Banyak yang Terkesima Lihat Sepeda Tua, Ada yang Harganya Mencapai Rp250 Juta

Namun, di atas kalkulasi harga dan usia, ada ikatan emosional mendalam yang melandasi kecintaan mereka pada sepeda langka ini. Rumadi mengisahkan kenangan masa kecilnya yang tak pernah pudar setiap kali kakinya memijak pedal ontel.

“Kenangan tersendiri itu ada dari zaman SD, SMP, sampai SMA kelas 2, saya sekolah pakai sepeda begini. Dulu sepeda palang, saya dibonceng kakek tapi duduk di depan. Kaki masuk ke celah palang, sampai tumit hampir lepas terjepit ruji sepeda,” kenang Rumadi terkekeh sambil memegangi tumit kakinya. “Kenangan seperti itu tidak pernah saya lupa.”

Senyum keakraban mengalir tanpa sekat suku maupun generasi. Sepeda tua menjadi jembatan yang menghubungkan nostalgia masa lalu dengan harapan masa depan anak-anak Papua.

Baca Juga :  Tak Perlu Turuti Keinginan Tukang Palang dengan Dalih Hak Ulayat

“Pesan kami selaku KOSTI, mari kita rawat NKRI. Sejarah dulu diukir para pejuang kita yang banyak menggunakan sepeda-sepeda tua ini dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia,” pungkas Rumadi menutup perbincangan, sebelum kembali memegang setang sepedanya dan berlalu di antara gemuruh sorak warga Mimika. (*)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Namun, di atas kalkulasi harga dan usia, ada ikatan emosional mendalam yang melandasi kecintaan mereka pada sepeda langka ini. Rumadi mengisahkan kenangan masa kecilnya yang tak pernah pudar setiap kali kakinya memijak pedal ontel.

“Kenangan tersendiri itu ada dari zaman SD, SMP, sampai SMA kelas 2, saya sekolah pakai sepeda begini. Dulu sepeda palang, saya dibonceng kakek tapi duduk di depan. Kaki masuk ke celah palang, sampai tumit hampir lepas terjepit ruji sepeda,” kenang Rumadi terkekeh sambil memegangi tumit kakinya. “Kenangan seperti itu tidak pernah saya lupa.”

Senyum keakraban mengalir tanpa sekat suku maupun generasi. Sepeda tua menjadi jembatan yang menghubungkan nostalgia masa lalu dengan harapan masa depan anak-anak Papua.

Baca Juga :  Bangun Budaya Siaga Sejak Dini, Untuk Kurangi Risiko dan Dampak Bencana

“Pesan kami selaku KOSTI, mari kita rawat NKRI. Sejarah dulu diukir para pejuang kita yang banyak menggunakan sepeda-sepeda tua ini dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia,” pungkas Rumadi menutup perbincangan, sebelum kembali memegang setang sepedanya dan berlalu di antara gemuruh sorak warga Mimika. (*)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya