4.961 Balita  Alami Resiko Stunting, Harus Ada Kesadaran Pola Hidup Sehat

Mencermati Balita Beresiko Stunting dan Upaya Mengatasinya di Tanah Papua 

Setiap pemerintah daerah, termasuk di Papua, diinstrusikan oleh pemerintah pusat untuk serius menangani stunting di wilayah masing-masing. Penegasan ini penting, karena untuk mewujudkan generasi berkualitas harus ada perhatian sejak dini.

Laporan: Carolus Daot

Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)   Provinsi Papua Nerius Auparai  menyampaikan berdasarkan data sistem elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (PPGBM) hingga September  tahun 2023 lalu, 4.691 anak di bawah umur 5 tahun atau Balita di Papua dan 3 Daerah Otonom Baru (DOB) yakni Papua Tengah, Papua Selatan dan Papua Pegunungan mengalami resiko stunting.

Baca Juga :  2024 Dinkes Kejar Penurunan Stunting Jayawijaya Hingga 14 Persen dari 28 Persen

  Hal ini dipicu karena beberapa faktor, diantaranya minimnya pasokan makanan bergizi bagi Ibu hamil, dalam 1.000 hari pertama kehidupan, kemudian rendahnya kesadaran pola hidup yang sehat, pola asuh yang tidak berjalan baik, serta fasilitas kesehatan yang terbatas.

  Tidak hanya itu resiko stunting bagi balita ini juga terjadi karena gangguan kesehatan pada ibu hamil. Dimana menurutnya banyak Ibu hamil yang mengalami anemia atau kurang darah serta anak terpapar penyakit menular atau infeksi berulang, seperti diare, malaria, infeksi saluran pernapasan akut, dan tuberkulosis.

  “Kendala utama tingginya stunting baik Balita termasuk juga dewasa, karena pemahaman tentang gisi keluarga masih sangat renda,” ujarnya kepada Cendrawasih pos, di ruang kerjanya, Jumat (5/1).

Baca Juga :  Belajar dari YouTube, Khawatir Jika Pelanggan Tak Puas

Mencermati Balita Beresiko Stunting dan Upaya Mengatasinya di Tanah Papua 

Setiap pemerintah daerah, termasuk di Papua, diinstrusikan oleh pemerintah pusat untuk serius menangani stunting di wilayah masing-masing. Penegasan ini penting, karena untuk mewujudkan generasi berkualitas harus ada perhatian sejak dini.

Laporan: Carolus Daot

Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)   Provinsi Papua Nerius Auparai  menyampaikan berdasarkan data sistem elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (PPGBM) hingga September  tahun 2023 lalu, 4.691 anak di bawah umur 5 tahun atau Balita di Papua dan 3 Daerah Otonom Baru (DOB) yakni Papua Tengah, Papua Selatan dan Papua Pegunungan mengalami resiko stunting.

Baca Juga :  Peluang Wisata dari Lokasi Spot Baru yang Menyajikan Keindahan Bakau

  Hal ini dipicu karena beberapa faktor, diantaranya minimnya pasokan makanan bergizi bagi Ibu hamil, dalam 1.000 hari pertama kehidupan, kemudian rendahnya kesadaran pola hidup yang sehat, pola asuh yang tidak berjalan baik, serta fasilitas kesehatan yang terbatas.

  Tidak hanya itu resiko stunting bagi balita ini juga terjadi karena gangguan kesehatan pada ibu hamil. Dimana menurutnya banyak Ibu hamil yang mengalami anemia atau kurang darah serta anak terpapar penyakit menular atau infeksi berulang, seperti diare, malaria, infeksi saluran pernapasan akut, dan tuberkulosis.

  “Kendala utama tingginya stunting baik Balita termasuk juga dewasa, karena pemahaman tentang gisi keluarga masih sangat renda,” ujarnya kepada Cendrawasih pos, di ruang kerjanya, Jumat (5/1).

Baca Juga :  Akui Ada Penekanan Data dan Anggaran Dalam Evaluasi PJ Bupati Jayawijaya

Berita Terbaru

Artikel Lainnya