Melaju di Atas Aspal dari Malam Tembus Pagi, Terapkan Monitoring  24 Jam

   Slogan ini lahir dari realitas lapangan. Di Jayapura, tidak sedikit pengemudi yang bergabung di grup-grup besar namun merasa canggung, plin-plan, atau sekadar ikut-ikutan tanpa ada rasa kepedulian antar-sesama. Rohidin menegaskan bahwa LDR tidak membutuhkan anggota yang setengah hati.

   “Slogan itu bukan untuk gaya-gayaan. Artinya, kalau ada yang ragu-ragu mau masuk atau merasa grup ini tidak ada gunanya, mendingan pangkas saja, keluar sekarang juga. Daripada jadi penyakit di dalam organisasi, mendingan mundur. Kita di LDR mau satu tujuan. Grup sebesar apa pun, kalau tidak ada rasa peduli dan solidaritas, tidak akan pernah kompak,” kata Rohidin dengan nada tegas.

   Ketegasan solidaritas ini juga berlaku saat berhadapan dengan aturan area atau dinamika zonasi di Jayapura. Prinsip LDR jelas: selama pengemudi berada di pihak yang benar, tidak melanggar aturan, dan tidak mengganggu ketertiban, maka LDR akan berdiri paling depan untuk mendukung anggotanya. ​   

Baca Juga :  Makin Mudahkan Pendonor Untuk Mengetahui Kapan dan Dimana Bisa Mendonor

   Kisah perjuangan di atas jok motor juga disampaikan oleh Rizal (34), anggota Komunitas LDR yang juga berasal dari Bandung. Bapak dari dua anak ini telah bergabung bersama LDR selama 3 bulan. Bagi Rizal, bergabung dengan LDR memberikan dampak yang sangat positif, baik untuk ketenangan batin lewat agenda Yasinan maupun memperluas jaringan pertemanan di berbagai titik Jayapura, mulai dari Abepura, Entrop, hingga pusat kota.

  Namun, perjalanannya mengaspal di Jayapura diwarnai dengan berbagai dinamika duka khas jalanan. Rizal menceritakan betapa kerapnya pengemudi ojol berhadapan dengan aksi pemalakan oleh oknum pemuda di dalam komplek pemukiman.

   Selain pemalakan, musuh utama pengemudi ojol terutama di atas jam 1 malam ke atas adalah maraknya orderan fiktif dan ulah calon penumpang yang mengonsumsi minuman keras (mabuk).

Baca Juga :  Menulis Cita Cita di Lembar Diary “Menjadi Pengacara Hebat”

   Meski demikian, jika kondisi sedang bersahabat dan driver bekerja dengan rajin, hasil manis tetap bisa dibawa pulang. Rizal membeberkan bahwa jika seorang driver mulai menarik sejak pagi hari hingga pukul 10.00 atau 10.30 WIT (saat aktivitas sekolah dan perkantoran ramai di hari kerja), pendapatan bersih yang bisa dikantongi mencapai Rp150.000 per hari jumlah yang sudah bersih setelah dipotong pembelian bensin dan saldo aplikasi.

   Slogan ini lahir dari realitas lapangan. Di Jayapura, tidak sedikit pengemudi yang bergabung di grup-grup besar namun merasa canggung, plin-plan, atau sekadar ikut-ikutan tanpa ada rasa kepedulian antar-sesama. Rohidin menegaskan bahwa LDR tidak membutuhkan anggota yang setengah hati.

   “Slogan itu bukan untuk gaya-gayaan. Artinya, kalau ada yang ragu-ragu mau masuk atau merasa grup ini tidak ada gunanya, mendingan pangkas saja, keluar sekarang juga. Daripada jadi penyakit di dalam organisasi, mendingan mundur. Kita di LDR mau satu tujuan. Grup sebesar apa pun, kalau tidak ada rasa peduli dan solidaritas, tidak akan pernah kompak,” kata Rohidin dengan nada tegas.

   Ketegasan solidaritas ini juga berlaku saat berhadapan dengan aturan area atau dinamika zonasi di Jayapura. Prinsip LDR jelas: selama pengemudi berada di pihak yang benar, tidak melanggar aturan, dan tidak mengganggu ketertiban, maka LDR akan berdiri paling depan untuk mendukung anggotanya. ​   

Baca Juga :  Bangun Kepercayaan Masyarakat Papua Lewat Pendekatan Budaya, Agama dan Kesetaraan

   Kisah perjuangan di atas jok motor juga disampaikan oleh Rizal (34), anggota Komunitas LDR yang juga berasal dari Bandung. Bapak dari dua anak ini telah bergabung bersama LDR selama 3 bulan. Bagi Rizal, bergabung dengan LDR memberikan dampak yang sangat positif, baik untuk ketenangan batin lewat agenda Yasinan maupun memperluas jaringan pertemanan di berbagai titik Jayapura, mulai dari Abepura, Entrop, hingga pusat kota.

  Namun, perjalanannya mengaspal di Jayapura diwarnai dengan berbagai dinamika duka khas jalanan. Rizal menceritakan betapa kerapnya pengemudi ojol berhadapan dengan aksi pemalakan oleh oknum pemuda di dalam komplek pemukiman.

   Selain pemalakan, musuh utama pengemudi ojol terutama di atas jam 1 malam ke atas adalah maraknya orderan fiktif dan ulah calon penumpang yang mengonsumsi minuman keras (mabuk).

Baca Juga :  Pernah Jadi Sopir Taxi, Walikota Buka Trayek Lama

   Meski demikian, jika kondisi sedang bersahabat dan driver bekerja dengan rajin, hasil manis tetap bisa dibawa pulang. Rizal membeberkan bahwa jika seorang driver mulai menarik sejak pagi hari hingga pukul 10.00 atau 10.30 WIT (saat aktivitas sekolah dan perkantoran ramai di hari kerja), pendapatan bersih yang bisa dikantongi mencapai Rp150.000 per hari jumlah yang sudah bersih setelah dipotong pembelian bensin dan saldo aplikasi.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya