Benedicta Herlina mengakui jumlah pasien yang mengalami gangguan pernapasan cukup banyak. Berdasarkan data surveilans kesehatan yang dipantau setiap minggu, terdapat peningkatan kasus, meskipun belum tergolong signifikan. Kendati demikian, masyarakat diminta tetap waspada dan melakukan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla. Ia mengimbau masyarakat di wilayah terdampak agar mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak. Jika harus keluar rumah, warga disarankan menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap.
Selain itu, masyarakat diminta menjaga kecukupan cairan tubuh agar tidak mengalami dehidrasi serta memperbanyak konsumsi makanan yang mengandung vitamin dan mineral untuk menjaga daya tahan tubuh.
“Jika tidak terlalu penting, kami mengimbau masyarakat agar tetap beraktivitas di dalam rumah. Kalau harus keluar, gunakan masker. Pastikan kebutuhan cairan tubuh tercukupi dan perbanyak makanan yang mengandung vitamin serta mineral,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala gangguan pernapasan, terutama sesak napas, sehingga dapat segera memperoleh pemeriksaan dan penanganan medis. Ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tanah Papua memicu desakan agar pemerintah segera menetapkan status keadaan darurat bencana.
Ditambahkan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) bersama LBH Papua, LBH Papua Merauke, dan LBH Papua Pos Sorong juga meminta pembukaan hutan untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) Pangan dan Energi di Merauke dihentikan. Desakan itu disampaikan di tengah laporan ribuan titik api dan titik panas di Papua Selatan, meluasnya kabut asap, serta dampak kekeringan terhadap kehidupan masyarakat. YLBHI dan LBH se-Papua menilai pemerintah tidak cukup hanya menangani kebakaran, tetapi juga harus mengevaluasi kebijakan yang mereka anggap memperbesar kerentanan lingkungan.
Benedicta Herlina mengakui jumlah pasien yang mengalami gangguan pernapasan cukup banyak. Berdasarkan data surveilans kesehatan yang dipantau setiap minggu, terdapat peningkatan kasus, meskipun belum tergolong signifikan. Kendati demikian, masyarakat diminta tetap waspada dan melakukan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla. Ia mengimbau masyarakat di wilayah terdampak agar mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak. Jika harus keluar rumah, warga disarankan menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap.
Selain itu, masyarakat diminta menjaga kecukupan cairan tubuh agar tidak mengalami dehidrasi serta memperbanyak konsumsi makanan yang mengandung vitamin dan mineral untuk menjaga daya tahan tubuh.
“Jika tidak terlalu penting, kami mengimbau masyarakat agar tetap beraktivitas di dalam rumah. Kalau harus keluar, gunakan masker. Pastikan kebutuhan cairan tubuh tercukupi dan perbanyak makanan yang mengandung vitamin serta mineral,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala gangguan pernapasan, terutama sesak napas, sehingga dapat segera memperoleh pemeriksaan dan penanganan medis. Ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tanah Papua memicu desakan agar pemerintah segera menetapkan status keadaan darurat bencana.
Ditambahkan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) bersama LBH Papua, LBH Papua Merauke, dan LBH Papua Pos Sorong juga meminta pembukaan hutan untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) Pangan dan Energi di Merauke dihentikan. Desakan itu disampaikan di tengah laporan ribuan titik api dan titik panas di Papua Selatan, meluasnya kabut asap, serta dampak kekeringan terhadap kehidupan masyarakat. YLBHI dan LBH se-Papua menilai pemerintah tidak cukup hanya menangani kebakaran, tetapi juga harus mengevaluasi kebijakan yang mereka anggap memperbesar kerentanan lingkungan.