Friday, April 4, 2025
24.7 C
Jayapura

Sejak 1961 Menjadi Daerah yang Aman, Kini Masyarakat Kampung Juga Ikut Menyesal

“Ingat namanya pendidikan itu akan merubah sebuah peradaban menjadi lebih baik dan yang melakukan itu adalah para guru-guru di pedalaman. Banyak yang menelepon saya dan memberi ungkapan menyesal serta prihatin. Saya sampaikan bagaimanapun juga kalau mau berjuang silahkan saja tapi jangan melukai,” beber pastor.

Dengan kejadian ini diyakini banyak pihak keluarga dan banyak orang bisa saja tidak mau lagi memberikan pelayanan. “Saya sangat prihatin jika di pedalaman tak ada petugas kesehatan dan pendidik karena disitulah masyarakat akan belajar. Kalau pemerintah pakai masyarakat sipil bisa saja tapi jika situasi tidak aman tentu orang juga tidak mau sekalipun dipaksa,” sambung pastor Jhon.

Baca Juga :  Penditrsibusian Sembako ke Daerah Konflik Tak Terkendala

Soal sipil apalagi yang berkaitan dengan pekerjaan kemanusiaan tidak boleh disentuh kata pastor sudah diakui secara hukum internasional.  “Jadi salah jika mengatakan bisa berjuang sendiri tanpa dokter, tanpa petugas guru dan lain sebagainya. Saya pikir tidak segampang itu sebab orang yang bekerja pelayanan kemanusiaan itu memang tanpa pamrih dan mereka butuh keamanan dan keselamatan,” jelasnya.

Dan sebagai pastor ia berpendapat bahwa agama apapun tidak membenarkan untuk membunuh. “Saya tahu perasaan orang Papua, mungkin mereka marah atau dendam karena tindakan militer berpuluh-puluh tahun lalu namun salah jika membalas kepada warga sipil yang datang untuk melayani mereka. Sekali lagi, jika ingin merdeka jangan sampai ada tindakan pembunuhan dan di luar batas – batas kemanusiaan,” tutup pastor. (*)

Baca Juga :  Berdayakan Seniman Papua, Sekaligus Gairahkan UMKM Pasca Pandemi

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

“Ingat namanya pendidikan itu akan merubah sebuah peradaban menjadi lebih baik dan yang melakukan itu adalah para guru-guru di pedalaman. Banyak yang menelepon saya dan memberi ungkapan menyesal serta prihatin. Saya sampaikan bagaimanapun juga kalau mau berjuang silahkan saja tapi jangan melukai,” beber pastor.

Dengan kejadian ini diyakini banyak pihak keluarga dan banyak orang bisa saja tidak mau lagi memberikan pelayanan. “Saya sangat prihatin jika di pedalaman tak ada petugas kesehatan dan pendidik karena disitulah masyarakat akan belajar. Kalau pemerintah pakai masyarakat sipil bisa saja tapi jika situasi tidak aman tentu orang juga tidak mau sekalipun dipaksa,” sambung pastor Jhon.

Baca Juga :  Tak Ingin Jadi Pelengkap, Bicara Tegak Lurus Pemuda Juga Bisa

Soal sipil apalagi yang berkaitan dengan pekerjaan kemanusiaan tidak boleh disentuh kata pastor sudah diakui secara hukum internasional.  “Jadi salah jika mengatakan bisa berjuang sendiri tanpa dokter, tanpa petugas guru dan lain sebagainya. Saya pikir tidak segampang itu sebab orang yang bekerja pelayanan kemanusiaan itu memang tanpa pamrih dan mereka butuh keamanan dan keselamatan,” jelasnya.

Dan sebagai pastor ia berpendapat bahwa agama apapun tidak membenarkan untuk membunuh. “Saya tahu perasaan orang Papua, mungkin mereka marah atau dendam karena tindakan militer berpuluh-puluh tahun lalu namun salah jika membalas kepada warga sipil yang datang untuk melayani mereka. Sekali lagi, jika ingin merdeka jangan sampai ada tindakan pembunuhan dan di luar batas – batas kemanusiaan,” tutup pastor. (*)

Baca Juga :  Dua Anggota KKB Sadis Dilumpuhkan

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Berita Terbaru

Artikel Lainnya