sebenarnya harus diperiksa.

   Lanjut dia dalam rangka memperingati hari TBC sedunia, biasanya mulai melakukan program akhiri tuberkulosis dengan gerakan TOS TBC ( temukan obati sampai sembuh). Kemudian sosialisasi sosialisasi kepada masyarakat juga terus dilakukan supaya yang sudah menunjukkan gejalanya itu bisa mendatangi fasilitas kesehatan.(*/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Mencermati Upaya Dinas Kesehatan Papua Untuk Eliminasi TBC Tahun 2030

Penyakit Tubercolusis (TBC) hingga saat ini masih menjadi penyakit menular yang menjadi perhatian serius  pemerintah untuk pemberantasannya. Oleh karena itu, upaya penemuan kasus TBC terus dilakukan, agar bisa segera ditangani dengan komsumi obat dalam jangka waktu tertentu.

Laporan: Robert Mboik_ Jayapura

Dinas Kesehatan Provinsi Papua menargetkan bahwa pada  tahun  2030  penyakit TBC ini benar-benar bisa dieliminasi, artinya tidak ditemukan lagi kasus penderita TBC di tengah masyarakat. Karena itu, saat ini sejumlah program diturunkan untuk menemukan sebanyak-banyaknya kasus TBC dan tentunya membutuhkan kerjasama dengan seluruh masyarakat Papua.

    Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Dr.dr.Arry Pongtiku mengatakan, sepanjang tahun 2024, jumlah kasus baru TBC yang ditemukan sebanyak 6.644 kasus. Kemudian 896 orang diantaranya yang mengalami koinfeksi artinya TBC yang disertai HIV.

  Artinya, pencegahan penularan TBC makin berat, bila penyebaran penyakit HIV-AIDS masih tinggi.  Sebab, penderita AIDS, kekebalannya menurun sehingga mudah terinfeksi penyakit lainnya.

   “Jadi problemnya di situ, kalau HIV-nya tinggi, dia gampang kena TBC, belum lagi kasus TBC itu pasti meningkat karena banyak orang yang kena penyakit diabetes,” kata Dr.dr.Arry Pongtiku, Jumat (21/3).

Baca Juga :  Latih Mental Anak Untuk Berani Tampil dan Percaya Diri

   Dia menjelaskan, dari jumlah 896 itu yang paling banyak terjadi di wilayah Kota Jayapura sebanyak 390 kasus TBC disertai HIV, Kabupaten Jayapura 275 kasus, di Biak Numfor 107 kasus. “Jadi memang  koinfeksi yang paling sering karena orang HIV imunitasnya menurunkan,” katanya.

   Dalam penanganan penyakit TBC itu ada target yang diberikan dari Kementerian Kesehatan dan dihitung berdasarkan estimasi, di mana estimasi itu ada prevalensi. Estimasi yang diberikan untuk Papua dengan jumlah penduduk yang  ada saat ini, targetnya sebanyak 11.646 kasus dan saat ini baru ditemukan sebanyak 6.444. Artinya baru 55 persen target yang diberikan baru dicapai.

    Angka tertinggi kasus TBC di tahun 2024 itu berasal dari kota Jayapura sebanyak 2.987 kasus, Kabupaten Jayapura 1561, Yapen 722, Biak Numfor 697, Keroom 148, Sarmi 106, Supiori 77 kasus, Mambramo Raya 92 dan waropen 54 kasus.

   “Jadi dari estimasi yang ada dan yang ditemukan itu baru mencapai 55% sedangkan harus dicapai itu paling sedikit dari target nasional diharapkan 85 persen,”jelasnya.

Baca Juga :  Masuki  Fase Baru Sebagai PTN-BLU, Jangan Hanya Sekedar Status

   Dari kasus yang sudah ditemukan itu, diklasifikasi lagi  ada kasus yang dialami pada anak dibawah 15 tahun jumlahnya sebanyak 951 kasus. Terus yang terjadi pada anak ini ada hubungannya yang disebabkan karena adanya kontak dengan orang tua atau anggota keluarga yang terinfeksi.

  Ditahun 2025 ini, estimasi target kasus yang  harus ditemukan di papua masih sama dengan target secara nasional yang diberikan pada tahun lalu. Kenapa target ini selalu diberikan supaya dapat menemukan sebanyak-banyaknya dan mempercepat proses eliminasi TBC yang ditargetkan pada 2030.

   Lanjut dia, tantangannya saat ini adalah bagaimana menemukan sebanyak-banyaknya. Apalagi penemuan itu masih dibawa target. Karena itu, kepada masyarakat yang sudah menunjukkan gejala batuk, batuk yang lama yang lebih dari dua minggu itu sebenarnya harus diperiksa.

   Lanjut dia dalam rangka memperingati hari TBC sedunia, biasanya mulai melakukan program akhiri tuberkulosis dengan gerakan TOS TBC ( temukan obati sampai sembuh). Kemudian sosialisasi sosialisasi kepada masyarakat juga terus dilakukan supaya yang sudah menunjukkan gejalanya itu bisa mendatangi fasilitas kesehatan.(*/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/