Bahan Dibeli dari Pedagang Lokal, Porsi Kecil Rp 11.000, Porsi Besar Rp 15 Ribu

Tim Ahli Gizi Polda Papua saat memeriksa kualitas makanan di Dapur SPPG Polda Papua, Selasa (4/11).

“Jam empat pagi kami mulai proses packing, masukkan ke dalam ompreng. Pukul 07.30 WIT mobil pengantar sudah berangkat ke sekolah-sekolah,” jelas Kombes Pol Sandi Sultan, Auditor Kepolisian Madya Itwasda Polda Papua kepada wartawan saat meninjau Dapur SPPG Polda Papua, Selasa (4/11).

Program MBG ini menyentuh 14 sekolah di Distrik Jayapura Utara, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA/MA. Salah satunya adalah SMP YPPK Dok V Jayapura. Total siswa penerima manfaat mencapai 1.880 orang.

SPPG membagi penyajian dalam dua kategori, porsi kecil dan porsi besar. Porsi kecil (untuk PAUD, TK, dan siswa kelas I–III SD) berjumlah 859 siswa. Porsi besar (untuk siswa kelas IV SD hingga SMA) berjumlah 1.021 siswa.

Baca Juga :  Jadi Pengalaman Paling Berharga, Tetap Belajar Meski Tak ke Sekolah

Perbedaannya terletak pada gramasi. Untuk porsi kecil, nasi seberat 150 gram disajikan bersama 50 gram protein. Sementara porsi besar berisi 200 gram nasi dan 100 gram protein. Menu berganti setiap hari dari ikan, ayam, telur, sayur, hingga buah-buahan. “Hari Jumat, anak-anak juga mendapat tambahan snack,” ujar Kombes Sandi.

Harga per porsi pun relatif terjangkau. Porsi kecil dihargai Rp11.000, sedangkan porsi besar Rp15.000. Meski begitu, kualitas dan keseimbangan gizi tetap dijaga ketat.
Keunikan lain program ini adalah pemanfaatan bahan pangan lokal.

Semua bahan dibeli dari pedagang tradisional di Kota Jayapura. Setiap minggu, tim logistik melakukan stok bahan pangan, termasuk sayur, ikan, dan daging ayam. Tak jarang, ubi atau keladi (makanan khas Papua menggantikan nasi). Langkah ini sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal dan menghidupkan semangat kemandirian daerah.

Baca Juga :  Rencana Anies Baswedan ke Papua Mendapat Penolakan

“Kami ingin anak-anak tetap mengenal makanan lokalnya, sekaligus membantu ekonomi pedagang Orang Asli Papua (OAP),” tutur Kombes Sandi.

Tim Ahli Gizi Polda Papua saat memeriksa kualitas makanan di Dapur SPPG Polda Papua, Selasa (4/11).

“Jam empat pagi kami mulai proses packing, masukkan ke dalam ompreng. Pukul 07.30 WIT mobil pengantar sudah berangkat ke sekolah-sekolah,” jelas Kombes Pol Sandi Sultan, Auditor Kepolisian Madya Itwasda Polda Papua kepada wartawan saat meninjau Dapur SPPG Polda Papua, Selasa (4/11).

Program MBG ini menyentuh 14 sekolah di Distrik Jayapura Utara, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA/MA. Salah satunya adalah SMP YPPK Dok V Jayapura. Total siswa penerima manfaat mencapai 1.880 orang.

SPPG membagi penyajian dalam dua kategori, porsi kecil dan porsi besar. Porsi kecil (untuk PAUD, TK, dan siswa kelas I–III SD) berjumlah 859 siswa. Porsi besar (untuk siswa kelas IV SD hingga SMA) berjumlah 1.021 siswa.

Baca Juga :  Dari Menggarap Kopi Tua hingga Duduki Markas Undius

Perbedaannya terletak pada gramasi. Untuk porsi kecil, nasi seberat 150 gram disajikan bersama 50 gram protein. Sementara porsi besar berisi 200 gram nasi dan 100 gram protein. Menu berganti setiap hari dari ikan, ayam, telur, sayur, hingga buah-buahan. “Hari Jumat, anak-anak juga mendapat tambahan snack,” ujar Kombes Sandi.

Harga per porsi pun relatif terjangkau. Porsi kecil dihargai Rp11.000, sedangkan porsi besar Rp15.000. Meski begitu, kualitas dan keseimbangan gizi tetap dijaga ketat.
Keunikan lain program ini adalah pemanfaatan bahan pangan lokal.

Semua bahan dibeli dari pedagang tradisional di Kota Jayapura. Setiap minggu, tim logistik melakukan stok bahan pangan, termasuk sayur, ikan, dan daging ayam. Tak jarang, ubi atau keladi (makanan khas Papua menggantikan nasi). Langkah ini sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal dan menghidupkan semangat kemandirian daerah.

Baca Juga :  Perkembangan Teknologi Jadi Tantangan Humas Polda

“Kami ingin anak-anak tetap mengenal makanan lokalnya, sekaligus membantu ekonomi pedagang Orang Asli Papua (OAP),” tutur Kombes Sandi.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya