Akademi Teknologi Laboratorium Medik Papua menyoroti tingginya ancaman tiga penyakit berbahaya di Papua, yakni malaria, HIV/AIDS dan tuberkulosis (TBC). Ketiga penyakit tersebut dinilai masih menjadi penyebab utama tingginya angka kematian
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat sekaligus mencegah munculnya berbagai penyakit pascabencana. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, dr. Anton Tony Mote, mengatakan program peme
Ia menyebutkan, Indonesia saat ini menempati posisi kedua dengan kasus TBC terbanyak di dunia. Sementara di Kabupaten Jayapura, pada tahun 2025 tercatat sebanyak 1.400 kasus, dan hingga saat ini telah ditemukan 400 kasus baru, sehingga tota
Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Benjamin Paulus Octavianus, menegaskan Papua masih menghadapi beban penyakit menular yang jauh lebih tinggi dibanding wilayah lain di Indonesia, khususnya malaria, tuberkulosis (TB), HIV/AIDS, dan
Plt Direktur RSUD Wamena dr. Charles Manalagi, Sp.Og menyatakan banyaknya pasien yag ditangani odi RSUD Wamena itu adalah pasien TBC dan itu masuk dalam 10 besar namun perlu juga untuk mengantisiasi HIV, sebab TB dan HIV
Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru mengungkapkan bahwa penghargaan Swasti Saba Padapa yang diterima merupakan kali ketiga bagi Kota Jayapura. Pencapaian ini menjadi bukti kerja bersama lintas sektor dalam menghadirkan
Menurut dr. Anton, ketiga penyakit tersebut masih mendominasi dari tahun ke tahun karena dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan pola hidup masyarakat yang belum sepenuhnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS
Pihak RS Ramela menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan pelayanan, baik dari sisi tenaga medis maupun fasilitas kesehatan, agar dapat menjawab kebutuhan masyarakat di Kota Jayapura dan sekitarnya.
Diakui, saat ini tercatat 145 orang yang mengalami resisten terhadap pengobatan TBC, sehingga perlu penanganan lanjutan dan butuh peran serta keluarga terutama dalam hal kepatuhan akan minum obat. Untuk obat, kata dr Arr
Melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), telah dibentuk Kader Integrasi, yang tidak hanya fokus pada malaria, tetapi juga turut berperan dalam memberikan edukasi terkait tuberkulosis (TB) dan HIV kepada
Pj Sekda Provinsi Papua Pegunungan Drs. Wasuok D. Siep, menegaskan ketiga penyakit tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga memengaruhi pembangunan sosial, ekonomi, dan masa depan generasi Papu
Terobosan besar dalam dunia kesehatan ini dipimpin oleh Dosen dan Peneliti Departemen Ilmu Penyakit Dalam Pusat Kedokteran Tropis UGM, Antonia Morita Iswari Saktiawati, dan Wahyono. Sebagai informasi, kedua sosok ini mer
Dikatakan, progran pemeriksaan Gratis saat ini menjadi Prioritas Khas Papua.Berbeda dengan daerah lain di Indonesia, program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) di Papua mencakup penyakit-penyakit yang masih tinggi kas
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Papua, Dr. dr. Arry Pongtiku, menyatakan bahwa Papua masih menghadapi tantangan besar dalam penanganan TBC. Berdasarkan estimasi Kementerian Kesehatan, target penemuan kasus TBC di Papua ta
Untuk penanganannya sendiri masih intens dilakukan dimana TBC sejatinya bisa sembuh jika dilakukan pengobatan secara teratur selama 6 bulan. Dirincikan bahwa jumlah penemuan kasus TBC tahun 2024 sebanyak 6.444 kasus atau
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Dr.dr.Arry Pongtiku mengatakan, sepanjang tahun 2024, jumlah kasus baru TBC yang ditemukan sebanyak 6.644 kasus. Kemudian 896 orang diantaranya yang mengalami koinfeksi artinya TBC yang disertai HIV.
Sekertaris Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Edward Sihotang menjelaskan, penyebab kasus TBC bagi anak usia 0-4 tahun rata-rata disebabkan oleh orang tua.
"Kasus TBC pada anak-anak yang terinfeksi sudah dipasarkan tertular dari orang dewasa, penularan virus tersebut tidak dapat disebarkan dari anak-anak sebayanya," katanya kepada Cenderawasih Pos
Masyarakat harus kembali waspada terhadap pertumbuhan kasus Tuberkulosis (TBC). Pasalnya Dinas Kesehatan Kota Jayapura mencatat tahun 2024 sebanyak 2.864 kasus yang berhasil dinotifikasi atau dideteksi.
Karena berdasarkan data yang ia dapat dari Dinas Kesehatan Kota Jayapura, kurang lebih sebanyak 731 pasien terduga TB di Kota Jayapura dengan 50 kasus notifikasi dan 42 pasien yang telah menjalankan pengobatan.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura Edward Sihotang di Sentani, Rabu, mengatakan hingga saat ini 97 persen pasien TBC telah mendapatkan pelayanan yang komprehensif.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura Edward Sihotang mengatakan, melalui Data pelayanan kesehatan sampai dengan awal Desember 2024 menunjukkan bahwa, jumlah penemuan terduga TBC di Kabupaten Jayapura mencapai 11.040 orang. Namun dari jumlah tersebut, warga yang dinyatakan positif TBC sebanyak 1.630 orang termasuk didalamnya 75 orang pasien TBC yang resistensi obat.
Sekretaris Dinkes Jayawijaya, Monika Mallisa, S.KM, M.KM menyatakan pihaknya dari dinas kesehatan Kabupaten Jayawijaya melaksanakan kegiatan pertemuan Kolaborasi TB-HIV bersama Komisi Penanggulangan AIDS untuk mencari kesepakatan antara dinas kesehatan dan KPA guna menurunkan infeksi TB dan HIV.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Ni Nyoman Sri Antari menjelaskan, setelah covid-19, capaian imunisasi di Kota Jayapura memang sudah tidak bagus, bahkan secara global. Di kota Jayapura masalah ini disebabkan karena kurangnya logistik.
Dokter spesialis paru itu memaparkan, penyebab seseorang bisa mengalami TBC laten karena kontak dengan pasien TBC aktif, tanpa memakai proteksi. Selanjutnya, daya tahan tubuh rendah, kondisi sirkulasi udara yang kurang baik, bahkan perilaku merokok berpotensi menjadi faktor risiko.