Tolak PSN, AMPERA Geruduk Kantor Bupati Merauke

MERAUKE– Puluhan masyarakat Merauke yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa, Pemuda dan Rakyat Papua (AMPERA) Papua Selatan menggelar aksi damai ke kantor Bupati Merauke, Rabu (17/6). Aksi ini dimulai dengan berkumpul di Tugu Lingkaran Brawijaya (Libra) Merauke. Selanjutnya, sekira pukul 10.30 WIT, aksi demo tersebut bergerak dengan longmarch menuju Kantor Bupati Merauke dengan pengawalan dari Kepolisian Resort Merauke.

Dalam aksinya itu, pada pendemo membawa satu spanduk bertuliskan Tanah Papua Krisis Kemanusiaan, Stop PSN, Stop Militerisme, stop pembangunan PSN 135 Km yangh sedang digugat di PTUN Jayapua. Papua bukan tanah kosong karena ada manusianya, ada adat budayanya dan ada hutan dan alamnya. Ada juga sejumlah pamlet yang merupakan aspirasi dari AMPERA Papua Selatan tersebut. Diantara pamlet tersebut bertuliskan, tolak PSN, stop militerisasi di Papua, Jakarta Stop Rasis, Papua Darurat Meliter.,

Ada juga pamlet yang meminta Jakarta untuk memulangkan Mama Yasinta ke tanah airnya, Papua Selatan, Merauke. Namun sayangnya, saat sampai di halaman Kantor Bupati Merauke, para pendemo tersebut tidak menemui pejabat. Hanya diterima oleh Asisten III Setda Kabupaten Merauke.

Baca Juga :  Bantuan Sembako dari Jajaran Korem Tiba di Wanam 

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Sekretaris Daerah Kabupaten Merauke Yermias Paulus Ruben Ndiken menemui para pendemo tersebut. Namun dihadapan para pendemo tersebut, Sekda Yermias Ndiken mengaku tidak bisa mewakili bupati atas apa yang akan disampaikan oleh Aliansi Mahasiswa, Pemuda dna Rakyat Papua (AMPERA) Papua Selatan tersebut.

Sebab menurut Sekda Yermias Ndiken, secara pribadi, dirinya memangku 3 hal yaknbi pertama sebagai anak adat, kedua yang juga memiliki hak ulayat dan ketiga sebagai ASN. Sebagai ASN, jelas Yermias Paulus Ruben Ndiken hanya sebagai jabatan dan saat pensiun besok, status tersebut akan hilang. ‘’Tapi dua hal yakni sebagai anak adat dan sebagai bagian dari pemilik hak ulayat, status tersebut tidak akan hilang,’’ tandasnya.

Sekda Yermias Ndiken juga menegaskan bahwa sebagai anak adat dan sebagai bagian dari pemilik hak ulayat di Tanah Marind Merauke, sejak kecil, orang tuanya yang meskipun tidak sekolah tapi mengajarinya untuk menjaga alam.

‘’Jadi sejak kecil, saya di didik untuk menjaga hutan. Salah belajar bukan dari orang-orang yang berpendidikan tingi melainkan dari orang tua yang tidak pernah mengeyam Pendidikan formal. Mereka mengajarkan nilai-nilai kehidupan melalui pengalaman dan tradisi. Karena itu saya menyampaikan semuanya ini kepada kalian. Mungkin Bahasa saya sederhana tapi inilah yang saya pelajari dan pegang teguh,’’ pungkasnya.

Baca Juga :  Persewar Mulai Tancap Gas

Koordinator aksi, Fransiskan Gondro Mahuze saat menyampiakan orasinya salah satunya menyoroti tentang Mama Yasinta yang menjadi korban PSN sekaligus menurutnya sebagai korban cipta kondisi.

‘’Selain menjadi korban PSN karena hutan dan tanahnya dirampas dan diambil sepihak, juga menjadi korban cipta kondisi . Perjuangan digembosi dan seharusnya kita sadar dengan viralnya film pesta babi agar menyadarkan kita bahwa negeri di Papua ini tidak baik-baik saja. Manusia Papua saat ini tidak baik- baik saja,’’ katanya. Dibalik aksi demo itu, salah satu peserta aksi menuliskan di halaman kantor bupati Merauke tersebut dengan kalimat bupati Merauke boneka Jakarta. (ulo/ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

MERAUKE– Puluhan masyarakat Merauke yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa, Pemuda dan Rakyat Papua (AMPERA) Papua Selatan menggelar aksi damai ke kantor Bupati Merauke, Rabu (17/6). Aksi ini dimulai dengan berkumpul di Tugu Lingkaran Brawijaya (Libra) Merauke. Selanjutnya, sekira pukul 10.30 WIT, aksi demo tersebut bergerak dengan longmarch menuju Kantor Bupati Merauke dengan pengawalan dari Kepolisian Resort Merauke.

Dalam aksinya itu, pada pendemo membawa satu spanduk bertuliskan Tanah Papua Krisis Kemanusiaan, Stop PSN, Stop Militerisme, stop pembangunan PSN 135 Km yangh sedang digugat di PTUN Jayapua. Papua bukan tanah kosong karena ada manusianya, ada adat budayanya dan ada hutan dan alamnya. Ada juga sejumlah pamlet yang merupakan aspirasi dari AMPERA Papua Selatan tersebut. Diantara pamlet tersebut bertuliskan, tolak PSN, stop militerisasi di Papua, Jakarta Stop Rasis, Papua Darurat Meliter.,

Ada juga pamlet yang meminta Jakarta untuk memulangkan Mama Yasinta ke tanah airnya, Papua Selatan, Merauke. Namun sayangnya, saat sampai di halaman Kantor Bupati Merauke, para pendemo tersebut tidak menemui pejabat. Hanya diterima oleh Asisten III Setda Kabupaten Merauke.

Baca Juga :  Bantuan Sembako dari Jajaran Korem Tiba di Wanam 

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Sekretaris Daerah Kabupaten Merauke Yermias Paulus Ruben Ndiken menemui para pendemo tersebut. Namun dihadapan para pendemo tersebut, Sekda Yermias Ndiken mengaku tidak bisa mewakili bupati atas apa yang akan disampaikan oleh Aliansi Mahasiswa, Pemuda dna Rakyat Papua (AMPERA) Papua Selatan tersebut.

Sebab menurut Sekda Yermias Ndiken, secara pribadi, dirinya memangku 3 hal yaknbi pertama sebagai anak adat, kedua yang juga memiliki hak ulayat dan ketiga sebagai ASN. Sebagai ASN, jelas Yermias Paulus Ruben Ndiken hanya sebagai jabatan dan saat pensiun besok, status tersebut akan hilang. ‘’Tapi dua hal yakni sebagai anak adat dan sebagai bagian dari pemilik hak ulayat, status tersebut tidak akan hilang,’’ tandasnya.

Sekda Yermias Ndiken juga menegaskan bahwa sebagai anak adat dan sebagai bagian dari pemilik hak ulayat di Tanah Marind Merauke, sejak kecil, orang tuanya yang meskipun tidak sekolah tapi mengajarinya untuk menjaga alam.

‘’Jadi sejak kecil, saya di didik untuk menjaga hutan. Salah belajar bukan dari orang-orang yang berpendidikan tingi melainkan dari orang tua yang tidak pernah mengeyam Pendidikan formal. Mereka mengajarkan nilai-nilai kehidupan melalui pengalaman dan tradisi. Karena itu saya menyampaikan semuanya ini kepada kalian. Mungkin Bahasa saya sederhana tapi inilah yang saya pelajari dan pegang teguh,’’ pungkasnya.

Baca Juga :  Golkar Nilai Pembentukan Papua Utara Belum Waktunya

Koordinator aksi, Fransiskan Gondro Mahuze saat menyampiakan orasinya salah satunya menyoroti tentang Mama Yasinta yang menjadi korban PSN sekaligus menurutnya sebagai korban cipta kondisi.

‘’Selain menjadi korban PSN karena hutan dan tanahnya dirampas dan diambil sepihak, juga menjadi korban cipta kondisi . Perjuangan digembosi dan seharusnya kita sadar dengan viralnya film pesta babi agar menyadarkan kita bahwa negeri di Papua ini tidak baik-baik saja. Manusia Papua saat ini tidak baik- baik saja,’’ katanya. Dibalik aksi demo itu, salah satu peserta aksi menuliskan di halaman kantor bupati Merauke tersebut dengan kalimat bupati Merauke boneka Jakarta. (ulo/ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya