Melihat Suasana Panti Asuhan Muhammadiyah Abepura di Bulan Ramadan
Ramadan menjadi momentum memperkuat ketabahan dan tawakal bagi anak panti meski jauh dari pelukan hangat orangtua dan keluarga. Namun mereka menjalani bulan suci dengan penuh ketabahan.
Laporan: Jimianus_Karlodi_Jayapura
Ramadan identik dengan kebersamaan. Meja makan yang ramai, suara azan yang disambut senyum keluarga, dan doa makan yang dipanjatkan bersama. Namun, ada anak-anak yang menyambut maghrib dengan suasana berbeda, sunyi, sederhana, dan penuh rindu.
Bagi anak panti asuhan, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga menahan rasa kehilangan. Namun mereka menjalani bulan suci dengan ketabahan, sembari menanti kepedulian dan belas kasih mereka yang peduli.
Di balik semarak Ramadan ini, ada kisah Masni Kaitam (21) dari Panti Asuhan Muhammadiyah. Sejak 2023, ia telah menempati panti itu. Setelah keluarganya dari Bintuni, Papua Barat menitipkan dirinya di panti asuhan ini..
Setiap sore, Masni duduk di kursi panjang, menatap jam dinding kecil sambil menunggu azan maghrib. Tanpa pelukan hangat dari kedua orang tua yang jauh di kampung, ia membayangkan bagaimana rasanya sahur dibangunkan dengan lembut.
Saat berbuka, yang ada hanya air putih dan makanan sederhana. Lapar memang bisa ditahan, tetapi rindu kepada orang tua sering terasa lebih berat.
Tak hanya Masni para penghuni panti asuhan yang berada di Jalan Kamkey Tanah Hitam, distrik Abepura itu menyambut bulan suci dengan penuh sukacita. Mereka memiliki asa yang terpendam untuk berbuka puasa.
Masni mengaku sudah tiga (3) tahun menjadi penghuni Panti Muhammadiyah. Ia berharap di bulan Ramadan ini kehangatan kasih sayang, serta perhatian, dan kepedulian dari masyarakat layaknya keluarga sendiri disaat momen buka bersama.