Rumadi menceritakan, KOSTI Papua Tengah bukan sekadar hadir di tingkat lokal seperti acara Car Free Day (CFD) atau gowes mingguan rute SP2 menuju Bandara Lama Timika.
Pada Mei lalu, enam perwakilan KOSTI Papua Tengah terbang ke Jawa untuk mengikuti ajang internasional International Veteran Cycle Association (IVCA) di Candi Prambanan, Yogyakarta.
“Saat itu kami dari KOSTI Papua Tengah Kabupaten Mimika diwakili enam orang dan mendapatkan Juara 1 Favorit. Tropinya sudah kami serahkan ke Ketua KORMI Kabupaten dan Provinsi Papua Tengah,” ungkap Rumadi bangga.
Tak berhenti di Yogyakarta, komunitas di bawah naungan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) ini juga sudah bersiap melangkah lebih jauh.
Pada Oktober mendatang, mereka dijadwalkan menghadiri perhelatan sepeda tua tingkat Asia Pasifik di Sidoarjo, Jawa Timur.
“Slogan kami jelas: Satu Sepeda, Sejuta Saudara. Bersama KORMI, kita sehat, bugar, gembira, dan luar biasa,” selorohnya diiringi tawa anggota komunitas lainnya.
Di balik nilai sejarahnya, sepeda-sepeda ontel yang dirawat anggota KOSTI menyimpan keunikan dan nilai material yang fantastis. Di lokasi karnaval, Rumadi menunjukkan salah satu koleksi paling langka.
“Kalau milik saya ini Batavus produksi 1904 buatan Belanda, masuk Indonesia sekitar tahun 1950-an. Tapi ada yang paling tua dan paling mahal, merek Relilch. Itu harganya bisa sampai Rp250 juta,” kata Rumadi sembari menunjuk besi tua yang tampak kokoh meski usianya sudah lebih dari satu abad.
Rumadi menceritakan, KOSTI Papua Tengah bukan sekadar hadir di tingkat lokal seperti acara Car Free Day (CFD) atau gowes mingguan rute SP2 menuju Bandara Lama Timika.
Pada Mei lalu, enam perwakilan KOSTI Papua Tengah terbang ke Jawa untuk mengikuti ajang internasional International Veteran Cycle Association (IVCA) di Candi Prambanan, Yogyakarta.
“Saat itu kami dari KOSTI Papua Tengah Kabupaten Mimika diwakili enam orang dan mendapatkan Juara 1 Favorit. Tropinya sudah kami serahkan ke Ketua KORMI Kabupaten dan Provinsi Papua Tengah,” ungkap Rumadi bangga.
Tak berhenti di Yogyakarta, komunitas di bawah naungan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) ini juga sudah bersiap melangkah lebih jauh.
Pada Oktober mendatang, mereka dijadwalkan menghadiri perhelatan sepeda tua tingkat Asia Pasifik di Sidoarjo, Jawa Timur.
“Slogan kami jelas: Satu Sepeda, Sejuta Saudara. Bersama KORMI, kita sehat, bugar, gembira, dan luar biasa,” selorohnya diiringi tawa anggota komunitas lainnya.
Di balik nilai sejarahnya, sepeda-sepeda ontel yang dirawat anggota KOSTI menyimpan keunikan dan nilai material yang fantastis. Di lokasi karnaval, Rumadi menunjukkan salah satu koleksi paling langka.
“Kalau milik saya ini Batavus produksi 1904 buatan Belanda, masuk Indonesia sekitar tahun 1950-an. Tapi ada yang paling tua dan paling mahal, merek Relilch. Itu harganya bisa sampai Rp250 juta,” kata Rumadi sembari menunjuk besi tua yang tampak kokoh meski usianya sudah lebih dari satu abad.