Sunday, April 6, 2025
24.7 C
Jayapura

Perjuangan TPN-OPM Makin Kabur, Yuranus Jikwa: Jangan Tembak Warga Sipil!

Pria  yang akrab disapa Agus Rawa Kogoya pun menghimbau kepada tokoh pejuang TPN-OPM dan organisasi pejuang lainnya yang ada di seluruh wilayah Kodap pertahanannya masing-masing, agar dalam melakukan perjuangan itu lebih manusiawi

“Harusnya lebih elegan, karena banyak cara yang bisa dilakukan untuk meraih cita-cita,” ujarnya.

Kata, Agus Kogoya,  seharusnya mereka tidak melakukan aksinya dengan cara yang keji atau tidak berperikemanusiaan.

Seharusnya mereka TPN-OPM tidak membunuh dan menembak orang sembarangan.

“TPN-OPM statusnya jelas dan medan perangnyapun harus jelas. TPN-OPM itu lawan perangnya juga jelas adalah TNI-POLRI bukan masyarakat sipil,” tuturnya.

Agus Kogoya menyampaikan, masyarakat sipil baik orang Papua maupun pendatang, sama sekali tidak boleh menjadi korban tembak.

Baca Juga :  DPRP Ingatkan Dokumen APBD Jangan Molor

Apalagi mereka ini berkerja hanya untuk mencari  makan, bukan malah menjadi sasaran tembak atau korban perang TPN-OPM.

“Saya ingin menegaskan kepada TPN-OPM  yang ada di wilayah La Pago dan Mee Pago agar berjuang itu dengan cara-cara yang benar,” bebernya.

Agus Kogoya meminta, agar TPN-OPM jangan melakukan penembakan terhadap masyarakat sipil, lalu membuat pernyataan di media yang tidak benar.

Demikian juga dengan juru bicara Sebby Sambom ketika berbicara pada media, selalu mengaku siap bertanggungjawab ketika korban perang adalah TNI-POLRI dan TPN-OPM.

Namun ketika warga sipil yang menjadi korban, Sebby Sambom selaku juru bicara TPN- OPM tidak pernah mau menyatakan bertangungjawab di media.

Baca Juga :  Emanuel Gobay: Semestinya Pendekatan Lebih Humanis

Seharusnya pernyataan Sebby Sambom  di media dilengkapi dengan data yang akurat bukan asal bicara dan menuding.

Karena jika menyampaikan tuduhan tanpa berikan bukti maka sulit untuk dipahami dan akan dinilai lebih kepada pembelaan diri.

Selain itu hanya untuk memperkaya perjuangan yang makin tidak jelas, karena lebih kepada motif ekonomi.

“Itu sebuah dosa besar dan pembohongan publik. Ketika TPN-OPM menembak masyarakat sipil dia Sebby Sambon selalu mengatakan bahwa itu Intelijen Indonesia atau Intelijen TNI-POLRI yang menjadi mata-mata,” sambung Agus Kogoya.

Pria  yang akrab disapa Agus Rawa Kogoya pun menghimbau kepada tokoh pejuang TPN-OPM dan organisasi pejuang lainnya yang ada di seluruh wilayah Kodap pertahanannya masing-masing, agar dalam melakukan perjuangan itu lebih manusiawi

“Harusnya lebih elegan, karena banyak cara yang bisa dilakukan untuk meraih cita-cita,” ujarnya.

Kata, Agus Kogoya,  seharusnya mereka tidak melakukan aksinya dengan cara yang keji atau tidak berperikemanusiaan.

Seharusnya mereka TPN-OPM tidak membunuh dan menembak orang sembarangan.

“TPN-OPM statusnya jelas dan medan perangnyapun harus jelas. TPN-OPM itu lawan perangnya juga jelas adalah TNI-POLRI bukan masyarakat sipil,” tuturnya.

Agus Kogoya menyampaikan, masyarakat sipil baik orang Papua maupun pendatang, sama sekali tidak boleh menjadi korban tembak.

Baca Juga :  Polisi Selalu Siap Bila KPK Butuh Bantuan

Apalagi mereka ini berkerja hanya untuk mencari  makan, bukan malah menjadi sasaran tembak atau korban perang TPN-OPM.

“Saya ingin menegaskan kepada TPN-OPM  yang ada di wilayah La Pago dan Mee Pago agar berjuang itu dengan cara-cara yang benar,” bebernya.

Agus Kogoya meminta, agar TPN-OPM jangan melakukan penembakan terhadap masyarakat sipil, lalu membuat pernyataan di media yang tidak benar.

Demikian juga dengan juru bicara Sebby Sambom ketika berbicara pada media, selalu mengaku siap bertanggungjawab ketika korban perang adalah TNI-POLRI dan TPN-OPM.

Namun ketika warga sipil yang menjadi korban, Sebby Sambom selaku juru bicara TPN- OPM tidak pernah mau menyatakan bertangungjawab di media.

Baca Juga :  Sempat Gigit Paha dan Pipi Korban Sebelum Memperkosa

Seharusnya pernyataan Sebby Sambom  di media dilengkapi dengan data yang akurat bukan asal bicara dan menuding.

Karena jika menyampaikan tuduhan tanpa berikan bukti maka sulit untuk dipahami dan akan dinilai lebih kepada pembelaan diri.

Selain itu hanya untuk memperkaya perjuangan yang makin tidak jelas, karena lebih kepada motif ekonomi.

“Itu sebuah dosa besar dan pembohongan publik. Ketika TPN-OPM menembak masyarakat sipil dia Sebby Sambon selalu mengatakan bahwa itu Intelijen Indonesia atau Intelijen TNI-POLRI yang menjadi mata-mata,” sambung Agus Kogoya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya