Gereja Membela Harkat dan Martabat Manusia, Jangan Dinilai Gerakan Politik Praktis

   Menurutnya, sejak awal 2000-an, gereja telah terlibat dalam berbagai upaya membangun Papua Tanah Damai. Ia menyebut keterlibatan Uskup Leo, Pdt. Herman Saud dan berbagai tokoh gereja pada masa itu sebagai bagian dari sejarah panjang gereja dalam merancang dan memperjuangkan gagasan Papua Tanah Damai.

   Karena itu, kehadiran HONAI bukanlah titik awal perjuangan gereja. HONAI lebih merupakan upaya untuk memperkuat dan menyatukan berbagai pekerjaan yang selama ini telah dilakukan secara terpisah. “Membangun Papua Tanah Damai, memperjuangkan keadilan, perdamaian di Papua ini adalah panggilan gereja,” tegasnya.

   Ia juga menilai perjuangan gereja dalam membela harkat dan martabat manusia tidak boleh dipersepsikan sebagai gerakan politik praktis. “Perjuangan gereja untuk membangun Papua Tanah Damai ini bukan membangun Papua merdeka. Bukan pro kemerdekaan Papua. Ini adalah pro kemanusiaan,” katanya.

Baca Juga :  1,5 Ton Sampah Berhasil Dikumpulkan, Kebersihan Jadi Tanggung Jawab Bersama

   Bagi Yanuarius, suara kenabian gereja berarti keberanian untuk menyuarakan keadilan, perdamaian, serta perlindungan terhadap martabat manusia. Karena itu, gereja tidak boleh diam ketika kekerasan, pembunuhan, pengungsian, dan penderitaan masyarakat terus terjadi.

   Namun, Uskup Yanuarius juga menyadari bahwa gereja memiliki keterbatasan. Membangun Papua Tanah Damai tidak mungkin hanya dilakukan oleh pendeta, pastor, uskup atau pimpinan sinode. “Semua pihak harus dilibatkan,” tegas Yan You sapaan akrab Uskup Jayapura.

  “Salah satu tantangan terbesar gereja dalam kerja kemanusiaan adalah kecenderungan hadir ketika masalah sudah terjadi,” ujar Yan You.

   Gereja datang ketika masyarakat mengungsi. Gereja bergerak ketika terjadi kekerasan. Gereja membantu ketika korban membutuhkan makanan, tempat tinggal, layanan kesehatan maupun pendampingan psikososial.

Baca Juga :  Pemuda Minta Pj Gubernur Pertemukan BTM dan MDF

   Menurutnya, sejak awal 2000-an, gereja telah terlibat dalam berbagai upaya membangun Papua Tanah Damai. Ia menyebut keterlibatan Uskup Leo, Pdt. Herman Saud dan berbagai tokoh gereja pada masa itu sebagai bagian dari sejarah panjang gereja dalam merancang dan memperjuangkan gagasan Papua Tanah Damai.

   Karena itu, kehadiran HONAI bukanlah titik awal perjuangan gereja. HONAI lebih merupakan upaya untuk memperkuat dan menyatukan berbagai pekerjaan yang selama ini telah dilakukan secara terpisah. “Membangun Papua Tanah Damai, memperjuangkan keadilan, perdamaian di Papua ini adalah panggilan gereja,” tegasnya.

   Ia juga menilai perjuangan gereja dalam membela harkat dan martabat manusia tidak boleh dipersepsikan sebagai gerakan politik praktis. “Perjuangan gereja untuk membangun Papua Tanah Damai ini bukan membangun Papua merdeka. Bukan pro kemerdekaan Papua. Ini adalah pro kemanusiaan,” katanya.

Baca Juga :  Pola Asuh Kurang Baik Penyebab Anak Alami Stunting

   Bagi Yanuarius, suara kenabian gereja berarti keberanian untuk menyuarakan keadilan, perdamaian, serta perlindungan terhadap martabat manusia. Karena itu, gereja tidak boleh diam ketika kekerasan, pembunuhan, pengungsian, dan penderitaan masyarakat terus terjadi.

   Namun, Uskup Yanuarius juga menyadari bahwa gereja memiliki keterbatasan. Membangun Papua Tanah Damai tidak mungkin hanya dilakukan oleh pendeta, pastor, uskup atau pimpinan sinode. “Semua pihak harus dilibatkan,” tegas Yan You sapaan akrab Uskup Jayapura.

  “Salah satu tantangan terbesar gereja dalam kerja kemanusiaan adalah kecenderungan hadir ketika masalah sudah terjadi,” ujar Yan You.

   Gereja datang ketika masyarakat mengungsi. Gereja bergerak ketika terjadi kekerasan. Gereja membantu ketika korban membutuhkan makanan, tempat tinggal, layanan kesehatan maupun pendampingan psikososial.

Baca Juga :  Ratusan Truk Dievakuasi dari Kubangan

Berita Terbaru

Artikel Lainnya