Panggilan Hati Namun Kerap Terjadi Ancaman Untuk Mati

Saat itu Melani sedang melaksanakan kegiatan menanam pohon bersama murid-muridnya di lingkungan sekolah. Tanpa ampun, ia diserang hingga kehilangan nyawanya. Tiga rekan yang bersamanya selamat, namun meninggalkan trauma yang dalam. Tragedi yang menimpa kedua tenag pendidik ini sungguh sangat ironis.

Saat negara memperingati 80 tahun Hari Guru, para pendidik di Papua, terutama di pedalaman, justru menjalani hidup yang jauh dari aman. Pertanyaan besar pun muncul, apakah peringatan usia 80 tahun Hari Guru sebanding dengan realitas yang dialami guru Papua ? Ketua Program Studi Magister Pendidikan IPA Universitas Cenderawasih, Prof. Dr. Tiurlina Siregar, M.Si, menilai bahwa posisi guru di pedalaman Papua masih sangat rentan.

Baca Juga :  Monitoring ke Sejumlah PAUD, Beri Arahan Kepada Guru dan Orang Tua

“Guru itu datang untuk mendidik, bukan untuk memusuhi siapa pun. Tapi ada kelompok-kelompok yang menganggap keberadaan guru sebagai ancaman,” jelasnya.

Guru dianggap membawa perubahan yang tidak sejalan dengan kepentingan tertentu. Padahal tugas mereka sederhana: mencerdaskan anak-anak Papua.

Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, perlindungan terhadap guru meliputi; perlindungan hukum., perlindungan profesi., perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Serta pengakuan atas kekayaan intelektual. Menurut Tiurlina, pelaksanaan perlindungan itu masih sangat minim di Papua.

“Bagaimana guru bisa bekerja dengan baik bila keselamatan mereka tidak terjamin? Banyak guru punya semangat mengajar, tetapi mereka terancam secara psikologis, bahkan secara nyawa,” ujarnya melalui sambungan telepon, Selasa (25/11).

Baca Juga :  FLS2N Jadi Ajang Kompetisi dan Tingkatkan Kreatifitas Seni 

Kondisi ini berpotensi menyebabkan krisis tenaga pendidik di pedalaman Papua. Jarak yang jauh, medan yang berat, jaringan komunikasi yang minim, ditambah ancaman kekerasan membuat guru berpikir ulang untuk bertugas.

Saat itu Melani sedang melaksanakan kegiatan menanam pohon bersama murid-muridnya di lingkungan sekolah. Tanpa ampun, ia diserang hingga kehilangan nyawanya. Tiga rekan yang bersamanya selamat, namun meninggalkan trauma yang dalam. Tragedi yang menimpa kedua tenag pendidik ini sungguh sangat ironis.

Saat negara memperingati 80 tahun Hari Guru, para pendidik di Papua, terutama di pedalaman, justru menjalani hidup yang jauh dari aman. Pertanyaan besar pun muncul, apakah peringatan usia 80 tahun Hari Guru sebanding dengan realitas yang dialami guru Papua ? Ketua Program Studi Magister Pendidikan IPA Universitas Cenderawasih, Prof. Dr. Tiurlina Siregar, M.Si, menilai bahwa posisi guru di pedalaman Papua masih sangat rentan.

Baca Juga :  294 Obat Sirup Dinyatakan Aman, di Papua 86.078 Item Obat Sirup Ditarik

“Guru itu datang untuk mendidik, bukan untuk memusuhi siapa pun. Tapi ada kelompok-kelompok yang menganggap keberadaan guru sebagai ancaman,” jelasnya.

Guru dianggap membawa perubahan yang tidak sejalan dengan kepentingan tertentu. Padahal tugas mereka sederhana: mencerdaskan anak-anak Papua.

Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, perlindungan terhadap guru meliputi; perlindungan hukum., perlindungan profesi., perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Serta pengakuan atas kekayaan intelektual. Menurut Tiurlina, pelaksanaan perlindungan itu masih sangat minim di Papua.

“Bagaimana guru bisa bekerja dengan baik bila keselamatan mereka tidak terjamin? Banyak guru punya semangat mengajar, tetapi mereka terancam secara psikologis, bahkan secara nyawa,” ujarnya melalui sambungan telepon, Selasa (25/11).

Baca Juga :  Sejak Ada Pemalangan, Kunjungan Peziarah ke Makam Turun Drastis

Kondisi ini berpotensi menyebabkan krisis tenaga pendidik di pedalaman Papua. Jarak yang jauh, medan yang berat, jaringan komunikasi yang minim, ditambah ancaman kekerasan membuat guru berpikir ulang untuk bertugas.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya