Kisah Nyeleneh Rachmadita Andreswari Gegara Lihat Piala Dunia, Malah Berhasil Kuliah di Jerman
Namanya keberuntungan atau keajaiban terkadang muncul tanpa bisa ditebak. Ini seperti cerita Rachmadita Andreswari. Sosok wanita kelahirann 1989 yang ingin mengejar cita-cita hingga ke luar negeri. Proposalnya tak ITS dan ternyata malam diterima di Jerman
Laporam: Wenny Rosalina
Rachmadita Andreswari kini tengah menempuh studi doktoral di Universitas Humboldt Berlin, Jerman. Perempuan kelahiran Jombang, 4 September 1989, ini mengambil program Computer Science sejak 2023. Jerman menjadi negara impiannya sejak SMA. Terutama sejak ia menyaksikan kemajuan negara tersebut pada ajang Piala Dunia 2006.
’’Saya tertarik kuliah di Jerman sejak SMA. Melihat Jerman unggul dalam bidang riset, membuat saya ingin suatu saat kuliah di sana,’’ kata Dita, sapaan akrabnya. Putri pasangan Mochamad Fuad dan Kojanah, warga Mojokrapak, Tembelang, ini menghabiskan masa kecilnya di kota santri. Ia menempuh pendidikan dasar di SDN Mojokrapak 2. Lalu melanjutkan ke SMPN 2 Jombang dan SMAN 2 Jombang. Ia kemudian kuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, mengambil S1 Sistem Informasi dan lulus 2012.
Setahun berikutnya, ia menuntaskan S2 di jurusan Informatika dari kampus yang sama pada 2013. Sejak lama, Dita bercita-cita menjadi peneliti. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan teknologi membawanya menapaki jalur akademik hingga ke luar negeri. Termasuk ke Jerman, yang merupakan salah satu negara impiannya. Keinginannya itu perlahan terwujud. Pada 2021, ia mulai menjalin komunikasi dengan seorang supervisor di Berlin. Meski sempat tertunda dan bahkan mendaftar program S3 di ITS pada 2022, takdir berkata lain.
Proposalnya tak diterima di ITS, dan akhirnya ia kembali melanjutkan proses studi ke Berlin. Pada awal 2023, ia mendapat Letter of Acceptance dari Universitas Humboldt. Setelah melalui proses pengurusan visa dan dokumen pendukung, ia pun berangkat ke Jerman pada Juli 2023. Di awal masa studinya, Dita kuliah dengan biaya mandiri. Namun mulai tahun kedua, ia berhasil meraih beasiswa Elsa Neumann, sebuah pendanaan dari Pemerintah Berlin yang sangat kompetitif.
Untuk mendapat beasiswa ini, ia harus melengkapi berbagai syarat seperti ijazah, proposal riset, bukti performa akademik di atas rata-rata, serta rencana kontribusi penelitian terhadap perkembangan keilmuan. ’’Saya pernah gagal berangkat S3 karena masalah administratif meski sudah mendapat beasiswa Dikti 2015. Tapi ternyata yang saya dapat sekarang jauh lebih baik. Beasiswa topik riset, dan supervisornya semua mendukung,’’ ujar istri dari Ismail Syahputra dan ibu dari Abdurrahman Arwyn Aptahiro ini.
Saat ini, selain menjalani riset S3, ia juga aktif di komunitas Nahdlatul Ulama (NU) di Jerman dan komunitas mahasiswa S3 Indonesia di Berlin. Ia juga sempat mendapatkan beasiswa dari Weizenbaum Institute yang sangat membantunya dalam penelitian dan pendanaan di awal masa studi. Terkait sistem pendidikan, program doktoral di Jerman sangat berbasis riset (research-based).