Thursday, March 12, 2026
29.7 C
Jayapura

Sosok Brimob yang Lebih Suka Bicara Mengabdi Ketimbang Promosi

Jalan Sunyi Kombes Pol Muhajir, dari Serambi Mekkah ke Bumi Cenderawasih

Dua minggu sudah Muhajir resmi menjabat sebagai Wakapolda Papua. Tongkat estafet itu ia terima dari Faizal Ramadhani dalam upacara serah terima jabatan di Kepolisian Daerah Papua, Rabu, 18 Februari 2026.

Laporan: Karolus Daot_Jayapura

Butuh waktu dan kesabaran untuk bisa bertemu dan melakukan tatap muka langsung dengan sosok Wakapolda Papua yang baru, Kombes Pol Muhajir. Maklumlah setelah menerima mandat untuk menduduki jabatan ornag kedua di kepolisian Polda Papua, ada sejumlah agenda yang harus diselesaikan.

Jadwal wawancara yang disiapkan harus terus bergeser menyesuaikan jam santai dari calon jenderal ini. Dan akhirnya pada Jumat (27/2) siang, Cenderawasih Pos akhirnya berhasil menemui pengganti Brigjend Faizal Ramdhani itu di ruang kerjanya. Ya ruang kerja Wakapolda terasa teduh. Aroma sajadah dan lantunan doa usai salat Jumat dari masjid Mapolda masih menyisakan hening yang khusyuk.

Baca Juga :  Pimpin Rapat, Pj. Gubernur Bahas Sejumlah Isu Strategis

Di tengah deretan tamu yang menanti, Muhajir menyambut dengan senyum ringan. Suaranya lembut, namun tegas. Di balik seragam lengkap dan tanda kepangkatan yang kelak disebut-sebut akan bertambah satu bintang di pundaknya, terpancar sikap kerendahan hati seorang perwira yang lebih gemar berbicara tentang pengabdian ketimbang promosi.

Lahir di Medan, 11 April 1972, Muhajir adalah putra suku Jawa yang tumbuh besar di Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara. Pendidikan dasar hingga menengah ia tempuh di tanah Deli, sebelum menapaki gerbang Akademi Kepolisian pada 1991 dan lulus pada 1995. Sejak awal, darah Brimob mengalir deras dalam dirinya. Penempatan pertamanya di Pusbrimob Kelapa Dua, Mabes Polri. Di Satuan I Gegana, unit elit yang menuntut presisi, ketenangan, dan keberanian Muhajir mulai menemukan panggilan jiwanya.

Baca Juga :  Masing-masing Pimpinan Telah Kendalikan Anak Buahnya

“Passion saya memang di Brimob, di Gegana,” ujarnya. Lebih dari satu dekade ia ditempa dalam kultur disiplin dan risiko tinggi. Namun pengalaman paling membekas datang pada 2005, saat ia ditugaskan ke Aceh-provinsi yang kala itu masih berada dalam bayang konflik bersenjata.

Jalan Sunyi Kombes Pol Muhajir, dari Serambi Mekkah ke Bumi Cenderawasih

Dua minggu sudah Muhajir resmi menjabat sebagai Wakapolda Papua. Tongkat estafet itu ia terima dari Faizal Ramadhani dalam upacara serah terima jabatan di Kepolisian Daerah Papua, Rabu, 18 Februari 2026.

Laporan: Karolus Daot_Jayapura

Butuh waktu dan kesabaran untuk bisa bertemu dan melakukan tatap muka langsung dengan sosok Wakapolda Papua yang baru, Kombes Pol Muhajir. Maklumlah setelah menerima mandat untuk menduduki jabatan ornag kedua di kepolisian Polda Papua, ada sejumlah agenda yang harus diselesaikan.

Jadwal wawancara yang disiapkan harus terus bergeser menyesuaikan jam santai dari calon jenderal ini. Dan akhirnya pada Jumat (27/2) siang, Cenderawasih Pos akhirnya berhasil menemui pengganti Brigjend Faizal Ramdhani itu di ruang kerjanya. Ya ruang kerja Wakapolda terasa teduh. Aroma sajadah dan lantunan doa usai salat Jumat dari masjid Mapolda masih menyisakan hening yang khusyuk.

Baca Juga :  Hak Pilih Masyarakat  Jadi  Korban Kepentingan Money Politik

Di tengah deretan tamu yang menanti, Muhajir menyambut dengan senyum ringan. Suaranya lembut, namun tegas. Di balik seragam lengkap dan tanda kepangkatan yang kelak disebut-sebut akan bertambah satu bintang di pundaknya, terpancar sikap kerendahan hati seorang perwira yang lebih gemar berbicara tentang pengabdian ketimbang promosi.

Lahir di Medan, 11 April 1972, Muhajir adalah putra suku Jawa yang tumbuh besar di Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara. Pendidikan dasar hingga menengah ia tempuh di tanah Deli, sebelum menapaki gerbang Akademi Kepolisian pada 1991 dan lulus pada 1995. Sejak awal, darah Brimob mengalir deras dalam dirinya. Penempatan pertamanya di Pusbrimob Kelapa Dua, Mabes Polri. Di Satuan I Gegana, unit elit yang menuntut presisi, ketenangan, dan keberanian Muhajir mulai menemukan panggilan jiwanya.

Baca Juga :  Masing-masing Pimpinan Telah Kendalikan Anak Buahnya

“Passion saya memang di Brimob, di Gegana,” ujarnya. Lebih dari satu dekade ia ditempa dalam kultur disiplin dan risiko tinggi. Namun pengalaman paling membekas datang pada 2005, saat ia ditugaskan ke Aceh-provinsi yang kala itu masih berada dalam bayang konflik bersenjata.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya