Kehadiran pihak Pemkab Kampar bersama jajaran kepolisian yang turun langsung meninjau lokasi menjadi momen yang tidak biasa bagi Rohmawati. Ia mendampingi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Kadisdikpora) Kampar Helmi saat melakukan pengukuran lahan yang nantinya direncanakan menjadi lokasi pembangunan gedung baru.
Di tengah bangunan lama yang masih berdiri sederhana, aktivitas pengukuran lahan itu menjadi pemandangan yang membawa harapan baru. Setelah bertahun-tahun mengajar dalam kondisi serba terbatas, Rohmawati akhirnya melihat kemungkinan anak-anaknya belajar di ruang kelas yang lebih layak. “Alhamdulillah, saya sangat senang dan terharu. Pemkab Kampar cepat tanggap. Hari ini (Kamis, red) konsultan langsung mengukur lokasi, insya Allah pembangunan ruang belajar segera direalisasikan,” ujarnya penuh rasa syukur.
Bagi Rohmawati, pembangunan gedung baru bukan semata-mata soal perubahan fisik sekolah. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk menghidupkan kembali semangat masyarakat terhadap pendidikan. Bangunan yang layak, menurutnya, bisa menjadi daya tarik bagi para orang tua untuk kembali mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada sekolah tersebut. Dengan demikian, persoalan jumlah murid yang terus menurun diharapkan dapat perlahan teratasi.
“Kalau bangunan sekolah sudah bagus dan layak, anak-anak dari sekitar sini pasti akan kembali bersekolah di kelas jauh SDN 007 Sungai Agung,” tambahnya. Setelah bertahun-tahun melihat ruang belajar berdinding triplek, Rohmawati kini membayangkan suasana yang berbeda. Anak-anak bisa belajar dengan lebih nyaman. Para orang tua tidak lagi ragu menyekolahkan buah hati mereka. Dan sekolah yang sempat kehilangan banyak murid bisa kembali dipenuhi suara anak-anak.
Namun, di balik optimisme yang muncul setelah adanya rencana pembangunan tersebut, Rohmawati masih menyimpan satu harapan yang telah digantungkannya hampir seperempat abad. 22 tahun menjadi guru honorer di daerah terpencil bukanlah perjalanan singkat. Selama kurun waktu tersebut, ia tetap menjalankan tugas meski honorarium yang diterima jauh dari kata cukup.
Kehadiran pihak Pemkab Kampar bersama jajaran kepolisian yang turun langsung meninjau lokasi menjadi momen yang tidak biasa bagi Rohmawati. Ia mendampingi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Kadisdikpora) Kampar Helmi saat melakukan pengukuran lahan yang nantinya direncanakan menjadi lokasi pembangunan gedung baru.
Di tengah bangunan lama yang masih berdiri sederhana, aktivitas pengukuran lahan itu menjadi pemandangan yang membawa harapan baru. Setelah bertahun-tahun mengajar dalam kondisi serba terbatas, Rohmawati akhirnya melihat kemungkinan anak-anaknya belajar di ruang kelas yang lebih layak. “Alhamdulillah, saya sangat senang dan terharu. Pemkab Kampar cepat tanggap. Hari ini (Kamis, red) konsultan langsung mengukur lokasi, insya Allah pembangunan ruang belajar segera direalisasikan,” ujarnya penuh rasa syukur.
Bagi Rohmawati, pembangunan gedung baru bukan semata-mata soal perubahan fisik sekolah. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk menghidupkan kembali semangat masyarakat terhadap pendidikan. Bangunan yang layak, menurutnya, bisa menjadi daya tarik bagi para orang tua untuk kembali mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada sekolah tersebut. Dengan demikian, persoalan jumlah murid yang terus menurun diharapkan dapat perlahan teratasi.
“Kalau bangunan sekolah sudah bagus dan layak, anak-anak dari sekitar sini pasti akan kembali bersekolah di kelas jauh SDN 007 Sungai Agung,” tambahnya. Setelah bertahun-tahun melihat ruang belajar berdinding triplek, Rohmawati kini membayangkan suasana yang berbeda. Anak-anak bisa belajar dengan lebih nyaman. Para orang tua tidak lagi ragu menyekolahkan buah hati mereka. Dan sekolah yang sempat kehilangan banyak murid bisa kembali dipenuhi suara anak-anak.
Namun, di balik optimisme yang muncul setelah adanya rencana pembangunan tersebut, Rohmawati masih menyimpan satu harapan yang telah digantungkannya hampir seperempat abad. 22 tahun menjadi guru honorer di daerah terpencil bukanlah perjalanan singkat. Selama kurun waktu tersebut, ia tetap menjalankan tugas meski honorarium yang diterima jauh dari kata cukup.