“Kita harus bereskan kasus kusta dari Kota Jayapura. Ini bukan daerah pegunungan, ini di tengah kota, jadi harus bisa diselesaikan,” tegasnya.
Untuk kasus TB, Benjamin menyebut estimasi total kasus di enam provinsi di tanah Papua mencapai hampir 40.000 kasus. Khusus di Papua Pegunungan, terdapat sekitar 5.700 kasus, namun baru sekitar 42 persen yang terdeteksi dan mendapatkan pengobatan.
“Artinya masih ada 58 persen yang belum tertangani dan berpotensi menularkan ke masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya penanganan medis yang tepat, termasuk pemisahan pasien TB di fasilitas kesehatan untuk mencegah penularan lebih luas. “Jangan sampai pasien TB bercampur dengan pasien lain. TB harus dirawat di ruang isolasi,” tegasnya.
Sementara Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, menegaskan percepatan eliminasi penyakit menular seperti AIDS, tuberkulosis (TB), malaria, dan kusta di tanah Papua membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah pusat dan daerah.
Ia menyebut, kondisi geografis serta tantangan sosial di Papua membuat penanganan sektor kesehatan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui pendekatan komprehensif dan berkelanjutan. Fakhiri memaparkan, pada 2025 tercatat 11.624 kasus TB di Papua. Dari jumlah tersebut, baru 6.794 kasus atau sekitar 58 persen yang berhasil ditangani. “Ini menunjukkan bahwa penemuan kasus secara aktif, penguatan layanan kesehatan, dan kepatuhan pengobatan masih perlu ditingkatkan,” ujarnya.
Selain TB, ia juga menyoroti tingginya kasus malaria di Papua yang masih menyumbang sekitar 80 hingga 90 persen dari total kasus nasional. Dari lebih dari satu juta pemeriksaan, ditemukan 303.931 kasus positif.
Menurutnya, keberhasilan pengendalian malaria di tingkat nasional sangat ditentukan oleh penanganan di Papua. “Keberhasilan Indonesia dalam mengendalikan malaria sangat ditentukan oleh Papua. Karena itu, saya minta tidak ada data yang ditutupi,” tegasnya.