Kapendam juga meluruskan informasi yang berkembang di tengah masyarakat terkait status lokasi yang menjadi sasaran penyerangan. Ia menegaskan bahwa bangunan yang dibakar bukanlah pos milik TNI.
“Perlu kami tegaskan kembali, pos tersebut bukanlah pos TNI. Itu merupakan Pos Penjagaan atau Pos Pintu satu milik PT Kristalin Eka Lestari. Jadi bukan instalasi militer,” tegasnya.
Penegasan ini disampaikan untuk menghindari kesimpangsiuran opini publik yang menyebutkan adanya serangan langsung terhadap fasilitas militer di wilayah tersebut.
Terkait dugaan adanya korban dari unsur TNI, Purwanto menyatakan bahwa hingga saat ini hasil pengecekan personel di satuan kewilayahan jajaran Nabire menunjukkan seluruh anggota lengkap dan berada di tempat tugas masing-masing.
“Meskipun sudah ada klaim dari pihak keluarga tertentu, kami tetap mengedepankan prosedur pemeriksaan ilmiah. Kami tidak ingin mendahului hasil resmi dari rumah sakit dan kepolisian,” jelasnya.
Proses identifikasi dilakukan secara menyeluruh mengingat kondisi kedua jenazah yang ditemukan dalam keadaan terbakar cukup parah. Selain korban jiwa, muncul juga klaim dari pihak kelompok bersenjata yang menyebutkan adanya tiga pucuk senjata api yang dirampas dari lokasi kejadian. Menanggapi hal tersebut, TNI menyatakan masih melakukan investigasi.
Letkol Inf Tri Purwanto menjelaskan bahwa Pomdam XVII/Cenderawasih bersama unsur Intel Kodam saat ini tengah melakukan pemeriksaan menyeluruh terkait kemungkinan kerugian material. “Untuk dugaan senjata yang hilang, semuanya masih dalam proses investigasi. Kami belum bisa memastikan sebelum ada rilis resmi dari hasil pemeriksaan tim di lapangan,” ujarnya.
Dalam perkembangan lain, nama Serda Hamdani, anggota Denintel Kodam yang bertugas melakukan monitoring wilayah di Nabire, turut disebut dalam sejumlah pemberitaan. Tri Purwanto mengonfirmasi bahwa yang bersangkutan memang bertugas di wilayah tersebut. Namun, hingga saat ini keberadaan Serda Hamdani masih belum diketahui.
Kapendam juga meluruskan informasi yang berkembang di tengah masyarakat terkait status lokasi yang menjadi sasaran penyerangan. Ia menegaskan bahwa bangunan yang dibakar bukanlah pos milik TNI.
“Perlu kami tegaskan kembali, pos tersebut bukanlah pos TNI. Itu merupakan Pos Penjagaan atau Pos Pintu satu milik PT Kristalin Eka Lestari. Jadi bukan instalasi militer,” tegasnya.
Penegasan ini disampaikan untuk menghindari kesimpangsiuran opini publik yang menyebutkan adanya serangan langsung terhadap fasilitas militer di wilayah tersebut.
Terkait dugaan adanya korban dari unsur TNI, Purwanto menyatakan bahwa hingga saat ini hasil pengecekan personel di satuan kewilayahan jajaran Nabire menunjukkan seluruh anggota lengkap dan berada di tempat tugas masing-masing.
“Meskipun sudah ada klaim dari pihak keluarga tertentu, kami tetap mengedepankan prosedur pemeriksaan ilmiah. Kami tidak ingin mendahului hasil resmi dari rumah sakit dan kepolisian,” jelasnya.
Proses identifikasi dilakukan secara menyeluruh mengingat kondisi kedua jenazah yang ditemukan dalam keadaan terbakar cukup parah. Selain korban jiwa, muncul juga klaim dari pihak kelompok bersenjata yang menyebutkan adanya tiga pucuk senjata api yang dirampas dari lokasi kejadian. Menanggapi hal tersebut, TNI menyatakan masih melakukan investigasi.
Letkol Inf Tri Purwanto menjelaskan bahwa Pomdam XVII/Cenderawasih bersama unsur Intel Kodam saat ini tengah melakukan pemeriksaan menyeluruh terkait kemungkinan kerugian material. “Untuk dugaan senjata yang hilang, semuanya masih dalam proses investigasi. Kami belum bisa memastikan sebelum ada rilis resmi dari hasil pemeriksaan tim di lapangan,” ujarnya.
Dalam perkembangan lain, nama Serda Hamdani, anggota Denintel Kodam yang bertugas melakukan monitoring wilayah di Nabire, turut disebut dalam sejumlah pemberitaan. Tri Purwanto mengonfirmasi bahwa yang bersangkutan memang bertugas di wilayah tersebut. Namun, hingga saat ini keberadaan Serda Hamdani masih belum diketahui.