Menjawab pertanyaan wartawan soal upaya pelestarian sagu, Frederickus mengaku penanaman sagu menghadapi kendala, mulai dari perizinan lahan hingga perawatan. Sagu harus ditanam dengan jarak minimal tujuh meter, dan tidak semua pohon yang ditanam di Sentani sebelumnya tumbuh.
“Perlu edukasi, dan kami berharap pemerintah memberi ruang khusus bagi sagu. Dalam program ketahanan pangan, porsinya masih sedikit,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa sagu tidak hanya berfungsi sebagai pangan lokal, tetapi juga berpotensi sebagai energi terbarukan karena olahannya dapat menghasilkan etanol. Namun, laboratorium untuk pengujian sagu dinilai belum maksimal. Sejumlah dosen ahli genetika di Universitas Cenderawasih (Uncen) juga belum mendapat ruang yang cukup untuk mengembangkan keilmuannya, termasuk riset rekayasa genetika guna mempersingkat usia produksi sagu yang saat ini tergolong tanaman jangka panjang, lebih dari 10 tahun.
“Ahli sagu banyak, yang bicara sagu juga banyak, tetapi belum bisa bergerak karena belum ada ruang dan kesempatan untuk menerapkan ilmunya. Kami berharap pemerintah serius menangani sagu,” kata Frederickus. (rel/tri
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Menjawab pertanyaan wartawan soal upaya pelestarian sagu, Frederickus mengaku penanaman sagu menghadapi kendala, mulai dari perizinan lahan hingga perawatan. Sagu harus ditanam dengan jarak minimal tujuh meter, dan tidak semua pohon yang ditanam di Sentani sebelumnya tumbuh.
“Perlu edukasi, dan kami berharap pemerintah memberi ruang khusus bagi sagu. Dalam program ketahanan pangan, porsinya masih sedikit,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa sagu tidak hanya berfungsi sebagai pangan lokal, tetapi juga berpotensi sebagai energi terbarukan karena olahannya dapat menghasilkan etanol. Namun, laboratorium untuk pengujian sagu dinilai belum maksimal. Sejumlah dosen ahli genetika di Universitas Cenderawasih (Uncen) juga belum mendapat ruang yang cukup untuk mengembangkan keilmuannya, termasuk riset rekayasa genetika guna mempersingkat usia produksi sagu yang saat ini tergolong tanaman jangka panjang, lebih dari 10 tahun.
“Ahli sagu banyak, yang bicara sagu juga banyak, tetapi belum bisa bergerak karena belum ada ruang dan kesempatan untuk menerapkan ilmunya. Kami berharap pemerintah serius menangani sagu,” kata Frederickus. (rel/tri
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q