Wednesday, April 15, 2026
25.7 C
Jayapura

Menjejak di Debi, Tahun 1900 an Ondoafi Ikut Menerima Injil

Saat Masuknya Injil Kembali Diperingati di Titik Nol Pemerintahan Pertama Kota Numbay

Laporan : Mustakim Ali_Jayapura

Di tengah birunya perairan Teluk Youtefa, Kota Jayapura, terdapat sebuah pulau kecil berpasir yang mungkin tampak sederhana dari kejauhan. Namun di balik kesunyian dan ukurannya yang tidak seberapa, Pulau Metu Debi menyimpan jejak sejarah yang sangat besar bagi perjalanan iman masyarakat di Tanah Tabi.

Pulau kecil ini menjadi saksi awal masuknya Injil di wilayah Tabi—yang meliputi Jayapura, Sarmi, dan Keerom—pada awal abad ke-20. Di tempat inilah, sekitar tahun 1900 hingga tahun 1910, para hamba Tuhan pertama kali menjejakkan kaki untuk membawa kabar keselamatan kepada masyarakat di daratan Numbay.

Baca Juga :  Dukung Pelayanan Klasis Muara Tami, Wali Kota Hibahkan Mobil Operasional

Kini, sebuah tugu peringatan berdiri di Pulau Metu Debi sebagai penanda sejarah penting tersebut. Tugu ini bukan sekadar monumen, tetapi simbol perjalanan panjang iman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Metu Debi menjadi pijakan awal sebelum Injil menyebar luas ke berbagai kampung di Tanah Tabi. Dari pulau kecil ini, kabar sukacita perlahan menjangkau masyarakat adat yang kemudian menerimanya dengan hati terbuka.

Sejarah mencatat bahwa Injil pertama kali diterima oleh para leluhur masyarakat adat setempat, termasuk Ondoafi besar Tobati–Enggros. Dari tangan para leluhur inilah, pesan iman itu diwariskan kepada anak cucu mereka hingga hari ini. Lebih dari satu abad kemudian, Pulau Metu Debi kembali menjadi pusat perhatian. Ribuan jemaat berkumpul di pulau bersejarah ini untuk mengikuti ibadah syukur memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-116 Pekabaran Injil di Tanah Tabi, Selasa (10/3).

Baca Juga :  Lokasi Tambang Ditutup, Penyidik Periksa Saksi dan Pemilik Tambang

Saat Masuknya Injil Kembali Diperingati di Titik Nol Pemerintahan Pertama Kota Numbay

Laporan : Mustakim Ali_Jayapura

Di tengah birunya perairan Teluk Youtefa, Kota Jayapura, terdapat sebuah pulau kecil berpasir yang mungkin tampak sederhana dari kejauhan. Namun di balik kesunyian dan ukurannya yang tidak seberapa, Pulau Metu Debi menyimpan jejak sejarah yang sangat besar bagi perjalanan iman masyarakat di Tanah Tabi.

Pulau kecil ini menjadi saksi awal masuknya Injil di wilayah Tabi—yang meliputi Jayapura, Sarmi, dan Keerom—pada awal abad ke-20. Di tempat inilah, sekitar tahun 1900 hingga tahun 1910, para hamba Tuhan pertama kali menjejakkan kaki untuk membawa kabar keselamatan kepada masyarakat di daratan Numbay.

Baca Juga :  Perjalanan Panjang Memahami Sejarah Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Museum BI

Kini, sebuah tugu peringatan berdiri di Pulau Metu Debi sebagai penanda sejarah penting tersebut. Tugu ini bukan sekadar monumen, tetapi simbol perjalanan panjang iman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Metu Debi menjadi pijakan awal sebelum Injil menyebar luas ke berbagai kampung di Tanah Tabi. Dari pulau kecil ini, kabar sukacita perlahan menjangkau masyarakat adat yang kemudian menerimanya dengan hati terbuka.

Sejarah mencatat bahwa Injil pertama kali diterima oleh para leluhur masyarakat adat setempat, termasuk Ondoafi besar Tobati–Enggros. Dari tangan para leluhur inilah, pesan iman itu diwariskan kepada anak cucu mereka hingga hari ini. Lebih dari satu abad kemudian, Pulau Metu Debi kembali menjadi pusat perhatian. Ribuan jemaat berkumpul di pulau bersejarah ini untuk mengikuti ibadah syukur memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-116 Pekabaran Injil di Tanah Tabi, Selasa (10/3).

Baca Juga :   Banyak Bawa Ide-ide “Gila” yang Mendorong Semangat dan Sinergitas

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/