Ngobrol Bareng Joike Maidhar, Seorang Tuna Netra di Polimak yang Jago Mengaransemen Lagu
Di ruang sederhana di Yayasan Humania, keterbatasan tak membungkam seorang difabel. Dengan laptop usang, ia merangkai puluhan aransemen dan menjaga mimpi tetap bernyanyi. Lantas lagu jenis apa saja yang diaransemen oleh ayah satu anak ini?
Laporan: Elfira_Jayapura
Di sebuah ruangan sederhana di Yayasan Humania, Polimak II Asri, Distrik Jayapura Selatan, denting nada lahir bukan dari studio mewah. Bukan dari ruang kedap udara dengan jejeran grafik mixer yang lengkap. Dentingan nada demi nada ini muncul justru dari sebuah laptop tua berwarna silver yang nyaris rusak.
Bagian depan papan keyboardnya sudah menganga dan secara kasatmata bisa dibilang laptop ini memang sudah rusak. Di depan layar mungil itulah setiap hari Joike Maidhar duduk mengisi waktunya. Jemarinya bergerak perlahan, sementara telinganya nampak bekerja lebih tajam daripada matanya. Setiap bunyi, setiap ketukan, ia tangkap dengan penuh ketelitian. Dari sanalah, musik-musik itu hidup.
Joike merupakan salah satu penghuni di Yayasan Humaniora, tempat para difable di Jayapura berkumpul. Ia sendiri tak bisa melihat alias tuna netra. Tak banyak yang tahu, dari ruang kecil yang ia tempati bersama penyandang difabel lainnya, pria 49 tahun ini telah melahirkan puluhan aransemen lagu. Sekitar 70 hingga 80 karya sejak tahun 2021. Sebuah capaian yang tak sederhana, terlebih dikerjakan dalam keterbatasan.
Bagi Joike, musik bukan sekadar bunyi. Ia adalah jalan hidup yang telah dipilih sejak usianya beranjak 10 tahun kala itu. “Dari kecil saya sudah suka musik. Sekarang saya mengaransemen, juga mencipta lagu sendiri,” ujarnya pelan, dengan kacamata hitam yang tetap menempel di wajahnya ketika ditemui Senin (13/4).
Ngobrol Bareng Joike Maidhar, Seorang Tuna Netra di Polimak yang Jago Mengaransemen Lagu
Di ruang sederhana di Yayasan Humania, keterbatasan tak membungkam seorang difabel. Dengan laptop usang, ia merangkai puluhan aransemen dan menjaga mimpi tetap bernyanyi. Lantas lagu jenis apa saja yang diaransemen oleh ayah satu anak ini?
Laporan: Elfira_Jayapura
Di sebuah ruangan sederhana di Yayasan Humania, Polimak II Asri, Distrik Jayapura Selatan, denting nada lahir bukan dari studio mewah. Bukan dari ruang kedap udara dengan jejeran grafik mixer yang lengkap. Dentingan nada demi nada ini muncul justru dari sebuah laptop tua berwarna silver yang nyaris rusak.
Bagian depan papan keyboardnya sudah menganga dan secara kasatmata bisa dibilang laptop ini memang sudah rusak. Di depan layar mungil itulah setiap hari Joike Maidhar duduk mengisi waktunya. Jemarinya bergerak perlahan, sementara telinganya nampak bekerja lebih tajam daripada matanya. Setiap bunyi, setiap ketukan, ia tangkap dengan penuh ketelitian. Dari sanalah, musik-musik itu hidup.
Joike merupakan salah satu penghuni di Yayasan Humaniora, tempat para difable di Jayapura berkumpul. Ia sendiri tak bisa melihat alias tuna netra. Tak banyak yang tahu, dari ruang kecil yang ia tempati bersama penyandang difabel lainnya, pria 49 tahun ini telah melahirkan puluhan aransemen lagu. Sekitar 70 hingga 80 karya sejak tahun 2021. Sebuah capaian yang tak sederhana, terlebih dikerjakan dalam keterbatasan.
Bagi Joike, musik bukan sekadar bunyi. Ia adalah jalan hidup yang telah dipilih sejak usianya beranjak 10 tahun kala itu. “Dari kecil saya sudah suka musik. Sekarang saya mengaransemen, juga mencipta lagu sendiri,” ujarnya pelan, dengan kacamata hitam yang tetap menempel di wajahnya ketika ditemui Senin (13/4).