Mencukur Masa Lalu, Menata Masa Depan: Saat Jemari Warga Binaan Mengasah Keterampilan Memotong Rambut
Laporan: Juliadi_ Radar Bali
Di balik tembok kokoh dan jeruji besi Lapas Kelas IIB Tabanan, ada suara bising mesin pencukur yang perlahan menggantikan sunyi. Bukan sekadar merapikan helai demi helai rambut, para warga binaan di sana sejatinya sedang belajar “mencukur” masa lalu yang kelam dan menata gaya masa depan yang lebih rapi.
HARI Rabu (6/5/2026), suasana aula Lapas berubah menjadi barbershop dadakan. Sejumlah warga binaan tampak tekun menggenggam sisir dan gunting. Dengan bimbingan instruktur dari Yayasan Putra Pemenang (YPP) Bali, mereka tak hanya diajarkan teknik dasar memotong, tetapi juga seni memahami estetika gaya rambut masa kini. Jadi jembatan menkuju Kemandirian
Kepala Lapas Kelas IIB Tabanan, Prawira Hadiwidjojo, menatap tajam ke arah para peserta pelatihan. Baginya, program kemandirian ini adalah napas baru dalam proses reintegrasi sosial. Ia tak ingin mereka bebas hanya dengan membawa status “mantan narapidana”, melainkan membawa sertifikat keahlian. “Minimal mereka punya keahlian. Harapan kami besar; saat bebas nanti, mereka tidak perlu lagi bingung mencari kerja, tetapi bisa menciptakan lapangan kerja sendiri,” ujar Prawira dengan nada penuh optimisme.
Bagi Lapas Tabanan, pembinaan bukan hanya soal pertanian atau kerajinan tangan yang selama ini ditekuni, melainkan tentang menghadirkan keterampilan praktis yang “menjemput bola” di tengah tren gaya hidup masyarakat saat ini. Yang instruktur dari YPP Bali, melihat ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar gerakan gunting. Menurutnya, menjadi tukang cukur membutuhkan rasa percaya diri yang tinggi karena ada interaksi manusia di dalamnya.
Mencukur Masa Lalu, Menata Masa Depan: Saat Jemari Warga Binaan Mengasah Keterampilan Memotong Rambut
Laporan: Juliadi_ Radar Bali
Di balik tembok kokoh dan jeruji besi Lapas Kelas IIB Tabanan, ada suara bising mesin pencukur yang perlahan menggantikan sunyi. Bukan sekadar merapikan helai demi helai rambut, para warga binaan di sana sejatinya sedang belajar “mencukur” masa lalu yang kelam dan menata gaya masa depan yang lebih rapi.
HARI Rabu (6/5/2026), suasana aula Lapas berubah menjadi barbershop dadakan. Sejumlah warga binaan tampak tekun menggenggam sisir dan gunting. Dengan bimbingan instruktur dari Yayasan Putra Pemenang (YPP) Bali, mereka tak hanya diajarkan teknik dasar memotong, tetapi juga seni memahami estetika gaya rambut masa kini. Jadi jembatan menkuju Kemandirian
Kepala Lapas Kelas IIB Tabanan, Prawira Hadiwidjojo, menatap tajam ke arah para peserta pelatihan. Baginya, program kemandirian ini adalah napas baru dalam proses reintegrasi sosial. Ia tak ingin mereka bebas hanya dengan membawa status “mantan narapidana”, melainkan membawa sertifikat keahlian. “Minimal mereka punya keahlian. Harapan kami besar; saat bebas nanti, mereka tidak perlu lagi bingung mencari kerja, tetapi bisa menciptakan lapangan kerja sendiri,” ujar Prawira dengan nada penuh optimisme.
Bagi Lapas Tabanan, pembinaan bukan hanya soal pertanian atau kerajinan tangan yang selama ini ditekuni, melainkan tentang menghadirkan keterampilan praktis yang “menjemput bola” di tengah tren gaya hidup masyarakat saat ini. Yang instruktur dari YPP Bali, melihat ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar gerakan gunting. Menurutnya, menjadi tukang cukur membutuhkan rasa percaya diri yang tinggi karena ada interaksi manusia di dalamnya.