Putuskan Rantai Komsumsi Obat Kimia, Fokus Rehabilitasi Berbasis Minat Pasien 

Melihat Transformasi Pengelolaan Managemen RSJ Abepura yang Baru

Menjalankan managemen pelayanan kesehatan jiwa di tanah Papua bukanlah perkara mudah, terlebih di tengah pengetatan dan efisiensi anggaran yang membayangi sektor publik saat ini. Namun Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura berupaya melakukan transformasi dengan berbagai langkah strategis.

Laporan: Jimianus Karlodi_ Jayapura

Di balik benteng tembok Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura, Puluhan pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tampak tekun merawat tanaman dan membersihkan sudut-sudut halaman. Di tempat ini, setiap aktivitas sederhana bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari terapi Okupasi untuk merajut kembali kemandirian mereka.

   Di tengah kebijakan efisiensi dan ketatnya alokasi anggaran sektor publik belakangan ini, tantangan operasional rumah sakit tentu tak terelakkan. Namun bagi RSJ Abepura, keterbatasan dana sama sekali bukan alasan untuk berhenti bergerak, apalagi menurunkan kualitas pelayanan bagi para penyandang masalah kesehatan jiwa.

Baca Juga :  Dana Tak Cukup, RSUD Jayapura Minta Bantuan ke Pusat

  Pihak manajemen dan tenaga kesehatan justru menjadikan kondisi ini sebagai pemantik untuk terus maju dan berkembang. Fokus utama digeser pada inovasi pelayanan, optimalisasi sumber daya manusia, dan penguatan rehabilitasi psikososial yang menyentuh langsung kebutuhan dasar pasien.

   Kondisi ini sangat terasa ketika melihat suasana di lorong-lorong rumah sakit selalu dipenuhi oleh riuh helaan napas, langkah gontai, dan percakapan halus di antara para pengunjung yang datang dari berbagai sudut Tanah Papua.

  Setiap bulan, data administrasi mencatat ada sekitar 1.100 hingga 1.300 orang yang sabar mengantre sekadar untuk mengambil pasokan obat rutin demi menjaga kestabilan jiwa serta kejernihan pikiran mereka. Angka kunjungan yang melonjak tinggi ini terasa sangat kontras jika dibandingkan dengan jumlah pasien rawat inap yang berada jauh di bawahnya, yakni hanya di kisaran 20 hingga 30 orang saja.

Baca Juga :  KPU Komitmen Tingkatkan Transparansi dan Kepercayaan Publik

Melihat Transformasi Pengelolaan Managemen RSJ Abepura yang Baru

Menjalankan managemen pelayanan kesehatan jiwa di tanah Papua bukanlah perkara mudah, terlebih di tengah pengetatan dan efisiensi anggaran yang membayangi sektor publik saat ini. Namun Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura berupaya melakukan transformasi dengan berbagai langkah strategis.

Laporan: Jimianus Karlodi_ Jayapura

Di balik benteng tembok Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura, Puluhan pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tampak tekun merawat tanaman dan membersihkan sudut-sudut halaman. Di tempat ini, setiap aktivitas sederhana bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari terapi Okupasi untuk merajut kembali kemandirian mereka.

   Di tengah kebijakan efisiensi dan ketatnya alokasi anggaran sektor publik belakangan ini, tantangan operasional rumah sakit tentu tak terelakkan. Namun bagi RSJ Abepura, keterbatasan dana sama sekali bukan alasan untuk berhenti bergerak, apalagi menurunkan kualitas pelayanan bagi para penyandang masalah kesehatan jiwa.

Baca Juga :  Kini Paham Kapan Harus Keras, Kapan Harus Gunakan Hati

  Pihak manajemen dan tenaga kesehatan justru menjadikan kondisi ini sebagai pemantik untuk terus maju dan berkembang. Fokus utama digeser pada inovasi pelayanan, optimalisasi sumber daya manusia, dan penguatan rehabilitasi psikososial yang menyentuh langsung kebutuhan dasar pasien.

   Kondisi ini sangat terasa ketika melihat suasana di lorong-lorong rumah sakit selalu dipenuhi oleh riuh helaan napas, langkah gontai, dan percakapan halus di antara para pengunjung yang datang dari berbagai sudut Tanah Papua.

  Setiap bulan, data administrasi mencatat ada sekitar 1.100 hingga 1.300 orang yang sabar mengantre sekadar untuk mengambil pasokan obat rutin demi menjaga kestabilan jiwa serta kejernihan pikiran mereka. Angka kunjungan yang melonjak tinggi ini terasa sangat kontras jika dibandingkan dengan jumlah pasien rawat inap yang berada jauh di bawahnya, yakni hanya di kisaran 20 hingga 30 orang saja.

Baca Juga :  Berusaha Meminimalisir Kesalahan, Siap Bawa KPU Papua Jadi Barometer 

Berita Terbaru

Artikel Lainnya