Murid Berdiri di Kelas Jadi Alasan Untuk Bertahan Tetap Mengajar

Dalam kondisi seperti itu, menjaga buku dan perlengkapan belajar agar tidak basah menjadi pekerjaan tersendiri. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak untuk menuntut ilmu justru masih bergelut dengan persoalan mendasar. Keterbatasan sarana fisik ditambah akses jalan yang sulit ditempuh membuat sebagian orang tua dari wilayah afdeling di sekitar sekolah memilih tidak menyekolahkan anak mereka di sana.

Sekolah yang sebelumnya pernah menampung hingga sekitar 50 siswa, kini jumlahnya terus menyusut. Hanya sekitar 18 anak yang masih bertahan belajar di balik sekat-sekat triplek yang sudah usang. Meski demikian, Rohmawati tidak melihat keterbatasan itu sebagai alasan untuk berhenti. Baginya, sekolah bukan hanya soal gedung yang megah, meja dan kursi yang bagus, atau fasilitas yang lengkap. Ada masa depan anak-anak yang harus tetap dijaga.

Baca Juga :  Bahasa Daerah Diharap Masuk Mulok di Sekolah dan Diaktifkan di Kampung Adat

Dan selama masih ada anak-anak yang datang untuk belajar, selama itu pula ia merasa masih memiliki alasan untuk tetap berdiri di depan kelas. Dari sekolah sederhana yang jauh dari kemewahan itu, tangan dingin Rohmawati telah mengantarkan banyak anak menuju kehidupan yang lebih baik.

Sejumlah lulusannya berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bahkan, ada pula yang kini bekerja sebagai tenaga medis. Bagi Rohmawati, keberhasilan para anak didiknya menjadi kebahagiaan tersendiri. Pendidikan yang ia berikan di ruang kelas sederhana itu ternyata mampu menjadi pijakan bagi sebagian anak untuk melangkah lebih jauh.

“Jika dilihat dari segi ekonomi, insentifnya tentu tidak layak. Namun, motivasi saya murni karena cinta pada profesi ini dan ingin membagikan ilmu kepada anak-anak bangsa,” ungkap Rohmawati dengan mata berbinar saat ditemui di lokasi, Kamis pekan lalu. Kalimat itu seakan menggambarkan alasan mengapa ia mampu bertahan begitu lama. Bukan karena besarnya penghasilan. Bukan pula karena fasilitas yang diberikan.

Baca Juga :  Miliki 250 Ekor Ayam Petelur, Per Hari Bisa Hasilkan 4 hingga 6 Rak Telur

Melainkan karena kecintaan terhadap profesi dan keinginan agar anak-anak di pelosok tetap memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Namun, perjuangan panjang itu akhirnya mendapat perhatian lebih luas. Kondisi sekolah yang memprihatinkan tersebut belakangan viral di media sosial. Gambaran ruang belajar berdinding triplek dan keterbatasan fasilitas pendidikan di sana menyita perhatian masyarakat.

Kabar itu kemudian sampai kepada pemerintah daerah. Angin segar pun mulai berembus ke sekolah terpencil tersebut. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kampar bergerak cepat dengan merencanakan pembangunan ruang belajar baru yang permanen dan lebih layak. Harapan yang selama ini seperti tertahan di balik dinding tripleks perlahan mulai menemukan titik terang.

Dalam kondisi seperti itu, menjaga buku dan perlengkapan belajar agar tidak basah menjadi pekerjaan tersendiri. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak untuk menuntut ilmu justru masih bergelut dengan persoalan mendasar. Keterbatasan sarana fisik ditambah akses jalan yang sulit ditempuh membuat sebagian orang tua dari wilayah afdeling di sekitar sekolah memilih tidak menyekolahkan anak mereka di sana.

Sekolah yang sebelumnya pernah menampung hingga sekitar 50 siswa, kini jumlahnya terus menyusut. Hanya sekitar 18 anak yang masih bertahan belajar di balik sekat-sekat triplek yang sudah usang. Meski demikian, Rohmawati tidak melihat keterbatasan itu sebagai alasan untuk berhenti. Baginya, sekolah bukan hanya soal gedung yang megah, meja dan kursi yang bagus, atau fasilitas yang lengkap. Ada masa depan anak-anak yang harus tetap dijaga.

Baca Juga :  ’’Pulang ke Tanah Air’’ dengan Nasi Goreng Kambing di Gravenstraat 24-A 

Dan selama masih ada anak-anak yang datang untuk belajar, selama itu pula ia merasa masih memiliki alasan untuk tetap berdiri di depan kelas. Dari sekolah sederhana yang jauh dari kemewahan itu, tangan dingin Rohmawati telah mengantarkan banyak anak menuju kehidupan yang lebih baik.

Sejumlah lulusannya berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bahkan, ada pula yang kini bekerja sebagai tenaga medis. Bagi Rohmawati, keberhasilan para anak didiknya menjadi kebahagiaan tersendiri. Pendidikan yang ia berikan di ruang kelas sederhana itu ternyata mampu menjadi pijakan bagi sebagian anak untuk melangkah lebih jauh.

“Jika dilihat dari segi ekonomi, insentifnya tentu tidak layak. Namun, motivasi saya murni karena cinta pada profesi ini dan ingin membagikan ilmu kepada anak-anak bangsa,” ungkap Rohmawati dengan mata berbinar saat ditemui di lokasi, Kamis pekan lalu. Kalimat itu seakan menggambarkan alasan mengapa ia mampu bertahan begitu lama. Bukan karena besarnya penghasilan. Bukan pula karena fasilitas yang diberikan.

Baca Juga :  Demi Kesehatan Gus Dur, Penjual Bilang Habis

Melainkan karena kecintaan terhadap profesi dan keinginan agar anak-anak di pelosok tetap memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Namun, perjuangan panjang itu akhirnya mendapat perhatian lebih luas. Kondisi sekolah yang memprihatinkan tersebut belakangan viral di media sosial. Gambaran ruang belajar berdinding triplek dan keterbatasan fasilitas pendidikan di sana menyita perhatian masyarakat.

Kabar itu kemudian sampai kepada pemerintah daerah. Angin segar pun mulai berembus ke sekolah terpencil tersebut. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kampar bergerak cepat dengan merencanakan pembangunan ruang belajar baru yang permanen dan lebih layak. Harapan yang selama ini seperti tertahan di balik dinding tripleks perlahan mulai menemukan titik terang.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya