JAYAPURA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua meminta Palang Merah Indonesia (PMI) setempat terus meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai situasi kedaruratan, termasuk bencana alam dan konflik sosial, yang dapat terjadi di wilayah setempat.
Penjabat Sekretaris Daerah Papua Christian Sohilait di Jayapura, Rabu, mengatakan kesiapsiagaan PMI penting untuk memastikan pelayanan kemanusiaan diberikan secara cepat, tepat, aman, dan terkoordinasi kepada masyarakat yang terdampak.
“Papua memiliki tantangan geografis, sosial, dan kondisi kedaruratan yang membutuhkan kesiapan seluruh unsur,” katanya saat pembukaan acara Workshop Kemanusiaan di Jayapura, Rabu.
Dia mengatakan pengurus, staf, dan relawan PMI tidak hanya dituntut memiliki keterampilan evakuasi, pertolongan pertama, serta bantuan kemanusiaan, tetapi juga perlu memahami prinsip-prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.
“Apalagi workshop (lokakarya) sejumlah materi yang diberikan yakni mencakup Safer Access Framework, manajemen posko, rantai komando, asesmen kebutuhan, logistik, komunikasi, pelaporan, hingga simulasi taktis dan penyusunan rencana kerja tindak lanjut,” ujarnya.
JAYAPURA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua meminta Palang Merah Indonesia (PMI) setempat terus meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai situasi kedaruratan, termasuk bencana alam dan konflik sosial, yang dapat terjadi di wilayah setempat.
Penjabat Sekretaris Daerah Papua Christian Sohilait di Jayapura, Rabu, mengatakan kesiapsiagaan PMI penting untuk memastikan pelayanan kemanusiaan diberikan secara cepat, tepat, aman, dan terkoordinasi kepada masyarakat yang terdampak.
“Papua memiliki tantangan geografis, sosial, dan kondisi kedaruratan yang membutuhkan kesiapan seluruh unsur,” katanya saat pembukaan acara Workshop Kemanusiaan di Jayapura, Rabu.
Dia mengatakan pengurus, staf, dan relawan PMI tidak hanya dituntut memiliki keterampilan evakuasi, pertolongan pertama, serta bantuan kemanusiaan, tetapi juga perlu memahami prinsip-prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.
“Apalagi workshop (lokakarya) sejumlah materi yang diberikan yakni mencakup Safer Access Framework, manajemen posko, rantai komando, asesmen kebutuhan, logistik, komunikasi, pelaporan, hingga simulasi taktis dan penyusunan rencana kerja tindak lanjut,” ujarnya.